PRESIDEN BUKA PAMERAN PRODUK EKSPOR 1988: HASIL HUTAN HARUS DAPAT MENEMBUS PASAR DUNIA

PRESIDEN BUKA PAMERAN PRODUK EKSPOR 1988: HASIL HUTAN HARUS DAPAT MENEMBUS PASAR DUNIA

Jakarta, Merdeka

Peningkatan ekspor non migas merupakan unsur penting dalam upaya memantapkan kerangka landasan pembangunan. Dengan peningkatan ekspor non migas, dapat diperluas dasar industri karena adanya pasar yang dapat menampung tumbuhnya industri yang sudah ada maupun munculnya industri baru.

Presiden Soeharto mengemukakan hal itu dalam sambutannya pada peresmian pembukaan Pameran Produk Ekspor (PPE) 1988 di Arena Pekan Raya Jakarta, Selasa. Hadir dalam acara tersebut Ny. Tien Soeharto, para Menteri Kabinet Pembangunan V, para Duta Besar negara sahabat serta undangan lainnya.

Kepala Negara lebih lanjut mengemukakan, dengan meningkatnya ekspor non migas, pasar dalam negeri yang telah dimiliki akan merupakan pasar yang besar yang dapat menampung hasil-hasil industri tersebut.

“Demikian juga, kita harus dapat menembus pasar dunia bagi hasil-hasil pertanian, perkebunan dan kehutanan, agar produksi di bidang-bidang ini dapat makin kuat pula,” tuturnya.

Dengan demikian, kata Presiden, salah satu tolok ukur dari mantapnya kerangka landasan tersebut, yaitu kuatnya sektor industri yang didukung oleh pertanian yang tangguh, akan dapat tercapai dengan memanfaatkan berbagai kekuatan yang dimiliki oleh negara-negara lain.

Dikemukakan, pameran produk ekspor ini merupakan salah satu sarana yang dipersiapkan untuk melaksanakan kerja besar yaitu peningkatan ekspor non migas.

Karena dengan pameran semacam ini, kita dapat menunjukkan kepada para mitra dagang kita di luar negeri, tentang kemampuan industri dan masyarakat kita untuk menghasilkan berbagai macam produk yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Sekaligus, pameran semacam ini memberikan keyakinan pula betapa bangsa Indonesia telah melangkah cukup jauh dalam pembangunannya sehingga telah mampu menghasilkan berbagai macam produk seperti yang dapat disaksikan di pameran ini.

Presiden Soeharto mengatakan dalam beberapa tahun terakhir ini bangga Indonesia memang telah bekerja keras untuk meningkatkan ekspor non migas. Usaha ini telah cukup lama dilakukan dan mendapat dorongan yang lebih besar lagi selama Pelita IV yang sebentar lagi akan berakhir.

Dalam tahun-tahun mendatang, tugas itu menjadi lebih berat lagi mengingat besarnya kewajiban-kewajiban internasional yang harus dipenuhi. Di samping itu, juga harus diupayakan sekuat tenaga agar dapat mengurangi ketergantungan negara kita dari ekspor migas.

“Beratnya tugas ini telah kita sadari bersama. Bahkan pernah saya katakan, bahwa peningkatan ekspor non migas merupakan perjuangan habis-habisan,” kata Kepala Negara. “Karena itu apa yang telah kita mulai beberapa tahun yang lalu akan lebih kita tingkatkan lagi di tahun-tahun yang akan datang.”

Disebutkan, pengalaman dalam melakukan ekspor non-migas dalam beberapa tahun terakhir ini telah memberikan bekal apa yang sebaiknya dilakukan untuk lebih meningkatkannya lagi. Hal-hal yang menjadi hambatan dalam upaya ini, secara dini perlu diamati secara teliti dan diatasi.

Sedangkan hal-hal yang dapat lebih mempertegas kehadiran produk Indonesia di luar negeri, perlu ditingkatkan lagi.

Presiden mengharapkan, pengalaman-pengalaman yang berharga yang diperoleh para pengusaha, besar maupun kecil, dalam upaya menembus pasaran ekspor dapat pula memberikan informasi kepada para mitranya di luar negeri tentang betapa luasnya produk-produk yang telah dikembangkan di Indonesia ini.

Sementara itu Menteri Perdagangan Arifin M. Siregar dalam laporannya mengatakan, PPE 1988 yang akan berlangsung hingga 27 Nopember mendatang itu merupakan PPE yang ketiga kalinya diselenggarakan, yaitu dimulai tahun 1986.

Pameran ini dalam perkembangannya telah banyak mengalami peningkatan baik dilihat dari pesertanya maupun pengunjung yang dari luar negeri yang akan menjajaki untuk mengimpor barang-barang dari Indonesia.

PPE 1988 ini diikuti oleh sekitar 340 perusahaan yang memamerkan barang berkualitas baik disebutkan pula pengunjung dari luar negeri yang menghadiri pameran tersebut sekitar 800 pengusaha lebih, yang 100 pengusaha diantaranya dari Jepang. Sedangkan lainnya dari negara-negara ASEAN, Eropa, Amerika Serikat, Australia dan negara-negara lainnya.

Arifin Siregar mengemukakan, PPE ini cukup efektif sebagai upaya meningkatkan ekspor Indonesia sehingga untuk masa-masa mendatang pameran semacam ini perlu ditingkatkan, bahkan kalau bisa dibuat permanen. Karena jumlah peminat yang mau mempromosikan barangnya pun terus meningkat sejalan dengan meningkatnya perkemban gan ekspor Indonesia belakangan ini.

Peninjauan

Seusai upacara pembukaan PPE tersebut Presiden Soeharto disertai Ny. Tien serta undangan lainnya melakukan peninjauan untuk melihat produk-produk yang dipamerkan di tiga Hall, Hall A, B dan C di APRJ tersebut.

Di Hall C, Presiden tampak banyak memberikan perhatian terhadap produk­produk meubel, khususnya produk-produk rotan yang berkualitas ekspor. Baik Presiden maupun Ibu Tien beberapa kali mencoba duduk di sofa yang dipamerkan itu.

Dalam kesempatan itu Presiden mendapat penjelasan tentang perkembangan industri permeubelan, khususnya yang berorientasi ekspor dari Ketua Asosiasi Meubel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Bob Hasan.

Di Hall A, Presiden dan Ibu Tien juga menunjukkan perhatian khusus terhadap produk-produk tekstil dan garmen yang juga berorientasi ekspor. Di samping melihat­lihat produk tersebut, Kepala Negara juga melontarkan pertanyaan-perta nyaan kepada beberapa pengusaha tentang ekspor yang telah dilakukannya.

Salah seorang peserta PPE tersebut M. Manimare pimpinan industri tekstil Texmaco dari Pemalang, Jawa Tengah menjelaskan pihaknya kini telah mengekspor berbagai tekstil dan benang tenun dan pakaian jadi ke 50 negara di Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah dan ke beberapa negara di kawasan lainnya dengan nilai ekspor rata-rata senilai 6 juta dolar AS.

Barang-barang yang telah memasuki pasaran ekspor itu, di samping produk meubel dan tekstil juga masih banyak hasil industri lainnya seperti mesin disel, traktor untuk pertanian, mainan anak-anak, bermacam-macam produk karet dan plastik sampai alat tulis kantor, serta berbagai produk yang berhubungan dengan kegiatan organisasi dan manajemen.

J. Kamdani dari Datascrip yang mengaku baru menjajaki kemungkinan ekspor produk yang berhubungan dengan kegiatan organisasi dan manajemen itu, mengatakan bahwa masalah informasi dalam berbagai kegiatan bisnis kini semakin penting, karena tanpa ini tentunya akan tertinggal.

Dengan adanya PPE ini maka diharapkan peningkatan ekspor non migas yang diharapkan ini dapat tercapai, termasuk produk­produk yang tergolong berteknologi canggih yang telah dibuat di Indonesia.

Presiden Soeharto sekitar 1,5 jam melakukan peninjauan keliling di PPE 1988 itu. Dalam pesannya kepada para pengusaha peserta PPE Kepala Negara mengemukakan bahwa diharapkan pameran ini dapat memberi semangat yang lebih besar terutama untuk melahirkan pemikiran-pemikiran baru dalam mendorong peningkatan ekspor non migas tersebut.

Kepada seluruh jajaran Departemen Perdagangan, Kepala Negara juga menyatakan selamat dan terima kasih karena telah berusaha dapat menyelenggarakan pameran seperti ini secara teratur.

Dan diharapkan dalam waktu-waktu mendatang kegiatan seperti ini lebih ditingkatkan lagi sehingga para pembeli di luar negeri dapat mengetahui lebih luas lagi tentang kemampuan serta potensi yang ada di Indonesia ini.

Jakarta, MERDEKA

Sumber : MERDEKA (23/05/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 304-307.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.