PRESIDEN : JANGAN PAKSAKAN KEHENDAK

PRESIDEN : JANGAN PAKSAKAN KEHENDAK [1]

Jakarta, Bisnis Indonesia

Presiden Soeharto mengatakan dalam berorganisasi jangan sampai ada kelompok yang sewenang-wenang memaksakan kehendaknya kepada kelompok lain.

“Kita menganut sikap dasar yang meletakkan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan, apalagi kepentingan perseorangan.” ujar Kepala Negara.

Presiden berbicara pada pembukaan Munas Keluarga Besar Kader Pembangunan Indonesia di Istana Negara kemarin dengan didampingi Menpen Harmoko. Menurut Kepala Negara, musyawarah nasional suatu organisasi mempunyai arti yang penting bagi kehidupan organisasi itu. Sebab musyawarah nasional memegang kekuasaan tertinggi dalam organisasi.

“Dalam musyawarah nasional itulah diambil keputusan yang mendasar bagi kehidupan organisasi.”

Dalam menyelenggarakan musyawarah nasional hendaknya berpegang teguh kepada nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, yang telah disepakati menjadi satu­ satunya azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Demokrasi Pancasila yang kita kembangkan lebih mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat.”

Menurut Presiden, dalam musyawarah semua pihak diberi kesempatan yang sama untuk mengemukakan pandangan dan pendapatnya.

“Setelah semua pandangan dikemukakan, maka dapat dirumuskan kesepakatan bersama yang memuaskan semua pihak, tanpa ada yang merasa dimenangkan atau dikalahkan.”

Dalam menjalankan musyawarah itu, kata Pak Harto, setiap orang agar mampu mengemukakan pikiran denganjemih dan hati yang bersih.

“Jangan dilupakan bahwa setiap keputusan yang akan diambil haruslah mempertimbangkan dengan semasak-masaknya kepentingan bersama.” katanya.

Sebagai kader pembangunan bangsa, Keluarga Besar Kader Pembangunan Indonesia harus mampu bahu membahu dengan kekuatan lain yang ada di masyarakat dalam mensukseskan pembangunan bangsa.

Keberhasilan yang telah dicapai harus dilanjutkan untuk mencapai keberhasilan yang lebih besar lagi, katanya.

“Segala kekurangan yang ada harus diperbaiki tanpa perlu menunda-nunda lagi, sebab kita berpacu dengan waktu yang bergerak cepat.”

Sumber : BISNIS INDONESIA (25/06/1996)

_______________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 75-76.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.