PRESIDEN : JADI ABRI ATAU SIPIL SAMA SAJA

PRESIDEN : JADI ABRI ATAU SIPIL SAMA SAJA [1]

Magelang, Republika

Presiden Soeharto mengatakan cita-cita menjadi ABRI atau sipil sama mulianya sepanjang diniatkan untuk mengabdi kepada kepentingan rakyat. Cita-cita untuk menjadi ABRI atau sipil, katanya, tak jadi masalah karena keduanya sama-sama dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Saat berdialog dengan para siswa SMA Taruna Nusantara di Magelang, Jawa Tengah, kemarin (11/2), Kepala Negara sempat terkejut mendengar jawaban tiga siswanya yang sama-sama bemiat masukAkademiABRI  (AKABRI).

“Lho kok semua mau masuk AKABRI, padahal gaji tentara kecil.” katanya sambil tersenyum.

Acara dialog itu sendiri diadakan setelah Presiden membuka seminar nasional tentang peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang diselenggarakan Lembaga Perguruan Taman Taruna Nusantara. Seminar akan berlangsung dua hari ( 11-12 Mei) dengan menampilkan pembicara Menristek BJ Habibie, Mendikbud Wardiman Djojonegoro, Ketua Bappenas Ginadjar Kartasasmita, serta Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung.

Pada acara kemarin hadir pula Ibu Tien Soeharto, dan Feisal Tandjung serta nyonya. Peserta seminar sendiri berjumlah sekitar 250 orang terdiri atas pejabat tinggi sipil, militer, akademisi serta para tokoh mahasiswa.

Di depan para siswa SMA Taruna Nusantara yang berjumlah  145 orang dan sebagian besar berasal dari keluarga sederhana tapi berprestasi baik di sekolah asalnya, Presiden berpesan agar segenap generasi muda mencari bekal untuk menyiapk an diri menghadapi segala tantangan.

“Para generasi tua akan tut wuri handayani.” Katanya.

“Setelah ilmu diraih, baktikanlah kepada bangsa dan negara.”

Presiden juga mengemukakan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Sebab, kekayaan alam yang berlimpah sekali pun, tak akan memberi manfaat banyak bila penguasaan Iptek oleh SDM-nya sangat rendah. Ia mencontohkan Jepang yang kekayaan alamnya sangat terbatas, namun mampu berkembang pesat karena penguasaan Iptek yang, tinggi.

“Maka Indonesia harus berupaya untukmenguasai iptek.”

Dalam amanatnya pada pembukaan seminar, Presiden menjelaskan panjang Iebar pentingnya penyiapan SDM yang handal dikaitkan dengan persoalan globalisasi ekonomi dan dampaknya bagi bangsa Indonesia.

“Dewasa ini kita hidup dalam dunia yang makin terbuka dan makin menyatu,” katanya.

Lalu lintas perdagangan dan investasi, menurut Presiden, sangat deras mengalir ke mana-mana, melintasi batas negara dan benua. Hanya barang danjasa yang unggul kualitasnya dan bersaing harganya, akan bertahan di pasar dunia yang makin bebas.

Barang danjasa yang unggul itu, menurut Kepala Negara, hanya dihasilkan oleh manusia berkualitas, yang hidup dalam masyarakat yang berkualitas pula.

“Dengan kata lain, abad ke-21 adalah pertandingan kualitas SDM setiap negara kebangsaan,” ujarnya.

Karena itu, negara-negara yang terlambat dalam meningkatkan kualitas SDM­ nya, bukan saja akan memikul beban amat berat, tapi akan ketinggalanjauh  di belakang.

Menurut Kepala Negara, selama seperempat abad, banyak kemajuan  yang sudah dicapai dalam peningkatan kualitas SDM. Namun, dalam menghadapi tantangan mendatang bangsa Indonesia tidak boleh berpuas diri.

“Apabila dari sekarang kita tidak sungguh-sungguh meningkatkan kualitas SDM, maka bisa saja pangsa pasar beberapa komoditi ekspor kita di pasar dunia akan direbut oleh negara-negara lain yang mampu menghasilkan barang yang mutunya lebih baik dengan harga lebih murah”.

Direbutnya pasar Indonesia itu, kata Presiden, akan berpengaruh besar terhadap pemerintah dan masyarakat. Pemerintah kehilangan devisa, laju pertumbuhan ekonomi berkurang, dan penerimaan negara menunm. Masyarakat juga terkena dampak berkurangnya kesempatan kerja dan penurunan taraf hidup.

Karena itulah, Presiden memandang penting setiap usaha peningkatan kualitas SDM, termasuk seminar kemarin dalam rangka memperingati Harkitnas ke-87. Ia mengajak setiap daerah mengembangkan kemampuan rakyatnya, sementara pusat akan membantu sepenuhnya.

Mengutip GBHN 1993, Presiden juga mengingatkan kembali 10 sifat pribadi yang harus ada dalam diri setiap manusia Indonesia. Kesepuluh sifat yang digariskan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) itu adalah : beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, tangguh, sehat, cerdas, patriotik, berdisiplin, kreatif, produktif, dan profesional.

Sumber : REPUBLIKA (12/05/1995)

______________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 727-729.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.