Mar 312017
 

PRESIDEN: KESEHATAN RAKYAT MENINGKAT BIAYA RSAB ‘HARAPAN KITA’ RP. 10,5 MILYAR

Presiden Soeharto Sabtu petang meresmikan Rumah Sakit Anak dan Bersalin "Harapan Kita" yang dibangun oleh Yayasan Harapan Kita, dalam upacara meriah di halaman rumah sakit tersebut, di Jalan Jenderal S. Parman No.88 Jakarta.

Upacara yang dimulai pukul 16.30 dihadiri oleh beberapa Menteri Kabinet Pembangunan, pejabat-pejabat lembaga tinggi negara, dan anggota korps diplomatik negara sahabat.

Wakil Presiden Adam Malim bersama Nyonya Nelly Adam Malik yang datang 10 menit menjelang acara dimulai, disambut oleh barisan Bhinneka Tunggal Ika yang terdiri gadis-gadis berpakaian adat, diiringi nyanyian-nyanyian yang dibawakan oleh putri-putri pimpinan Pranajaya.

Barisan Bhinneka Tunggal Ika yang berbaris memanjang, sepuluh menit kemudian menyambut kedatangan Presiden Soeharto bersama nyonya Tien Soeharto persis menjelang upacara dimulai.

Masih banyak kursi yang belum terisi ketika upacara diawali dengan pembacaan Pancasila oleh seorang gadis anggota Pramuka.

Selesai pembacaan Pancasila, pembawa acara yang antara lain terdiri penyiar TVRI Anita Rachmat dan Maryati, mempersilahkan ketua panitya Probosutedjo mengucapkan sepatah kata. Berturut-turut kemudian pelaksana proyek Ibnu Widoyo, Menteri Kesehatan Soewardjono Soeryaningrat, dan Nyonya Tien Soeharto selaku Ketua Yayasan Harapan Kita.

Puncak acara berupa pemukulan kendi oleh Presiden Soeharto sebagai tanda peresmian rumah sakit tersebut. Begitu kendi dipukul, terdengar suara tangisan bayi yang nyaring, sehingga mengejutkan tamu-tamu yang hadir. Tapi toh kemudian terdengar tepuk tangan riuh.

Tiada Taranya

Rumah sakit yang dibangun dengan sekitar Rp. 10,5 milyar oleh Yayasan Harapan Kita, diserahkan kepada negara. Namun pengelolaan dan pengembangan selanjutnya seperti dikatakan oleh Presiden Soeharto dalam sambutannya, diserahkan kepada yayasan tersebut dengan bantuan pemerintah.

Luas gedung keseluruhan 38.645 meter persegi dibangun diatas tanah seluas 87.850 meter persegi. Gedung induk rumah sakit terdiri dua bagian, bagian depan yang berupa gedung bertingkat empat, antara lain untuk apotik, poliklinik anak, poliklinik ibu dan sebagainya. Sedang bagian belakang yang hanya satu tingkat antara lain untuk pertolongan penderita darurat, sarana penunjang radiologi, operasi kecil dan fisioterapi.

Sampai sekarang sudah tersedia 600 tempat tidur, dilengkapi pula dengan ruangan VIP yang mewah dan lengkap. Tarif pengobatannya disesuaikan dan mengikuti tarif plafon yang telah ditentukan oleh pemerintah DKI. Dan penyediaan ruangan VIP yang mewah dan lengkap itu, agar wajar memperoleh imbalan biaya yang sangat tinggi dari orang yang mampu.

Pengelola rumah sakit ini dilengkapi dengan Dewan Penyantun yang diketuai Yayasan Harapan Kita, dengan anggota Menteri Kesehatan, Menteri P dan K, Menteri Riset dan gubemur DKI Jakarta.

Direktur RSAB "Harapan Kita", Dokter Herman Soesilo MPH mengatakan bahwa ditinjau darijenisnya, rumah sakit itu merupakan perpaduan antara rumah sakit anak dan rumah sakit bersalin, merupakan rumah sakit yang unik dan satu-satunya baik di Indonesia maupun di dunia internasional.

Angka Kematian

Presiden Soeharto dalam sambutannya mengatakan, tingkat kesehatan masyarakat yang tinggi merupakan salah satu "ukuran" dari tingkat kesejahteraannya.

"Sekarang kita merasa lega, sebab sejak kita melaksanakan Repelita I sampai awal Repelita III sekarang, tingkat kematian menurut, rata-rata usia orang Indonesia lebih panjang, rata-rata tinggi remaja-remaja kita makin naik," kata Presiden Soeharto. menurutnya, kesadaran kesehatan masyarakat juga bertambah.

Hal ini jelas tampak banyaknya orang yang berobat ke rumah sakit, ke Puskesmas dan dokter swasta, Apotik juga bermunculan di mana-mana, kesehatan masyarakat ini tidak saja di kota­kota besar tapi dikota kecil dan desa-desa. (DTS)

Jakarta, Merdeka

Sumber: MERDEKA (24/12/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 519-520.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: