PRESIDEN: INDONESIA SlAP BERGABUNG DALAM ACPC

PRESIDEN: INDONESIA SlAP BERGABUNG DALAM ACPC[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto mengatakan, Indonesia siap bergabung ke dalam Organisasi Negara Pengekspor Kopi (ACPC) dalam upaya memperkuat posisi negara-negara produsen menghadapi konsumen kopi.

“Tapi kita tidak ingin berkonfrontasi dengan konsumen karena yang ingin dicapai adalah menciptakan keseimbangan dalam perundingan, “kata Menlu Ali Alatas kepada pers setelah mendampingi Presiden Soeharto di Cendana, Jakarta, Kamis, menerima Menteri Perdagangan dan Perindustrian Uganda Richard Kaijuka.

Alatas mengatakan, negara-negara konsumen yang bergabung dengan negara produsen dalam Organisasi Kopi Internasional (ICO) sering tidak memperhatikan aspirasi penghasil produk pertanian itu.

Karena itu adalah wajar jika negara-negara penghasil kopi membentuk organisasi untuk memperkuat posisi mereka dalam melakukan perundingan dengan konsumen. Richard Kaijuka, yang tiba di Jakarta hari Rabu (8/9) selain menemui Kepala Negara, juga akan bertemu dengan Menteri Perdagangan Satrio Budihardjo Joedono, untuk membahas perdagangan kopi yang harganya terus merosot.

Menlu Alatas mengatakan, dukungan Indonesia bagi pembentukan ACPC ini selaras pula dengan aktifnya Indonesia dalam berbagai perjanjian komoditi.

“Pembentukan ACPC juga selaras dengan keinginan Indonesia untuk meningkatkan kerjasama dengan negara-negara berkembang yang disebut Selatan­-Selatan,” kata Menlu Alatas, mengutip ucapan Presiden kepqda Menteri Uganda itu.

 

Pengendalian Ekspor

Sebelumnya Menteri Perdagangan dan Perindustrian Uganda Richard Kaijuka mengatakan kepada pers, pihaknya menghargai keputusan Presiden Soeharto untuk ikut mengendalikan ekspornya.

Brazil, Kolumbia, serta bebera pa negara penghasil kopi di Afrika lainnya telah mengusulkan pengendalian ekspor (retention scheme) sebanyak 20 persen untuk memulihkan harga. Harga kopi sekarang hanya di bawah 50 sen dolar AS/ pon.

Richard Kaijuka mengatakan, turunnya harga kopi mengakibatkan anjlognya pendapatan devisa mereka. Sebanyak 62-65 persen devisa Uganda berasal dari ekspor kopi.

Ia mengatakan, jika pada tahun 1986 Uganda memperoleh 400 juta dolar AS dari kopi, maka pada tahun 1992 hanya diperoleh 100 juta dolar AS. Kopi di negara Afrika ini ditanam para petani. Ia mengatakan pula, dengan Presiden Soeharto telah dibahas rencana pertemuan para produsen kopi di Bogota, Kolumbia, pada tanggal 23 September 1993, untuk membahas pengendalian ekspor tersebut.

Setelah berlangsungnya pertemuan Bogota, para produsen akan bertemu lagi di Brazil pada Oktober 1993 untuk menyepakati secara resmi pengurangan ekspor tersebut.

Menteri Pertanian Sjarifudin Baharsjah Selasa (7/9) di Jakarta mengatakan, jika pembatasan itu dilaksanakan maka Indonesia akan mulai melakukannya pada April 1994 sesuai dengan masa panen. Sementara itu negara-negara Afrika dan Amerika Latin akan melaksanakannya bulan Oktober 1993.

Ia mengatakan, harga ideal kopi adalah 65 sen dolar AS/ pon, sedangkan sekarang harganya di bawah 50 sen dolar AS per pon. (T-EU02/EU04/RU2)

Sumber: ANTARA (09/09/ 1993)

_____________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 590-591.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.