PRESIDEN : DALAM MEMPERTAHANKAN TANAH, JANGAN CUMA TUNTUT HAK ASASI

PRESIDEN : DALAM MEMPERTAHANKAN TANAH, JANGAN CUMA TUNTUT HAK ASASI[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto mengingatkan masyarakat hendaknya jangan hanya menuntut hak asasi saja dalam mempertahankan tanahnya, tetapi juga harus tahu akan kewajibannya berkorban untuk kepentingan orang banyak.

“Orang-orang yang hanya mementingkan perjuangan hak asasinya akan menghambat pembangunan, terutama dalam rehabilitasi daerah-daerah kumuh di perkotaan.” kata Kepala Negara ketika meresmikan Rumah Susun Bidaracina, Jakarta Timur, Jumat.

Presiden juga menyesalkan sikap orang-orang yang bertahan di satu lokasi hanya karena ia menempati lokasi itu sudah bertahun-tahun. Padahal tanah tersebut statusnya adalah tanah negara.

“Orang-orang seperti itu kadang-kadang kuat bertahan bahkan menyatakan saya akan menempati ini sampai mati.” ujar Presiden.

Kepala Negara menantang mereka yang berkeras mempertahankan tanahnya tanpa mau tahu kepentingan orang banyak.

“Kalau ada orang yang demikian, suruh datang saja kepada saya. Nanti saya ajak bicara supaya mereka mengetahui betapa besarnya harga pengorbanan itu nanti.” kata Presiden.

Membangun rumah susun murah, menurut Presiden, memang membutuhkan banyak partisipasi dari masyarakat. Partisipasi itu misalnya diharapkan dari mereka yang menempati daerah kumuh rela melepaskan tanahnya untuk pembangunan rehabilitasi kawasan kumuh itu. Partisipasi lainnya juga diperlukan dari pengusaha besar untuk rela membantu pendanaan bagi  pembangunan rumah susun.

Rumah susun murah Bidaracina memiliki kekhususan dibandingkan rumah susun murah lainnya. Pembangunan di Bidaracina itu merupakan realisasi dari sumbangan 25 konglomerat ketika diminta berpartisipasi pada Hari Kesetiakawanan Nasional tahun 1993 lalu. Ke-25 konglomerat itu menghimpun dana sekitar Rp.12,5 miliar. Di antara sejumlah dana itu sebanyak Rp.8,5 miliar digunakan untuk pembangunan 3 blok yang terdiri dari 288 unit rumah berukuran 18m2 (6x3m).

Lahan yang ditempati untuk pembangunan rumah susun di Bidaracina, luasnya 2,33 Ha. Seluruhnya kelak akan dibangun 7 blok. Biaya pembangunan 1 unit RSM lebih dari Rp.30 juta. Pemerintah memberikan subsidi Rp.15 juta sehingga nilai jual 1 unit : RSM tipe 18 ditetapkan untuk lantai 1 Rp.15 juta per unit, lantai  2 Rp.12.448.000, 1antai 3 Rp.11.896.000 per unit, lantai 4 Rp.11.250.000 per unit. KPR maksimal untuk lantai 1 Rp.8.480.000, uang muka untuk lantai 1 Rp.6.520.000. lantai 2 Rp.4.968.000 , lantai 3 Rp.3.416.000 dari lantai 4 Rp.3.416.000. Cicilan perbulan untuk kredit 5 tahun Rp.191.203, 10 tahun Rp.120.000, 15 tahun Rp.98.273, dan 20 tahun Rp.88.746,-. Uang pelayanan lantai 1 Rp.30.000, lantai 2 Rp.36.000, lantai 3 Rp.33.000 dan lantai 4 Rp.30.000,-.

Cari Untung

Presiden dalam sambutannya mengemukakan, para pengusaha besar hendaknya juga ikut memikirkan pembangunan rumah-rumah susun sederhana, jangan hanya membangun rumah susun mewah yang mendatangkan keuntungan besar saja.

Dana pembangunan rumah susun yang disumbangkan para konglomerat selanjutnya akan digulirkan untuk pembangunan rumah susun lainnya di berbagai daerah.

Dalam membangun rusun, menurut Presiden, hendaknya dipadukan dengan usaha untuk terus menerus memperbaiki kualitas perumahan dan lingkungan, terutama di daerah-daerah kurnuh di sekitar pusat-pusat kegiatan. Lingkungan kumuh yang padat penduduknya dan sulit diperbaiki melalui usaha-perbaikan kampung hendaknya diganti dengan rumah susun yang memenuhi syarat.

“Saya mengerti bahwa tinggal di rumah susun memerlukan kebiasaan-kebiasaan baru jika dibandingkan dengan tinggal bukan di rumah susun. Ini memerlukan proses penyesuaian diri dengan lingkungan yang baru.” kata Presiden.

“Karena itu perlu penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat luas, terutama calon penghuni rusun. Namun jika mereka yang tidak mau tinggal di rumah susun yang susah payah dibangun pemerintah, kembali saja ke kampung, pulang saja ke desanya kembali.” kata Presiden.

Presiden mengakui memang masyarakat  di Indonesia belum terbiasa tinggal di rumah susun, tapi jika tidak dimulai, masyarakat tidak akan terbiasa tinggal di rumah-rumah susun.

Menyumbang

Mereka yang menyumbang, bagi pembangunan rumah susun tersebut kemarin mendapat anugerah Satya Lencana Kebaktian Sosial, disampaikan langsung oleh Presiden Soeharto.

Para pengusaha yang mendapat Satya Lencana tersebut terdiri dari M Basan (Ketua Umum APKINDO dan MPI), Sudono Salim (Salim Group), Sudwikatmono (Karra Persada), Rachman Halim (PT. Gudang Garam), Mintardjo Halim (PT. Sandratex), Prayogo Pangestu (Barito Group), Eka Cipta Widjaja (Sinar Mas Group), Ciputra (PT. Pembangunan Jaya Group), Siti Hartati Murdaya (PT. Tjakra Murdaya), Mochtar Riyadi (Lippo Group), TP Rachmat (PT Astra), Soetjipto Nagari (Sumerecon Agung), Hendra Rahardja (Bank Harapan Sentosa), Suhargo Gondokusumo (Dharmala Group), Sjamsul Nursalim (Bank Dagang Nasional Indonesia), Makmun Murod (Gajah Tunggal), Samadikun Kartono (Nederland), Osman Atmadjaja (Bank Danamon), Sofjan Wananeli (Gemala Group) , Henry Pribadi (Napan Group), Robby Sumampouw, Sugianto Kusuma (Danayasa Arthatama), Benny Lukman (Argointan Griyatama), Oskar Liman , dan Ibrahim Risyad (Branta Mulya Grup).

Sumber : SUARA KARYA (25/03/1995)

___________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 717-719.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.