PRESIDEN LANTIK 8 DUBES RI

PRESIDEN LANTIK 8 DUBES RI

 

 

Presiden Soeharto menegaskan politik luar negeri kita adalah politik perdamaian, kerja sama dan pembangunan. Karena itu tidak pernah terlintas dalam pikiran kita untuk menjajah wilayah negara lain. Juga tidak pernah terbayang oleh kita untuk mengganggu negara lain.

Kepala Negara menandaskan hal itu pada pidato pelantikan delapan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia Rabu pagi di Istana Negara.

Presiden pun menambahkan, kita tidak pernah menyusun kekuatan untuk tujuan-tujuan seperti itu. Jika kita merasa perlu memiliki angkatan bersenjata yang kuat, maka hal itu adalah wajar dan merupakan tanggung jawab untuk memelihara martabat kita sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat”.

“Telah berulangkali saya tegaskan, bahwa andalan dalam mempertahankan kemerdekaan nasional dan keutuhan bangsa adalah ketahanan nasional”, kata Presiden. Ketahanan nasional ini secara terpadu kita kembangkan terus­-menerus dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan.

Jika dalam kurun waktu ini kita memusatkan perhatian pada pembangunan ekonomi maka di samping itu merupakan satu-satunya jalan untuk tiba pada kemajuan, kesejahteraan dan keadilan seluruh masyarakat kita, pembangunan ekonomi itu merupakan bagian dari usaha kita untuk terus memperkuat ketahanan nasional tadi.

Karena, menurut Kepala Negara, pembangunan yang berhasil sekaligus memperkuat ketahanan nasional, merupakan kekuatan yang memberi dukungan makin besar bagi pelaksanaan politik luar negeri kita.

Para Dubes

Duta-duta besar luar biasa dan berkuasa penuh itu masing-masing adalah Laksamana Muda (Purn) Haryono Nimpuno untuk Kerajaan Spanyol menggantikan Leon Sumantri, Mayjen (Purn) Bagus Sumitro untuk Papua Nugini (PNG) mengganti kan Brigjen (Purn) Imam Soepomo, Atmono Suryo MA untuk Kerajaan Belgia dan Kehartapatihan (setingkat di bawah kerajaan) Luxemburg merangkap Kepala Perwakilan RI untuk Komisi Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) menggantikan Gusti Rusli Noor MA serta R. Achmad Djumiril untuk Republik Arab Mesir merangkap dubes untuk Republik Djibouti, Republik Demokrasi Somalia serta Republik Demokrasi Sudan.

Dubes lainnya adalah Raffly Rasad, SH untuk Republik Sosialis Cekoslowakia menggantikan Zahar Arifin, SH, Abdullah Alwi Murthado untuk Republik Demokrasi Irak menggantikan Abdurrachman Gunadirdja, Sajid Basoeki Sastrohartojo untuk Republik Rakyat Bulgaria menggantikan Akosah serta Pongky Soepardjo untuk Finlandia menggantikan Mas Soerjadi Kromodihardjo.

Jabatan Ulangan

Empat di antara mereka yang baru dilantik ini, adalah sebagai jabatan ulangan. Haryono Nimpuno pada tahun 1979-83 dubes untuk Republik Austria merangkap Kepala Perwakilan Tetap RI untuk PBB di Wina.

Kedua, Atmono Suryo dilantik untuk menempati pos yang pernah dijabatnya pada tahun 1976-78. Dua tahun berikutnya ia dipindahkan menjadi Kepala Perwakilan Tetap RI untuk PBB di Jenewa.

Ketiga, R. Achmad Djumiril sebelum menjadi Dirjen Protokol dan Konsuler Deplu, pernah menjabat duta besar untuk Kerajaan Swedia sekalipun hanya dari bulan Mei – Oktober 1979. Sedangkan Sajid Basoeki Sastrohartojo pada tahun 1979 sampai 1983 pernah menjabat dubes untuk Republik Rakyat Bangladesh.

Kepada para duta besar yang akan menempati posnya masing-masing itu, Presiden Soeharto secara khusus meminta agar berusaha sekuat tenaga untuk ikut mendorong aliran modal ke Indonesia dan meningkatkan ekspor non migas ke negara di mana mereka ditugaskan.

Sebelumnya Presiden Soeharto menguraikan politik luar negeri Indonesia yaitu politik luar negeri yang bebas dan aktif seperti yang telah menjadi garis sejak kemerdekaan kita tahun 1945.

Dikatakan, politik luar negeri kita itu bebas karena kita ingin mempunyai pandangan dan sikap sendiri terhadap masalah-masalah dunia. Kita tidak ingin serta merta memihak salah satu kekuatan yang manapun di dunia, lebih-lebih pada kekuatan-kekuatan besar dunia yang saling berhadap-hadapan.

Dengan sikap seperti itu kita dapat melaksanakan dengan penuh kesadaran pembukaan Undang-undang Dasar 1945, agar kita aktif ikut mewujudkan dunia yang tertib berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Riwayat Singkat

Laksamana Muda (Purn) Haryono Nimpuno dilahirkan di Madiun 29 Nopember 1921, terakhir menjabat Inspektur Jenderal Deplu. Ia mengakhiri karir di Angkatan Laut tahun 1970. Dari tahun itu juga sampai 1978 menjabat Direktur Jenderal Perhubungan Laut. Pada tahun 1979-1983 menjadi dubes di Wina. Haryono Nimpuno mempunyai empat anak dan memiliki 16 bintang jasa.

Bagus Sumitro mengakhiri karir militemya pada jabatan Komandan Sekolah Staf Komando AD dengan pangkat mayor jenderal. Ia dilahirkan di Wlingi, 28 Nopember 1927 mempunyai lima anak dan 12 tanda jasa. Bagus pernah menjadi Atase Militer RI di Pakistan (1971-74) dan Pangdam XV Pattimura (1978-81).

Atmono Suryo MA, seorang diplomat karir, pernah ditempatkan di New York, Meksiko, London, Jenewa dan Washington dilahirkan di Pekalongan, 18 Nopember 1925.

Sebelum menjabat Direktur Jenderal Hubungan Ekonomi Luar Negeri (1983 sampai sekarang) ia pernah menjabat Dirjen Sekretariat Nasional ASEAN. Selama 1976-1980, dua tahun pertama ia menjabat dubes di Brussels dan dua tahun berikutnya di Jenewa.

R Achmad Djumiril terakhir menjabat Dirjen Protokol dan Kpnsuler Deplu, lahir di Bogor, 23 Nopember 1923, dan mempunyai empat anak.

Ia seorang diplomat karir yang pernah di tempatkan di Kairo, Lisabon, Berlin Barat (konsul), Manila (wakil dubes) dan di Swedia, sebagai duta besar sebelum diangkat menjadi Dirjen April 1982. Ia memiliki tanda jasa antara lain dari Swedia, dari Yugoslavia dan dari Jerman Barat.

Raffly Rasad SH menempa karirnya di Depkeh sebagai hakim, lahir di Padang, 21 Desember 1927 dan mempunyai dua anak. Ia menjadi hakim Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) ketika mengadili Nyono dan eks Mayor Udara Suyono. Jabatan terakhir Panitera/Sekjen Mahkamah Agung (1980-1985).

Abdullah Alwi Murthado dilahirkan di Singosari Malang, 13 Oktober 1937, dan mempunyai tiga anak. Diplomat karir yang baru sekali mendapat penugasan di luar negeri sebagai Kepala Bidang Politik pada kedubes di Kuwait, terakhir sebagai Kabag Tata Usaha Direktorat Jasekon Deplu.

Sajid Basoeki Sastrohartojo, lahir di Solo, 6 Pebruari 1924 mempunyai tiga anak dengan jabatan terakhir dalam karirnya diplomat ketika menjadi duta besar untuk Bangladesh (1979-1982). Ia sebelumnya di tempatkan di Singapura, Irak, Suriname dan Perancis.

Pongky Soepardjo, bekas Dirjen Perla menggantikan Haryono Nimpuno (1978-1984) terakhir pembantu Menteri Perhubungan, dilahirkan di Purwokerto, 31 Oktober 1927 mempunyai empat anak. (RA)

 

 

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber : SINAR HARAPAN (18/06/1986)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 413-416.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: