Agu 072017
 

PRESIDEN LEGA PLTA SAGULING BISA SELESAI SESUAI RENCANA

 

Begitu Presiden Soeharto menekan tombol yang terletak disalah satu ruang gedung utama pembangkit, berputarlah turbin ke empat dan PLTA Saguling secara resmi beroperasi penuh dengan kapasitas 700 M (Pusat Listrik Tenaga Air) saguling (30 km sebelah barat Bandung) suatu pembangkit tenaga air terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini.

“Kita merasa lega karena akhirnya proyek besar ini dapat diselesaikan sesuai dengan rencana, sekalipun tidak sedikit hambatan dan rintangan yang harus diatasi,” demikian dikatakan Kepala Negara dalam amanatnya pada peresmian PLTA, di halaman gedung pengendali bendungan Saguling, Kamis kemarin. Gedung pengendali itu terletak 12 Km dari gedung utama pembangkit.

Penyelesaian proyek itu diharapkan oleh Presiden akan menyadarkan seluruh rakyat bahwa pekerjaan besar harus disertai dengan kerja keras, tekad dan keuletan untuk memerangi segala rintangan.

Bahagia

Proyek itu dinilainya sangat membahagiakan, karena berhasil diselesaikan justru pada saat keadaan ekonomi mengalami ujian berat.

Prestasi ini memberi kepercayaan diri bahwa bangsa Indonesia tetap memiliki daya tahan dalam mengatasi segala kesulitan.

Presiden yakin bahwa proyek itu akan memberikan sumbangan yang besar bagi pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor industri, penerangan, perhubungan dan pendidikan.

Proses pelaksanaan pekerjaan dapat diambil hikmatnya oleh para ahli Indonesia. kehadiran kontraktor dan konsultan asing diharapkan dapat dimanfaatkan untuk belajar pada saatnya nanti, para ahli Indonesia dapat mengambil kedudukan mereka bahkan kontraktor dan konsultan Indonesia nanti mampu bersaing dalam forum internasional.

Pada kesempatan itu, Presiden mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang ikut serta dalam proses pembangunan proyek khususnya Listrik Negara melaporkan, Bank Dunia, pemerintah Jepang dan para kontraktor dan konsultan. Secara khusus Biaya yang diperlukan 678,2 pula Presiden berterima kasih kepada semua warga Saguling yang telah bersedia berkorban merelakan sawah dan ladangnya untuk pembangunan PLTA.

Diversifikasi

Menteri Pertambangan dan energi Prof. Dr. Soebroto dalam laporannya mengetengahkan bahwa proyek itu merupakan salah satu upaya melaksanakan diversifikasi tenaga, khususnya tenaga yang dapat diperbarui.

Ia menjelaskan tenaga sebesar 700 MW atau 2,1 milyar KWH per tahun yang dihasilkannya setara dengan 4,3 juta barrel BBM.

Ia juga mengemukakan saat ini tengah dibangun PLTA Cirata dengan kapasitas 500 MW. PLTA Mrica (Jawa Tengah) 184 MW Sempur (Jawa Timur) 209 MW, Tanggari (Sulawesi Utara) 17 MW dan Bakaru (Sulawesi selatan) 126 MW.

Ir. Sardjono Dirut Perum Listrik Negara melaporkan pembangunan proyek dirintis sejak 1979 dan dimulai 1981 Biaya yang diperlukan 678,2 juta dollar lebih.

Ketika berada di gedung pembangkit 1istrik Presiden kepada karyawan agar mengelola proyek sebaik baiknya dengan semangat melu handarbeni (ikut memiliki).

Bagi bangsa Indonesia proyek itu sangat berharga Biaya yang dikeluarkan sebesar hampir 700 juta dollar AS merupakan dana yang tidak kecil, lebih-­lebih pada saat bangsa Indonesia mengalami kesulitan ekonomi. (RA).

 

 

Jakarta, Suara Karya

Sumber : SUARA KARYA (25/07/1986)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 696-698.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: