Feb 282018
 

PRESIDEN: CALON PRESIDEN TAK PERLU KAMPANYE UNTUK JELASKAN PROGRAM

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto mengatakan seorang calon presiden tidak perlu melakukan kampanye untuk menjelaskan program kerjanya jika terpilih sebagai kepala negara, karena kampanye ituberarti mendahului keputusan MPR.

Masalah tentang perlu tidaknya calon presiden berkampanye dijelaskan Kepala Negara di Bina Graha, Senin, ketika menerima pimpinan NU, kata Ketua Umum Pengurus Besar NU H. Abdurrahman Wahid kepada pers sesudah berlangsungnya pertemuan setengah jam itu.

“Presiden menjelas kan bahwa karena presiden adalah Mandataris MPR yang melaksanakan program yang diputuskan MPR, maka tentu tidak tepat kalau orang yang mau jadi presiden haruskampanye dulu untuk menjelaskan programnya. Berarti dia melaksanakan programnya , bukan keputu san MPR ,” kata Abdurrahman Wahid.

Abdurrahman Wahid yang sering dipanggil sebagai Gus Dur mengatakan dalam pertemuan ini Presiden menjelaskan secara panjang lebar tentang tugas presiden sebagai Mandataris MPR.

Ia mengatakan kepada Presiden telah dilaporkan hasil muktamar NU yang berlangsung di Yogyakarta akhir tahun 1989 yang menghasilkan pengurus baru serta berbagai program kerja.

Salah satu tugas utama pengurus barn NU adalah meningkatk an kemampuan sosial ekonomi para anggotanya. Jalan yang akan ditempuh antara lain adalah mendirikan 250 bankperkreditan rakyat (BPR) di kecamatan-kecamatan selama lima tahun mendatang.

Pengurus NU, kata Abdurrahman Wahid, telah melakukan pendekatan terhadap beberapa konglomerat agar bersedia membantu NU mendirikan BPR. Ia mengatakan beberapa pengusaha besartelah memberikan tanggapan positif. Dalam pertemuan dengan Kepala Negara, para pengurus NU telah menyampaikan usul agar pemerintah Indonesia mencalonkan diri sebagai tuan rumah KTT Organisasi Konperensi Islam (OKI) di masa mendatang. (SA)

 

 

Sumber : ANTARA (26/03/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 130-132.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: