Agu 062017
 

PRESIDEN MINTA GANJA DIGANTI NILAM

 

 

Presiden Soeharto mengatakan, salah satu cara memusnahkan tanaman ganja di propinsi Aceh adalah dengan meningkatkan pembinaan minyak nilam. Hal ini sekaligus juga akan meningkatkan pendapatan para petani.

Menteri Perindustrian Hartarto mengatakan hal ini seusai melapor pada Kepala Negara di kediaman Jl. Cendana No. 8 Jakarta, Sabtu, tentang rencana kunjungannya keAceh dengan Menmud Tanaman Keras Hasjrul Harahap dalam waktu dekat.

Minyak nilam menurut Hartarto merupakan salah satu jenis dari komoditi minyak atsiri yang mempunyai keunggulan komparatif untuk dikembangkan sebagai komoditi ekspor baik ke negara AS, Eropa Barat, Jepang maupun negara lainnya.

Jenis lain dari komoditi minyak atsiri ini adalah minyak kenanga dan akar wangi (Jabar), minyak cengkeh (Jateng), minyak sereh dan kayu putih (Ambon) yang nilai ekspornya tahun lalu mencapai 34 juta dolar.

Khusus minyak nilam asal Aceh, nilai ekspornya tahun 1985 mencapai 9 juta dolar. “Minyak ini sangat disukai masyarakat dunia karena berfungsi sebagai pengikat parfum (supaya wanginya awet, Red),” kata Hartarto.

Pengembangan minyak nilam di Aceh, menurut Menteri memiliki dua problem, yakni pola tanamnya selalu berpindah dan kwalitasnya tidak pernah konstan. Untuk memecahkan dua problem ini, pemerintah lalu melibatkan PT. Pupuk Iskandar Muda. Kepada para petani minyak nilam kemudian diberikan peralatan yang sudah dirancang secara baik dengan harga yang terjangkau oleh petani.

Dari kebijaksanaan ini sekarang telah menunjukkan hasil yang baik. “Yang pasti, mutunya bisa baik dan stabil, sedang pola tanamnya kini menetap, tidak berpindah-pindah,” katanya.

Saat ini Indonesia menjadi pensuplai terbesar minyak nilam, yakni 60 persen dari kebutuhan dunia. Di pasaran internasional harga minyak nilam mencapai 24.000 dolar/kg, sedang minyak sereh 4.000 dolar/kg.

Sementara, menurut Karo Humas Departemen Perindustrian, Sucipto Umar, minyak nilam dalam negeri diproduksi di tiga tempat, yakni Aceh (terbesar), Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Dari dua yang ada di Departemen Perindustrian, selama tahun 1984, nilai produksi untuk wilayah Aceh sebesar Rp 13,8 milyar, Sumbar Rp 1,6 milyar dan Sumut Rp 5,39 milyar.

Pencapaian produksi tanaman nilam, baik produksi daun maupun minyaknya menurut Sucipto masih tetap dipengaruhi oleh kemampuan daya serap pasar dunia. Saat ini daya serap pasar dunia mencapai 900-1000 ton per tahun.

Sasaran luas tanaman nilam, khususnya di Aceh Utara akan diintensifkan di 14 Kecamatan. Pada tahun 1986, luas areal petani yang akan dicapai adalah 750 hektar, produksi daun 6.750 ton dan produksi minyak 225 ton, melibatkan 1.500 petani.

Tahun 1987 diharapkan luas areal dapat meningkat hingga 1.500 hektar dan produksi daun 13.500 ton, sedang produksi minyak 405 ton dengan jumlah tenaga kerja 3.000 orang.

Tahun 1988 dan 1989luas areal akan ditingkatkan lagi masing-masing sampai 2.500 hektar dan 3.500 hektar. Sedang produksi daunnya 22.500 ton. Sementara produksi minyaknya 675 dan 945 ton. (RA).

 

 

Jakarta, Merdeka

Sumber : MERDEKA (19/05/1986)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 682-683.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: