Feb 052017
 
HM Soeharto dalam berita

PRESIDEN :

PRAMUKA HARUS JADI PELOPOR TERPERCAYA DALAM AMALKAN PANCASILA [1]

Sibolangit, Antara

Presiden Soeharto dihadapan 25.000 orang Pramuka penggalang dari segenap penjuru tanah air yang menghadiri Jambore Nasional 1977 di Sibolangit, Sumatera Utara, mengharapkan agar Pramuka benar2 dapat menjadi salah satu pelopor yang tetpercaya dalam menghayati dan mengamalkan Pancasila.

“Apabila Pancasila telah dihati dan diamalkan maka ia akan makin kuat berakar dalam hati setiap manusia Indonesia,” katanya ketika meresmikan jambore itu Minggu pagi.

Ia mengingatkan,

“kuatnya Pancasila dalam hati setiap manusia Indonesia akan memastikan kita makin cepat mendekati kehidupan yang indah dan membahagiakan lahir batin kita semua”.

Pada upacara tersebut hadir Wakil Presiden Sultan Hamengkubuwono IX, Nyonya Tien Soeharto selaku Wakil Ketua Majelis Pembimbing Nasional Kwamas Gerakan Pramuka, para menteri diantaranya Menteri Dalam Negeri Amirmachmud dan Menlu Adam Malik dan Pimpinan Pramuka dari seluruh Indonesia.

Nampak hadir pula sejumlah wakil2 dari perwakilan negara2 asing.

Sibolangit yang namanya dewasa ini menjadi terkenal dengan adanya jambore nasional Pramuka itu terletak di atas ketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut, 45 kmpada jalan Medan Brastagi.

Remaja Masa Kini

“Saya kira hanya sedikit saja teljadi, bahwa demikian banyak putera-puteri dari seluruh wilayah tanah air dapat berkumpul bersama dalam suasana gembira, bersatu, bersaudara dan bersemangat seperti sekarang ini,” kata Presiden.

“Saya merasa bangga karena kalian yang sehat, gembira, trampil, cakap dan bersemangat adalah calon2 pemimpin dan peserta pembangunan bangsa di masa datang. Presiden menyatakan, di tangan kaum remaja yang demikian kita semua akan memandang masa depan dengan penuh kepercayaan dan harapan”.

“Kaum remaja masa kini yang sating mengenal, percaya, tolong menolong seperti yang akan kalian tanamkan dalam hati kalian masing2 selama dalam perkemahan ini pasti akan merupakan benih yang sehat bagi persatuan dan persaudaraan bangsa Indonesia di masa datang”.

Presiden yang juga menjadi Ketua Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka mengajak para pramuka untuk terus berusaha melatih diri dan mengembangkan daya fikir dan ketrampilan membiasakan bergaul dengan orang lain serta membajakan semangat dan kemauan untuk mencapai sesuatu yang bermanfaat bagi diri mereka dan orang banyak.

Jangan Sewenang-wenang

“Jadilah Pramuka yang selalu mencintai dan menghormati orang lain sebagai sesama makhluk Tuhan, tanpa membedakan agama, suku bangsa, keturunan/warna kulit, kedudukan dsb. Janganlah sekali-kali bersikap sewenang-wenang terhadap orang lain, dan beranilah membela kebenaran dan keadilan,” demikian Presiden.

Presiden selanjutnya mengharapkan agar mereka menjadi Pramuka yang selalu cinta pada tanah air, mempertebal rasa kebangsaan dan memperkokoh persatuan. Selalulah menyiapkan diri untuk membela dan mempertahankan negara kesatuan RI yang berdasarkan Pancasila. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa.

“Jadilah Pramuka yang mengutamakanjalan musyawarah dalam memecahkan masalah2 yang dihadapi bersama, dalam mengadakan musyawarah itu hendaknya diutamakan kepentingan umum dan bersama. Taati dan laksanakan aturan2 dan hukum yang berlaku, yang bersumber pada putusan Rakyat yang sah.”

Jadilah Pramuka yang gemar memberikan pertolongan kepada orang lain yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan kalian, agar orang lain dapat memperoleh kemampuan untuk berdiri sendiri. Bekerjalah keras untuk memperoleh kemajuan.

“Apabila kalian memiliki kemampuan yang berlebihan, gunakanlah kemampuan itu untuk hal2 yang juga mempunyai manfaat bagi kepentingan umum dantidak untuk hal2 yang merugikan kepentingan umum.”

Mengenai penghayatan dan pengamalan Pancasila, Presiden menegaskan, harus dilaksanakan secara bulat dan keseluruhan. Rumusannya memang terang dan sederhana, tetapi pelaksanaannya jelas tidak mudah. Pelaksanaan memerlukan kesadaran dan kemauan keras dengan melatih diri sendiri secara terus menerus. Yaitu kesadaran dan keamanan untuk mengendalikan diri sendiri, mengendalikan kepentingan pribadi, pada saat kita terpanggil untuk memenuhi kewajiban kita sebagai makhluk sosial.

Kewajiban Terhadap Orang Lain

”Mengapakita harus mengendalikan diri sendiri untukmemperhatikankepentingan orang lain, kepentingan sosial?”, tanya Presiden.

Ia kemudian menjelaskan, bahwa

“telah merupakan kodrat bahwa kita sebagai makhluk Tuhan, tidak mungkin hidup tanpa bantuan orang lain. Sejak hadir dibumi ini, masa anak2 dan remaja, sebagai orang dewasa, sampai matipun kita tetap memerlukan bantuan, kerjasama danuluran tangan orang lain”.

“Oleh karena itu selama kita hidup, kita harus selalu ingat pada orang lain, harus selalu sadar bahwa kita ini mempunyai kewajiban terhadap orang lain, terhadap masyarakat,” demikian Presiden.

“Dengan bekal dan modal kesadaran itu kesadaran -mengendalikan diri untuk memenuhi kewajiban sebagai makhluk sosial- kita hayati dan amalkan Pancasila,” demikian Presiden.

Sebelum memulai pidatonya, Presiden telah mengajak para anggota Pramuka peserta jambore dan hadirin lainnya mengheningkan cipta untuk arwah para pahlawan yang telah mendahului kita.

Pengheningan cipta itu disusul dengan pembacaan sila2 dari Pancasila dan Dasadarma Pramuka serta kemudian dinyanyikan lagu himne Trisatia Pramuka.

Pramuka Milik Segenap Insan Indonesia

Gubernur Sumatera Utara, Marah Malim, selaku ketua panitia penyelenggara Jamnas Pramuka 1977 dalam sambutannya sebelum Jamnas itu dibuka, mengharapkan kepada para kontingen agar jangan merasa asing di perkemahan Pramuka di bumi Sibolangit, “karena tempat ini adalah sebagian dari wilayah negara kalian yakni Negara Republik Indonesia”.

Jamnas 1977 yang kali ini diselenggarakan di Sibolangit, Sumatera Utara, berthemakan:

“Persaudaraan, Patriotisme dan Ketrampilan”.

Marah Halim mengatakan bahwa Pramuka bukanlah kepunyaan siapa pun, melainkan adalah milik segenap insan Indonesia dari manapun datangnya.

Jambore nasional ini, kata Marah Halim yang adalah pula Ketua Majelis Pembimbing Gerakan Pramuka Sumatera Utara, tidak akan lenyap dari kenangan rakyat Indonesia dan khususnya para anggota Pramuka.

Dalam jambore itu ikut serta pula utusan2 Pramuka dari negara2 ASEAN, Negeri Belanda, Pakistan, Taiwan, Hongkong dan Australia.

Bendera2 nasional dari negara2 peserta Jamnas Pramuka 1977di Sibolangit itu nampak berkibar di samping Sang Saka Merah Putih.

Upacara pembukaan jambore yang ditandai dengan bunyi kentongan dan pelepasan balon2 yang terlukiskan lambang2 Pramuka itu, dimeriahkan dengan tari­tarian massal yang merupakan campuran dari berbagai macam tarian tradisionil Sumatera Utara dan yang dimaksudkan untuk memberi gambaran kepada mereka tentang wajah propinsi ini.

Maksud dan tujuan diselenggarakannya Jamnas itu antara lain ialah untuk menjadikan kaum remaja atau generasi muda manusia2 Indonesia seutuhnya seperti yang diharapkan oleh bangsa dan negara. (DTS)

Sumber : ANTARA (04/07/1977)

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 543-546.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: