PRESIDEN DILAPORKAN STOK PANGAN 71.000 TON

PRESIDEN DILAPORKAN STOK PANGAN 71.000 TON

Jakarta, Antara

Jumlah beras, gabah yang sudah masuk ke gudang-gudang Bulog dalam rangka pengadaan stok pangan nasional tahun ini mencapai 71.000 ton, berarti jauh lebih besar dibanding selama periode sama tahun lalu yang hanya 9.300 ton.

“Pengadaan tahun ini memang agak maju dibanding tahun lalu,”kata Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Tanaman Pangan Ir. Wardoyo kepada wartawan di Bina Graha Jakarta Senin.

Setelah melapor kepada Presiden Soeharto, Menmuda Wardoyo menyebutkan pengadaan pangan untuk stok nasional itu sudah dilaksanakan di Jawa, NTB, Sulawesi Selatan dan Bali.

Ketika ditanya sebab-sebab majunya pengadaan itu, Wardoyo mengatakan faktor panen yang lebih banyak dan serentak serta kesiapan KUD dan Bulog untuk menampung gabah dari petani merupakan salah satu hal yang mendorong kemajuan tersebut.

Berdasarkan perkiraan, Bulog dalam tahun ini akan menampung hasil panen para petani sebanyak 1,6 juta ton, kata Wardoyo.

Dalam kesempatan itu ia melaporkan angka produk si padi tahun 1986 yang mencatatkenaikan 0,91 persen dibanding  tahun 1985.

Peranan Pulau Jawa dalam produksi beras ternyata masih cukup besar, yaitu 61 persen dari total produksi nasional , meskipun kini areal panenannya hanya 53 persen dibanding areal nasional.

Presiden memberi petunjuk kepada Wardoyo agar keserasian kerja antara kelompok-kelompok tani dengan KUD dalam meningkatkan produksi serta penyaluran hasil panen terus ditingkatkan.

“Anggota kelompok tani yang belum menjadi anggota KUD harus segera menjadi anggota,” kata Presiden sebagaimana dikutip Wardoyo.

Dalam kaitan itu Presiden menganjurkan diadakannya rapat anggota koperasi apabila para petani merasakan KUD bersangkutan kurang kuat atau bekerja tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.

Rapat anggota tersebut dapat memilih pengurus dan manajer KUD yang lebih baik dan kuat, sehingga KUD bersangkutan dapat lebih maju dalam melayani petani. Presiden mengatakan apabila suatu KUD memiliki utang akibat kesalahan pengurus lama, maka harus diselesaikan oleh pengurus lama juga. Pengurus baru tidak harus dibebani masalah akibat kesalahan pengurus lama.

“Dengan demikian pengurus baru tidak dibebani soal-soal akibat kesalahan pengurus lama”, kata Wardoyo. Tapi kalau utang itu memang utang KUD sebagai lembaga, maka pengurus baru harus menanganinya, lanjut Menmuda.

Sehubungan dengan menurunnya produksi ubi kayu Indonesia tahun 1986 dibanding tahun sebelumnya, Presiden mengharapkan pengaturan yang baik antara keperluan untuk bahan baku makanan ternak dan untuk dijadikan tapioka. “Jangan sampai petani terpukul”, katanya .

Kepada Wardoyo, Presiden juga menanyakan usaha pengapuran pada lahan tanaman kedele (agar produksi meningkat) yang tahun lalu dihentikan karena dana kurang.

Atas pertanyaan wartawan, Wardoyo menjelaskan di waktu-waktu lalu program pemberian  kapur  pada areal  tanarnan  kedele  (menambah  keasaman   tanah) sepenuhnya dibiayai dana pemerintah. “Sekarang karena anggaran negara terbatas, kita mengharapkan petani sendiri yang mengusahakan pengapuran itu.” (LS) (t.A05/1400/H08)

 

 

Sumber: ANTARA(23/03/1987)

 

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 411-412.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.