Agu 072017
 

PRESIDEN AKAN HADIRI PERINGATAN SERANGAN UMUM 1 MARET

 

 

Presiden dan Ibu Tien Soeharto akan hadir pada peringatan “Serangan Umum 1 Maret” yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah.

Dari panitia peringatan itu, diperoleh keterangan Kamis siang dalam memperingati serangan Umum 1 Maret itu sekaligusjuga diadakan reuni dari wakil-wakil pasukan yang dulu dibawah pimpinan Letkol Soeharto (Presiden RI), antara lain batalyon Sarjono, batalian Sujono, brigade 17, brigade 16 dan dari kepolisian.

Ketua panitia peringatan serangan umum 1 Maret Yogyakarta 1948 dari Paguyuban Wehrkreise III Yogyakarta, Martono, mengemukakan dalam pertemuan dengan Presiden Soeharto di kediaman Jalan Cendana Rabu.

Hadirpulalr. Sudarto, Sutopo Yuwono, J. Sujono, Ir. Haryo Sudirjo, Vence Sumual, Drs. Abdul Kadir, Zahid Husein, Didi Suwandito yang membicarakan rencana peringatan itu.

Martono mengatakan, peristiwa serangan umum 1 Maret itu mempunyai sasaran politis dan militer. Politis karena bangsa Indonesia sedang berjuang pada waktu itu dan hal ini penting untuk diketahui oleh dunia internasional.

Sebab Belanda melaporkan ke PBB bahwa pemerintah Indonesia sudah tidak ada karena Yogya sudah diduduki mereka. Serangan umum 1 Maret membuktikan tidak benarnya laporan Belanda tersebut.

Secara militer kekuatan militer Belanda di Yogya dapat dilemahkan, dan secara psikologis serangan umum 1 Maret itu membuktikan bahwa rakyat Indonesia bersama Angkatan Bersenjatanya masih belawan penjajah.

Menurut Martono, peringatan serangan umum itu direncanakan akan dihadiri oleh sekitar 250 orang.

Peringatan Malam Hari

Serangan umum 1 Maret 1949 yang dilakukan para pejuang pimpinan Letkol Soeharto terhadap Yogyakarta, akan diperingati dalam suatu acara tumpengan sederhana di Jakarta Jum’ at malam.

Dipilihnya waktu malam hari dalam memperingati peristiwa bersejarah tersebut, menurut Martono, adalah disesuaikan dengan keadaan sebenarnya di mana pada malam menjelang penyerangan, pasukan mengadakan persiapan terakhir.

Serangan itu sendiri dilakukan tetap pukul 06.00 bertepatan dengan bunyi sirine tanda berakhirnya jam malam.

“Sirine tersebut, dijadikan sebagai komando pelaksanaan serangan yang di pimpin Letkol Soeharto”.

Ternyata serangan yang berhasil merebut kota Yogyakarta dan menduduki selama enam jam itu, mempunyai dampak luas baik di dalam maupun luar negeri, kata Martono.

Panitia akan berusaha agar suasananya pun mendekati dengan keadaan sebenarnya, sehingga para pelaku benar-benar bisa bernostalgia. Sampai makan pun akan diusahakan dengan menggunakan daun, seperti yang diperagakan pada waktu pelaksanaan serangan dahulu.

“Namun, untuk pemotongan tumpeng akan dilakukan oleh Presiden Soeharto (waktu itu Letkol), sedangkan untuk tamu-tamu lain akan dibagikan nasi tumpeng lain dengan beralaskan daun,” ujar Martono.

Politis dan Strategis

Mentrans mengungkapkan dampak terhadap opini luar dan semangat bangsa Indonesia untuk meneruskan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Berita mengenai pendudukan ibukota RI waktu itu selama enam jam, disiarkan ke luar negeri sampai PBB melalui stasiun pemancar Playen, sebuah desa di selatan Yogyakarta melalui Bukit tinggi, Aceh, Rangoon dan New Delhi.

Keberhasilan tentara Indonesia merebut Yogyakarta dan tangan Belanda pada siang hari itu, memiliki dampak politis di mana opini dunia berubah dan mengakui pemerintahan Indonesia masih ada.

Demikian pula didalam negeri keberhasilan ini menambah semangat juang bagi rakyat untuk meneruskan perjuangannya. (RA).

 

 

Jakarta, Pelita

Sumber : PELITA (28/02/1986)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 712-714.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: