Sep 202017
 

PRESIDEN : INDUSTRI KECIL DAN KERAJINAN TETAP PUNYA MASA DEPAN

 

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto mengatakan, industri kecil dan kerajinan akan tetap mempunyai masa depan, karena baik industri kecil maupun barang kerajinan, memiliki kekhasan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi moderen manapun.

“Di negara maju sekalipun, industri kecil dan kerajinan, tetap mempunyai tempat yang kuat dalam kehidupan ekonomi moderen,”kata Presiden ketika membuka Pekan Kerajinan Indonesia Pertama, di Sasana Langen Budaya, Taman MiniIndonesia Indah, Sabtu.

Presiden mengatakan, kegiatan kerajinan yang memerlukan banyak tenaga kerja, merupakan salah satu unsur penting dalam pembangunan. Karena, di satu pihak, mengembangkan kegiatan kerajinan, berarti memperluas kesempatan kerja, yang nyata-nyata merupakan salah satu tantangan besar pembangunan di masa datang.

Di lain pihak, mengembangkan kegiatan kerajinan, juga berarti meningkatkan penghasilan lapisan besar masyarakat, serta memperluas pemerataan pembangunan.

Karena itu, salah satu tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana meningkatkan mutu barang kerajinan, sehingga dapat memberi sumbangan pada pembangunan.

“Kita harus berusaha sekuat tenaga agar barang kerajinan Indonesia dapat menarik  minat wisatawan  yang datang ke Indonesia,  sekaligus juga  memasuki  pasaran. dunia,” kata Presiden.

Lebih Ianjut Presiden mengatakan, industri kecil dan kerajinan dewasa ini jelas memerlukan penyuluhan di bidang produksi, manajemen dan organisasi usaha, termasuk bantuan untuk memperluas pasaran barang yang dihasilkan.

Untuk itu, barang hasil kerajinan dan industri kecil, harus mampu menyesuaikan diri dengan selera masyarakat pembeli, disamping terus menerus dilakukan peningkatan mutu barang.

Sedangkan di bidang pemasaran, yang jelas merupakan tantangan yang tidak ringan, perlu dikembangkan cara-cara pemasaran yang terkoordinasi sebaik-baiknya.

Karena, tanpa koordinasi, pemasaran barang kerajinan dan industri kecil dipastikan tidak akan mampu menembus pasaran dalam perekonomian moderen dan pasaran dunia umurnnya, demikian Presiden.

Semangat Berkreasi

Pekan Kerajinan Indonesia Pertama yang berlangsung sampai 6 September di TMII itu diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas).

Ketua Umum Dekranas, Ny. Karlinah Umar Wirahadikusumah mengatakan, pekan kerajinan antara lain bertujuan untuk menggairahkan ide dan kreasi baru, mengembangkan keterampilan dan keahlian perajin, serta untuk mengembangkan peranan desainer daerah agar bisa menghasilkan komoditi yang punya nilai tinggi. Selain diisi dengan kegiatan pameran dan promosi (penjualan) hasil kerajinan, pekan kerajinan Indonesia juga diisi dengan temu wicara dan lokakarya.

Ny. Umar mengharapkan, agar melalui pekan kerajinan Indonesia itu, apresiasi perajin akan dapat lebih dikenal masyarakat, sehingga secara tidak langsung akan semakin menggairahkan kreatifitas dan semangat perajin.

Menteri Perindustrian, Hartarto dalam kesempatan itu melaporkan, upaya pengembangan industri kecil dan kerajinan terus ditingkatkan, melalui sentra-sentra yang ada di pedesaan.

Untuk meningkatkan kemampuan serta keterampilan perajin dalam sentra, upaya yang dilakukan antara lain berupa bantuan teknis dan manajemen usaha untuk mengembangkan kreatifitas dan inovasi melalui pendidikan kewiraswastaan dan latihan keterampilan. Mengenai masalah pemasaran yang dewasa ini masih sulit dipecahkan, Hartarto mengatakan, dalam rangka meningkatkan kelancaran usaha dan pemasaran hasil-hasil industri kecil dan kerajinan telah digalakkan program keterkaitan melalui sistem “Bapak Angkat”.

Penerapan program keterkaitan tersebut menunjukkan hasil positif, terlihat dari berhasilnya Asosiasi Pusat perbelanjaan dan Pertokoan Indonesia (AP3I) pada tahun 1985, memasarkan barang industri kecil senilai Rp 800 milyar, yang 15 persen diantaranya merupakan hasil barang kerajinan, demikian Hartarto. (LS)

 

 

Sumber: ANTARA (30/08/1987)

 

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 517-518.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: