Jan 072017
 

PRESIDEN BAHAS PENGADAAN PUPUK DENGAN MENPERDAG DAN MENHUB [1]

 

Jakarta, Suara Karya

Pengadaan pupuk impor dalam jumlah besar, dengan harga jual dalam negeri yang tetap dan tanpa mengakibatkan subsidi yang terlalu besar, hari Kamis dibahas Presiden Soeharto bersama Menteri Perhubungan Emil Salim dan Menteri Perdagangan Radius Prawiro, di Bina Graha.

Untuk menekan subsidi diambil langkah-langkah menekan harga pupuk impor ataupun menekan biaya angkutannya. Demikian penjelasan Menperdag Radius Prawiro kepada pers selesai pertemuan selama kurang lebih dua jam.

Pengadaan salah satu sarana produksi padi ini akan dicukupkan bagi keperluan musim tanam tahun 1976, tanpa subsidi, karena dalam tahun 1976 Pemerintah berniat memperluas areal Bimas.

Tepat Waktunya

Dalam hal menyalurkan pupuk tersebut Pemerintah akan menyediakannya di BUUD-BUUD, kabupaten dan propinsi. Dengan koordinasi kedua menteri (Perdagangan dan Perhubungan) juga akan diusahakan agar pupuk ada tepat pada waktunya. Dalam hal ini diperlukan keserasian antara bidang pembelian pupuk (Departemen Perdagangan) dan bidang pengangkutan (Departemen Perhubungan).

Sekali lagi radius menekankan tanpa menyebutkan jumlah pupuk yang akan diimpor, bahwa Pemerintah pada dasarnya menyediakan pupuk sesuai dengan kebutuhan, terutama bagi program Bimas.

Banjir

Dalam pertemuan dengan Kepala Negara, Menteri Emil Salim melaporkan bahwa Ditjen Perhubungan Darat sedang berada langsung di lapangan untuk menilai kerusakan-kerusakan akibat banjir, seperti di Jawa Timur.

Atas pertanyaan lain mengenai pengangkutan ekspor kayu Indonesia, Emil Salim menegaskan sekarang baru 5 % kayu diangkut dengan kapal berbendera Indonesia. Ekspor kayu seluruhnya 12 juta meter kubik per tahun. Jumlah 5% tersebut ingin ditingkatkan lagi menjadi 20%, tanpa mengganggu volume ekspor kayu itu sendiri. Dalam hal ini telah diadakan kontak dengan kelompok pengusaha Jepang dan telah dibentuk pula badan kerjasama, kata menteri.

Tosa Maru

Emil Salim melaporkan juga kepada Presiden mengenai langkah-langkah yang diambil setelah terjadinya tabrakan antara tanker Jepang Tosa Maru yang kosong dengan kapal Vactus Queen di perairan Singapura.

Dibenarkan memang ada sisa-sisa minyak dari tanker Tosa Maru dan sampai sekarang belum menggenangi perairan Indonesia. Untuk mengikuti perkembangannya telah ditugasi beberapa pejabat yang berada di dekat tempat kejadian tersebut. Demikian Emil Salim. (DTS)

Sumber: SUARA KARYA (25/04/75)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 713-714.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: