PRESIDEN : IKLAN JANGAN JADI SARANA MENDIKTE MASYARAKAT

PRESIDEN : IKLAN JANGAN JADI SARANA MENDIKTE MASYARAKAT [1]

Nusa Dua, Media Indonesia

Presiden Soeharto mengingatkan dunia periklanan sama sekali tidak boleh melalaikan tanggung jawab sosial kepada masyarakat luas.

“Kita menyadari peranan dunia periklanan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing. Kita juga mengerti bahwa iklan harus dikemas agar menarik perhatian.” ujar Kepala Negara saat membuka Kongres Periklanan Asia XIX di Nusa Dua Bali kemarin.

Namun dibalik itu, menurut Presiden masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral dan sosial agar iklan tidak menjadi sarana untuk mendikte masyarakat. Sehingga mareka terjauh dari penggunaan akal sehat dalam membeli barang dan menggunakan jasa, jelas Kepala Negara.

Dunia periklanan, kata Presiden harus mampu menghidarkan penggunaan cara-cara yang dapat merendahkan harkat dan martabat manusia terutama anak-anak dan kaum wanita.

Meskipun kemampuan menciptakan daya pikat merupakan cara yang jitu untuk berpromosi Kepala Negara mengingatkan bahwa dunia periklanan hendaknya rnempertimbangkan nilai-nilai kerohanian dan budaya yang hidup didalam masyarakat.

Presiden mengemukakan bahwa sebagian besar masyarakat dunia memang ingin berkembang maju setaraf dengan kemajuan bangsa lain.

“Tetapi kita semua juga menyadari betapa penting mempertahankan jati diri kita sebagai bangsa. Tidak ada gunanya kita mencapai kemajuan besar di bidang ekonomi, jika akhirnya akan menyebabkan bangsa kita tercabut dari akar budayanya sendiri.”

Dengan kemajuan teknologi komunikasi, ungkap Kepala Negara iklan telah memasuki kehidupan setiap orang, setiap saat. Dunia periklanan Asia jelas Presiden rnemiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan aspek-asoek sosial kemanusiaan dan kerohanian yang sejalan dengan nilai-nilai budaya di kawasan ini.

Hal ini, tegas Kepala Negara penting karena dunia periklanan mudah tergoda untuk menggunakan cara-cara yang menarik pehatian kendati cara-cara tersebut seringkali tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan adat istiadat bangsa sendiri.

Pertumbuhan ekonomi yang pesat di kawasan Asia kata Presiden telah menyebabkan terjadinya persaingan ketat dan dalam suasana seperti ini periklanan telah memainkan peranan yang besar.

Karena itu ujar Kepala Negara profesionalisme di bidang jasa periklanan mutlak diperlukan dan upaya untuk itu bukan saja menyangkut kelembagan sarana dan prasarana tetapi juga sumber daya manusia.

Kecuali untuk satu dua bangsa tutur Presiden maka bangsa-bangsa Asia pada umumnya tergolong dalam kelompok bangsa yang tengah membangun. Kemajuan yang dicapai dunia periklanan Asia pada umumnya tambah Kepala Negara juga masih tertinggal dari kemajuan periklanan di negara-negara maju dan hal ini dapat mengurangi daya saing pemasaran barang dan jasa yang dihasilkannya.

Karena itu menurut Presiden perusahaan-perusahan periklanan di negara-negara Asia masih harus bekerja keras untuk meningkatkan kemampuan dalam menerobos pasar dunia demi kemajuan bangsa Asia.

Booming

Pada kesempatan yang sama Dirjen pembinaan pers dan Grafika (PPG) Subrata mengatakan dunia periklanan di Indonesia baik di media cetak maupun elektronik dalam sepuluh tahun tarakhir menunjukkan adanya booming.

“Pemasukan dana iklan yang diperoleh media masa- media cetak maupun media elektronik mengalami peningkatan drastis. Disebutkan pada tahun 1980-an besar dana iklan yang berhasil diraup media massa mencapai Rp.800 rniliar dan data terakhir yang ada di Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) sudah mencapai Rp.3, 1 triliun.” ujar Subrata menjawab.

Sumber : MEDIA INDONESIA (07/10/1995)

______________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 746-748.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.