Mei 152018
 

PRESIDEN AWALI KUNJUNGAN KERJA DI JEPANG, PERTEMUAN DENGAN PENGUSAHA AS SUKSES [1]

 

Tokyo, Pelita

Presiden dan Ny.Tien Soeharto beserta rombongan tiba di Tokyo, Jepang, Minggu (27/9) setelah melakukan kunjungan kerja selama lima hari di New York, AS. Menurut rencana, Kepala Negara akan melakukan kunjungan kerja di Jepang selama tiga hari.

Wartawan Pelita Achmad Basori yang termasuk dalam rombongan itu melaporkan, selama di Jepang, Presiden dan Ny. Tien Soeharto akan diterima Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko, serta melakukan pembicaraan dengan PM Jepang Kiichi Miyazawa.

Sebelumnya, selama di AS, Kepala Negara yang juga ketua Gerakan Non Blok (GNB) itu sibuk dengan berbagai kegiatan, antara lain menyampaikan pidato pada sidang Majelis Umum PBB, pertemuan dengan lebih dari 400 pengusaha AS dan pembicaraan bilateral dengan lebih dari 10 kepala negara/kepala pemerintahan serta shalat Jum’at di Islamic Center.

Dengan pesawat khusus kepresidenan, Presiden Soeharto lepas landas dari Bandara John F. Kennedy hanggar 17 tepat pukul14.00 waktu setempat (26/9) atau pukul 01.00 WIB Sabtu (27/9) dini hari.

Presiden beserta rombongan yang menggunakan pesawat MD-11 Garuda Indonesia di Bandara JFK dilepas oleh Duta Besar/Wakil Tetap RI di PBB beserta Ny. Nugroho Wisnumurti, Dubes RI untuk AS beserta Ny. AR Ramly, beberapa pejabat AS dan para dubes/wakil tetap negara ASEAN yang ditempatkan di AS. Cuaca di Bandara JFK yang agak mendung dan dingin bertiup sedang dengan suhu 18 derajat Celsius cukup membuat dingin udara di sekitarnya yang menghantarkan rombongan Kepresidenan RI menuju Tokyo dengan lama penerbangan 24 jam. Rombongan terdiri dari Mensesneg Moerdiono, Widjojo Nitisastro, serta Dubes RI untuk Jepang Poedji Koentarso.

Pesawat yang diterbangkan oleh Kapten Pilot Totong Sampoemo mendarat di Bandara Haneda, Jepang, tepat pukul 17.00 waktu setempat atau pukul 15 .00 WIB. Di bawah tangga pesawat, Presiden dan Ny. Tien disambut oleh Menteri Sekretaris Negara/ Menlu a.i Jepang Koichi Kato, karena pada saat yang sama Menlu /Wakil PM Jepang Michio Watanabe sedang berada di New York menghadiri SU PBB. Seusai penyambutan, Presiden beserta rombongan menuju Hotel Imperial, tempat menginap selama berada di Jepang.

Hari pertama Presiden Soeharto berada di Jepang direncanakan tidak ada kegiatan sedangkan kegiatan baru dimulai pada hari kedua yakni pukul 12 .30 waktu setempat, Presiden dan Ny. Tien Soeharto melakukan kunjungan kehormatan, sekaligus santap siang bersama Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko bertempat di Istana Akasaka.

Dalam jamuan santap siang pribadi itu, Kaisar Jepang juga mengundang Ny. Siti Hediati Harijadi Prabowo yang bergabung dengan Presiden di New York. Seusai santap siang, petang harinya Presiden mengadakan pembicaraan bilateral dengan PM Kiichi Miyazawa bertempat di kantor PM Jepang,  selanjutnya pada petang harinya

PM Jepang dan Ny. Miyazawa mengundang rombongan resmi kepresidenan RI untuk santap malam di Istana Akasaka.

Hari ketiga, 29 September yang merupakan hari terakhir kunjungan kerja Presiden Soeharto di Jepang, pada siang harinya direncanakan menerima kunjungan kehormatan Menlu/Wakil PM Jepang Michio Watanabe bertempat diHotel Imperial.

Seusai menerima kunjungan kehormatan tersebut, rombongan kepresidenan RI tepat puku114. 00 waktu setempat direncanakan lepas landas dari Bandara Haneda menuju Bandara Halim Perdanakusuma dengan lama perjalanan tujuh jam 10 menit, dan tiba di Jakarta  tepat pukul19.10 WIB.

Sebelum meninggalkan negeri Paman Sam, Presiden melakukan pertemuan dengan pengusaha terkemuka AS di Hotel Waldorf Astoria, New York. Pertemuan yang dihadiri sekitar 400 lebih pengusaha terkemuka tersebut berlangsung selama dua jam lebih.

Sejumlah pejabat di PTRI dan KBRI menilai, merupakan hal yang tidak mudah mengumpulkan  sekian banyak pengusaha yang menentukan hidup matinya perekonomian dunia itu. Apalagi dilakukan hari Jum’at malam waktu setempat yang bagi para pengusaha kakap AS merupakan saat liburan akhir pekan, tapi ternyata mereka mampu dikumpulkan untuk bertemu langsung dengan Presiden Soeharto.

“Mereka yang minta, bahkan pihak perwakilan tetap R1 (PTRI) terpaksa menolak dan membatasi jumlah pengusaha yang hadir dalam pertemuan itu, sebelumnya daftar yang ingin bertemu 700 lebih, berhubung hotel tempat bermalam Pak Harto tidak mungkin menampung sekian banyak pengusaha AS, maka jumlahnya dibatasi hanya 480 saja,” kata Dubes RI untuk AS AR Ramly yang menjadi penghubung pertemuan itu.

Menurut Ramly, pihak Indonesia tidak mungkin memenuhi keinginan seluruh pengusaha AS itu untuk mengadakan pertemuan, karena terbatasnya tempat, sedangkan untuk pindah ke hotellainnya sangat tidak mungkin, karena menyangkut soal keamanan, protokoler dan aturan lainnya yang memerlukan waktu sangat lama. Pertemuan luar biasa itu disponsori US-ASEAN Councilfor Business and Technol­ogy Inc American International Group Asia Society dan American Indonesian Chamber of Commerce.

Mereka yang hadir dalam pertemuan itu rata-rata top manajer atau pemilik misalnya Surat American Express Bank John Murray, Direktur Eksekutif Bank of New York Morgan Brassier, General Motor, Exxon dan seluruh perusahaan yang menentukan hidup dan matinya perekonomian AS, untuk menuju New York mereka harus mempergunakan pesawat jet pribadi karena mereka rata-rata berada di luar New York, misalnya di Califomia, Washington atau San Fransisco dan mereka harus berada di tempat acara tepat waktu.

Berhubung dengan banyaknya pengusaha yang berminat hadir dalam pertemuan itu Conard Suite yang sebelumnya direncanakan untuk menampung 30 pengusaha, terpaksa hams ditambah dengan meja cadangan karena 18 pengusaha lainnya berupaya dengan keras untuk dapat duduk dan makan bersama dalam satu ruangan dengan Presiden Soeharto, sementara itu pengusaha yang lainnya disediakan tempat di Empire Room.

Maurice R Greenber, Ketua American Intertional Group selaku tuan rumah penyelenggara memperkenalkan satu persatu pengusaha yang hadir kepada Presiden Di antara pengusaha kelas kakap AS itu juga hadir beberapa pengusaha terkemuka Indonesia, antara lain Ir. Aburrizal Bakri, Manimaren dan Hashim Djojohadikusumo.

Para pengusaha AS itu benar-benar memanfaatkan pertemuan tersebut dan pihak penyelenggara dan keamananan benar-benar membatasi ruang gerak wartawan.

Kendati dalam acara pertemuan itu hanya beberapa menit, tapi para pengusaha kelas kakap itu memanfaatkan waktunya untuk menyatakan kesepakatan awal kerjasama, dan ada beberapa di antaranya seusai acara di Waldorf Astoria meninggalkan hotel bersama-sama satu mobil untuk urusan pribadi mereka .

Malam itu di pelataran parkir Waldorf Astoria Hotel seakan terjadi pamer kekuatan sehingga Park Avenue dari 50th serta 52nd Street penuh dengan mobil limousine terbaru  dengan segala kecanggihannya, karena pesawat jet pribadi mereka terpaksa harus diparkir sekitar 10 km di luar kota New York, sehingga untuk menuju jantung kota mereka terpaksa menempuhnya melalui jalan darat.

Pertemuan dengan pengusaha AS itu hanya diisi pidato tunggal dari Presiden Soeharto setebal tujuh halaman. Seusai pidato, acara diisi dengan saling melobi antar pengusaha. Bau wangi dan alkohol terasa dalam pertemuan itu sebagai wama The American Style.

Siang harinya, Presiden juga menerima Eksekutif Direktur Unicef James Grant, Direktur Eksekutif Badan kependudukan PBB Nafis Sadik Presiden Slovenia Milan Kucan dan Wapre Suriname Julius Ratam Unbar Ayodia dan Wakil PM Kuwait.

Dalam penjelasannya mengenai hasil pertemuan tersebut, Mensesneg Moerdiono mengatakan, baik James Grant, Nafis Sadik dan Wakil PM Kuwait menilai, sangat baik pidato Presiden Soeharto pada sidang Majelis Umum ke-47 PBB.

Secara khusus, Presiden Slovenia dan Presiden Soeharto sepakat menjajagi kemungkinan yang terbuka terha dap kerjasama ekonomi dan saling melakukan kunjungan antara pejabat kedua negara dan kalangan dunia usaha Presiden Soeharto kepada tamunya, menekankan kembali penting nya dialog Utara-Selatan, juga pentingnya negara industri maju memenuhi kesepakatan untuk menyediakan 0,7 persen dari pendapatan nasionalnya untuk membantu negara berkembang.

Sedangkan dengan Wapres Suriname dibicarakan untuk kian saling mempererat ikatan budaya yang sangat kuat. Suriname ingin mempelajari peningkatan produksi pangan Indonesia dan berbagai bidang lainnya. Negara itu berniat pula untuk mengimpor pupuk dari Indonesia karena selama ini mereka memperoleh pupuk dari Eropa dengan harga mahal.

Sumber: PELITA(28/09/ 1992)

_____________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 372-375.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: