PRESIDEN : JIWA DAN SEMANGAT PEJUANG TETAP DIPERLUKAN SEPANJANG ZAMAN

PRESIDEN : JIWA DAN SEMANGAT PEJUANG TETAP DIPERLUKAN SEPANJANG ZAMAN[1]

 

Yogyakarta, Suara Karya

“Masalah tantangan dan jawban bangsa Indonesia dalam masa Perang Kemerdekaan dan  Revolusi dahulu memang berlainan dengan masalah, tantangan dan jawaban dalam zaman pembangunan sekarang ini. Jika dahulu medan juang adalah pertempuran melawan musuh, maka sekarang medan juang adalah pembangunan untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama. Ada satu hal yang sama sekali tidak boleh berubah, ialah jiwa dan semangat kita sebagai pejuang.” Demikian antara lain sambutan tertulis Presiden Soeharto yang dibacakan Ketua Umum Paguyuban “Wehrkreise III” Jenderal TNI (Purn) Soesilo Soedarman, pada Musyawarah Kerja dan Hari Ulang Tahun ke-48 “Wehrkreise III” Yogyakarta, di Hotel Natour Garuda Yogyakarta, Senin (30/ 12).

Presiden Soeharto menegaskan, jiwa dan semangat pejuang itu tetap diperlukan sepanjang zaman, karena pembangunan bangsa Indonesia juga memerlukan sikap kepahlawanan dan kegigihan pejuang. Yang juga tidak kalah penting adalah dengan memelihara dan mempertebal semangat sebagai pejuang, berarti terus menerus menjaga agar arah pembangunan tetap menuju pada cita-cita kemerdekaan dahulu, terbentuknya masyarakat Pancasila. Semangat juang yang demikian tadi perlu dipelihara, disuburkan di tengah-tengah masyarakat kita dan diteruskan kepada generasi-generasi selanjutnya.

Musyawarah Ketua Paguyuban “Wehrkreise III” diikuti para anggota mewakili Cabang dari Jawa Timur, Sulawesi, Jawa Tengah, Bandung, Jakarta dan Yogyakarta. Musyawarah yang dibuka Ketua Umum Paguyuban “Wehrkreise III” Menko Polkam Jenderal-TNI (Purn) Soesilo Soedarman, berlangsung sehari dan membicarakan hal­ hal yang berhubungan dengan organisasi, pembinaan, peningkatan kesejahteraan warga dan penerusan nilai-nilai kejuangan. Pada acara pembukaan musyawarah, Soesilo Soedarman menyerahkan Piagam penghargaan kepada beberapa rumah sakit yang telah berjasa membantu dan merawat para pejuang yang luka dalam perjuangan, antara lain RS Bethesda di Kotamadya Yogyakarta dan RS Boro di Kulonprogo.

Didampingi General Manager Hotel Natour Garuda Putu Darma Suta, Soesilo Soedarman menandatangani Prasasti Panglima Besar Jenderal Soedirman di Hotel Natour Garuda. Menurut Ketua I Paguyuban “Wehrkreise III” Wiyogo Atmodarminto, pada tahun 1945 hingga awal 1946 Hotel Garuda yang dahulu bernama Hotel Merdeka pernah dipergunakan sebagai kantor Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Pada kesempatan lain, demi melestarikan nilai-nilai perjuangan tempat-tempat bersejarah dalam perang mempertahankan kemerdekaan RI, Soesilo Soedarmanjuga menyerahkan seperangkat wayang kepada SD Ungaran, Kota Baru Yogyakarta, serta seperangkat mebel di Desa Semaken, Nanggulan, Kulonprogo. Desa Semaken merupakan tempat perundingan Komandan “Wehrkreise III.” Letkol Soeharto (sekarang Presiden RI) dengan Komandan Sub Wehrkreise 106 Letkol Ir. Soedarto dalam rangka perencanaan Serangan Umum 1 Maret 1949. (Ke-3/Ke-2).

Sumber : SUARA KARYA (31/12/1996)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Pertama, 2008, hal 161-162.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.