Agu 042017
 

PRESIDEN TENTANG IAS 1986 : TEKAD BANGSA INDONESIA MENCAPAI KEMAJUAN INDUSTRI DAN TEKNOLOGI

 

 

Pameran Kedirgantaraan Indonesia (IAS) 1986 di Kemayoran yang dimulai kemarin, oleh Presiden Soeharto dikatakan mencerminkan tekad dan persiapan bangsa Indonesia yang sungguh-sungguh untuk tujuan jangka panjang. Yakni mencapai kemajuan di bidang industri dan penguasaan teknologi.

“Dari sekarang kita menyadari bahwa masa datang itu adalah masa kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah menunjukkan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologilah suatu bangsa akan dapat maju,” Ujar Kepala Negara.

Disaksikan ribuan pasang mata di bawah sinar matahari pagi yang cerah, Presiden didampingi Menristek/Ketua BPPT B.J. Habibie menembakkan pistol pembuka resmi IAS (Indonesia Air Show) 1986 Senin pagi.

“Hari ini merupakan hari yang akan dicatat dalam sejarah perkembangan dan pertumbuhan Kedirgantaraan Indonesia,” kata Kepala Negara, seraya menambahkan tidak terlalu banyak negara yang dapat menyelenggarakan suatu pameran kedirgantaraan yang bersifat Internasional seperti ini.

“Jika tahun 1986 ini kita menyelenggarakan Pameran Kedirgantaraan Indonesia, dan tahun 1985 lalu kita menyelenggarakan Pameran Produksi Indonesia, maka itu mencerminkan tekad dan persiapan bangsa Indonesia sungguh-sungguh untuk mencapai kemajuan di masa depan, khususnya dalam bidang industri dan penguasaan teknologi tinggi. dalam arti yang luas,” tegasnya.

Diingatkan, Indonesia memang sedang memasuki tahun-tahun sulit dan berat di bidang ekonomi, “Tetapi hal itu hendaknya jangan membuat kita melupakan strategi dan tujuan pembangunan jangka panjang.”

Menurut Presiden, dengan memahami persoalan yang kita hadapi dewasa ini dan juga memahami tujuan jangka panjang di masa depan, maka “pameran besar ini merupakan bagian dari usaha dari persiapan kita untuk menggunakan kesempatan yang pasti akan tiba di masa datang.”

Industri pesawat terbang, kata Kepala Negara merupakan bidang industri yang dapat mengalihkan dan mengembangkan lebih lanjut semua teknologi yang dibutuhkan untuk mengembangkan sektor-sektor industri lain.

Makna IPTN

Sehubungan dengan itu semua, maka menurut Presiden, IPTN di Bandung yang dimiliki sekarang merupakan bagian persiapan sungguh-sungguh memasuki tahap tinggal landas dalam pembangunan menjelang akhir abad ke-20 ini, sekaligus merupakan langkah awal memasuki zaman ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi dalam abad ke-21 nanti.

Di samping itu, kata Kepala Negara, memiliki sendiri industri pesawat terbang merupakan kebutuhan nyata, bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia yang penduduknya lebih dari 160 juta yang mendiami kepulauan yang sangat luas jelas memerlukan alat pengangkutan di laut dan di udara dalam jumlah besar. Tanpa itu pembangunan bangsa adalah suatu kemustahilan.

“Karena itulah dari sekarang kita melakukan segala persiapan dan telah mulai memasuki tahap awal dari industri maritim dan kedirgantaraan. Pengalaman mengajarkan bahwa ketergantungan pada teknologi dari luar dapat memojokkan kita pada sudut-sudut yang sulit”.

Masih banyak lagi yang diuraikan Kepala Negara mengenai arti penting memiliki sendiri industri pesawat terbang, antara lain sebagai kancah persiapan pengembangan pikiran dan ketrampilan tenaga Indonesia menyongsong tantangan pembangunan di masa depan. Dengan semua alasan itu, maka menurut Presiden, Pameran Kedirgantaraan Indonesia akan diadakan sepuluh tahun sekali.

Atraksi Udara

Selain sebagai arena adu promosi, dagang, dan ilmu pengetahuan, lAS 86 ini bagi kebanyakan pengunjung benar-benar merupakan pengenalan teknologi dan atraksi menarik, lebih-lebih dengan kehadiran pesawat tempur supersonik seperti F-16 Fighting Falcon, C-101 Ariojet, F-18 Hornet, serta Mirage 2000. Selesai acara resmi pembukaan, mereka jungkir balik di udara menunjukkan. kebolehan memecah langit Kemayoran dengan suara gemuruhnya.

Aerobatik di udara ini diawali dengan ucapan “Selamat Datang di Indonesia Air Show 1986” oleh helikopter NB0-105 buatan IPTN berdasar lisensi MBB jerman Barat.

Dari arah utara melakukan terbang lintas di depan panggung kehormatan, dan dengan lincahnya menanjak vertikal, memutar­mutarkan badannya di udara. lalu menukik kembali secara tajam, begitu berulang-ulang disertai kombinasi rol serta berbagai kebolehan lainnya.

Ini adalah satu-satunya jenis helikopter saat ini yang dapat melakukan aerobatik. Menyusul kemudian terbang lintas gabungan antara pesawat buatan IPTN lainnya dengan jenis-jenis yang dimiliki ABRl. Mula-mula terbang lintas. “Kunang” oleh Bell-217 dan Super Puma disusul CN-235 Tetuko dan Cassa-212 Aviocar.

Selanjutnya terbang “Kembang” Boll 206 dan 205. Menyusul jenis­jenis yang dipakai ABRI seperti Cessna, Nomad, F-27, serta F-5E Tiger II. Secara khusus CN-235 Tetuko beraksi di udara dengan berbagai gerak, touch and go, mendarat jarak pendek, mundur, kemudian berputar dengan lincah dalam radius pendek, serta berbagai kelincahan lain.

Jago-Jago Udara

Saat yang seperti dinanti-nantikan kemudian tiba ketika giliran “jago-jago udara” tamu menunjukkan kebolehannya. Diawali mula-mula dengan C-101 Aviojet buatan Casa Spanyol, disusul F-16A Fighting Falcon yang dikemudikan Kapten Charles Masson dari Angkatan Udara AS.

Lalu F-18 Hornet dari Angkatan Udara Australia yang dikemudikan Kapten MD Binski, dan dikunci oleh Mirage-2000 bersayap delta dari Angkatan Udara Prancis yang dikemudikan Kapten Claude Saget. Pesawat-pesawat tempur ini menunjukkan berbagai kemampuan yang benar-benar memukau.

Setiap pesawat tempur itu memiliki keperkasaannya sendiri-sendiri. F-18 mempunyai kecepatan dua kali kecepatan suara dengan jarak jelajah tempur 500 km. F-18 mempunyai kecepatan 1,8 kecepatan suara, sedang Mirage-2000 dengan maksimum kecepatan 2,35 kali kecepatan suara dengan jarak “jelajah tempur taktis” 700 km.

Atraksi udara kemarin ditutup oleh tiga Pitts S-25 Royal Falcons dari tim aerobatik Yordania. Dikemudikan pilot Jalal A. Kattab, Adnan Takburi, dan Majed El-Kayed, pesawat kecil dengan mesin piston ini menghiasi udara Kemayoran dengan atraksi smoke trail. Jenis Pitts S-25 ini memang khusus untuk aerobatik dan sport.

The Red Arrows

Semula masih simpang-siur berita kedatangan tim aerobatik Inggris The Red Arrows. Tapi tiba-tiba pukul 13.30 tanpa ada bunyi sirene dari menara yang selalu menghidupkan alat ini bila ada pesawat yang akan terbang atau mendarat, 11 pesawat HS Hawk serba merah dari The Red Arrows membuat bom burst dengan meninggalkan asap putih panjang, tepat di atas arena pameran.

Ke sebelas pesawat berk:ursi ganda tersebut langsung menuju utara ke arah laut, kemudian membuat belokan tajam ke kanan dan satu per satu meluncur ke arah Kemayoran, mendarat dan menuju hangar.

Ke sebelas HS Hawk itu didukung dua C 130 Hercules Angkatan Udara Kerajaan Inggris, terbang sekitar 3,5 jam dari Bangkok dengan singgah di Singapura isi bahan bakar sebelum tiba di Jakarta.

Menurut rencana 10 pesawat HS Hawk, The Red Arrows akan ambil bagian dalam atraksi aerobatik udara pada Kamis 26 Juni. Pesawat yang ke sebelas adalah pesawat cadangan Tim ini juga membawa suku-suku cadang, kendaraan dan pelbagai peralatan untuk atraksi spektakulernya di atas Kemayoran selama tiga hari peragaan.

Falcon 900

Rupanya pesawat jet eksekutif Falcon-900 buatan Dassault-Breguet dari Prancis, tidak mau kalah dengan CN-235 yang mempertunjukkan kesanggupannya berjalan mundur dalam beberapa detik setelah mendarat dan melakukan putaran 360 derajat di atas landasan dengan kekuatan mesinnya.

Falcon-900 yang bermesin jet tiga buah pun melakukan hal sama di depan Presiden Soeharto yang menyaksikan dari beranda paviliun IPTN.

“Radius putarnya sekitar 10 meter diameter!” ujar manajer program Marcel Dassault Breguet, Robert de Rocquigny kepada Kompas pada ketinggian 35.000 kaki di atas Krakatau kemarin sore.

Pesawat ini sudah mengantungi 700 jam terbang. Falcon-900 yang dikemudikan Jean Marie Saget (ayah Kapten Saget, penerbang Mirage-2000) merupakan prototipe pertama. Pabriknya sudah menerima 51 pesanan dari pelbagai negara. Sertifikasi FAA dikantungi Maret lalu dan dua Falcon-900 pesanan pabrik mobil Ford diserahkan September.

“Saingan kami adalah Gulf Stream IV yang sedikit lebih panjang tapi dengan kabin lebih sempit. Juga pesawat Challenger dari Kanada yang kabinnya sangat sempit,” ucap Rocquigny kepada Kompas mengenai pesawat eksekutifuya.

Itu pun menurut dia bukan saingan sebenarnya, karena Falcon-900 di kelasnya, dia adalah sendiri sebab perusahaan lain belum ada yang membuat eksekutif jet badan Iebar bermesin tiga. “jarak jangkaunya 7.000 kilometer, jadi merupakan pesawat eksekutif interkontinental,” tambahnya.

Pesawat seharga 17 juta dollar AS ini sebelum tiba di Jakarta, mampir dulu di Beijing, dengan singgah di Karachi 10 Juni lalu. Selama 10 hari di RRC, Falcon-900 melakukan 29 kali peragaan terbang di Beijing dan Shanghai, kemudian diterbangkan langsung dari Shanghai ke Jakarta non­ stop selama Sembilan jam. Pesawat ini akan menemskan perjalanan ke Kuala Lumpur, Abu Dhabi dan Kairo.

“Sampai tahun 1988 kami harapkan 60 pesawat diserahkan kepada operator,” tambah Rocquigny. Dijelaskan, belum ada tanda-tanda pihak Indonesia akan membeli jenis ini, tapi di Indonesia jenis falcon-20 sudah ada dua, dioperasikan untuk keperluan kalibrasi dan penerbangan VIP. (RA)

 

 

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (24/06/1986)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 648-653.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: