Jan 012016
 

PRESIDEN LANTIK 4 DUBES: PERDAMAIAN & PEMBANGUNAN HARUS JADI WAJAH KEMBAR [1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto rnenyatakan bahwa kalau rnanusia ingin selamat dan bahagia maka perdamaian dan pernbangunan harus menjadi wajah kembar. Dikemukakan, bahwa dunia tidak cukup hanya bebas dari ketakutan terhadap perang karena ratusan juta umat manusia ingin bebas dari ketakutan atas nasibnya di hari ini dan hari esok.

Ketakutan ini bersumber pada keterbelakangan dan kemiskinan yang masih membelenggu geraknya untuk menikmati kesejahteraan dan kemajuan.

Kepala Negara mengemukakan hal2 tersebut dalam pidatonya ketika melantik empat orang Duta Besar dan Berkuasa Penuh RI hari Sabtu di Istana Negara.

Keempat Dubes tersebut masing2 Sugih Arto untuk India, Abdul Habir untuk Afghanistan, Ilyas Hamzah untuk Hongaria dan Supamo Soerja Atmadja untuk Burma.

Presiden mengemukakan bahwa segala langkah perlu diarahkan pada tujuan yang sama ialah memperkuat perdamaian dan meningkatkan pembangunan bangsa yang lebih merata. Usaha memperkokoh perdamaian itu hanya akan mempunyai makna bagi manusia dan kemanusiaan bila dibarengi dengan perjoangan baru memerangi keterbelakangan dan kemiskinan.

Hal ini merupakan perjoangan yang sangat besar dimana semua bangsa hams bekerja sama dengan saling menghargai tanpa mencampuri urusan rumah tangga yang lain dan terlepas dari perbedaan ideologi, sistim sosial maupun tingkat kemajuan.

Memperkokoh

Kepala Negara lebih lanjut mengatakan bahwa tujuan kerjasama harus diberi makna yang dalam dan dapat memperkokoh tata hubungan dunia yang baru itu. Ketjasama hams membuat semua bangsa mampu berdiri sendiri dan dihormati hak2 mutlaknya untuk membangun masyarakat menurut jalan dan cita2 mereka sendiri. Semangat dan arah demikian yang ditegaskan Kepala Negara itu harus menjadi tujuan dari hubungan perdagangan dan bantuan antar negara.

Tanpa itu dunia akan tetap terbelah antara negara2 kaya dan miskin. Antara negara2 pemberi bantuan dan penerima bantuan, antara negara2 kuat dan negara2 lemah. “Kepincangan seperti itu tidak pemah akan membuat dunia ini tenteram,” kata Kepala Negara.

Kepala Negara juga menjelaskan bahwa demikian juga menjelaskan bahwa demikian pandangan pokok Indonesia mengenai tata hubungan dunia, yang sepantasnya kita bangun. Tetapi kita tidak boleh hanya mengemukakan pandangan dan menunggu-nunggu saja, melainkan apa yang kita kerjakan di negeri sendiri. Karena kita giat membangun dan hams makin giat membangun.

Kejar Cita2 Nasional

Menurut Kepala Negara dengan pembangunan kita kejar cita2 nasional kita yaitu kemajuan, kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh bangsa. Setiap kemarnpuan yang ada walaupun masih terbatas kita kerahkan untuk sarana pembangunan. Kita juga membuka pintu untuk kerja sama dengan negara2 luar.

Khususnya dibidang ekonomi, untuk menambah kemampuan dan mempercepat pelaksanaan pembangunan. Bila pembangunan yang kita yakin berhasil itu tercapai, kita akan dapat menjadi bangsa yang kokoh berdiri di atas kemampuan sendiri, dan kemudian dapat memberi sumbangan yang lebih berarti terhadap perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia.

Hal itu merupakan arah dan landasan politik luar negeri Indonesia yang oleh duta2 besar baru harus dipegang teguh.

Bukan Tugas Rutin

Kepala Negara mengatakan pula, bahwa seringnya pelantikan Dubes diadakan dapat memberikan kesan seakan-akan tugas seorang Dubes merupakan tugas rutin. Kepala Negara menyalahkan anggapan demikian, sebab seorang Dubes yang menjalankan tugasnya secara rutin saja terang akan gagal.

Seorang Dubes harus menjalankan tugasnya dengan penuh dinamika lebih2 karena dunia kita sekarang ini juga sedang bergerak dengan penuh dinamika.

Dinamika itu memberi harapan tetapi juga menimbulkan kecemasan, yakni karena kecamuknya ketegangan dan bahkan peperangan yang masih berlangsung dibeberapa bagian dunia ini. Demikian Kepala Negara. (DTS)

SUMBER: SUARA KARYA (29/07/1974)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 441-443.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: