Mei 242018
 

“PR” PRESIDEN SOEHARTO MASIH PANJANG[1]

Jakarta, Suara Pembaruan

Lain JMM Ritzen, lain pula Kiichi Miyazawa.Yang pertama, Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Belanda salah mengerti. Mestinya ia sudah langsung menangkap bahwa Presiden Soeharto yang baru 12 hari menjabat sebagai Ketua Gerakan Non Blok sudah langsung melakukan pekerjaan rumahnya. Kepala Negara mengemukakan kepada Ritzen yang mengadakan kunjungan kepadanya pandangannya, hendaknya dana yang tadinya diperuntukkan bagi Indonesia melalui IGGI, dipergunakan mendukung kerja sama pembangunan Selatan-Selatan.

Sebagai Ketua GNB, Presiden sudah mulai sibuk mencari berbagai dukungan untuk meningkatkan pembangunan di negara negara Selatan dengan menggunakan dana dari negara ketiga yang mampu . Pada penjelasan kepada pers di atas pesawat terbang dalam perjalanan kembali ke tanah air, Presiden menyebutnya sebagai tugas penting negara dan bangsa.

Cara kerja sama yang demikian bukan hal baru bagi Indonesia. Melalui program PBB TCDC (Technical Cooperation among Developing Countries, kerja sama di antara negara-negara berkembang), Indonesia sudah membagi macam-macam keterampilan kepada negara sesama berkembang di Afrika dan Pasifik. Nakhoda kapal yang melayari tempat-tempat di tepi Danau Victoria di Tanzania. Pembangunan perumahan, pertanian atau petemakan di beberapa negara Afrika lainnya. Pelatih bola atau main catur untuk negara-negara di Pasifik Selatan. Atau bengkel sepeda dan membuat genteng begitu Papua Nugini merdeka.

Di dalam negeri sendiri, Indonesia banyak sekali menerima trainee dari berbagai negara untuk belaj ar mengenai keluarga berencana dan berbagai bidang dimana Indonesia sudah bisa berbagai keterampilan.

Belakangan ini Indonesia sibuk pula mengembangkan dan berpartisipasi dalam trip artite arangement, yang formulanya tidak beda dengan TCDC. Negara Selatan atau berkembang saling berbagi pengalaman atau keterampilan dengan dibiayai oleh negara ketiga yang mampu.

Oleh karena itu tidak perlu diherankan bahwa Presiden Soeharto langsung memikirkan program yang sama, untuk segera mewujudnyatakan dan menerjemahkan berbagai rumusan pembangunan, hasil pemikiran para kepada negara/pemerintah GNB di Jakarta permulaan September.

Sebelum mengemukakan pandangan kepada sang Menteri Belanda, seolah bibir para Kepala Negara pada KTT belum kering dari pembicaraan, Presiden Soeharto sudah memberi berbagai tugas kepada beberapa anggota kabinet. Untuk langsung merumuskan kerja sama yang bagaimana dapat dilakukan dalam bidang masing­ masing.Kepala BKKBN Hatjono Soejonojuga mendapat “PR”. Bidangnya memang maha penting dalam menata kependudukan yang merupakan salah satu masalah di negara-negara berkembang.

Untuk pendekatan ke luar negeri seperangkat literatur sudah dipersiapkan. Terdiri dari pidato Presiden pada pembukaan dan penutupan KTT, The Jakarta Mesage dan Final Document yang keduanya hasil KTT, buku kecil hasil pemikiran banyak pakar top mengenai pembangunan Selatan yang baru saja bertemu di Jenewa dan diatur Indonesia dengan koordinator Prof. Dr.WidjojoN itisastro. Hasil pertemuan pakar dari seluruh dunia yang diprakarsa ·indonesia tersebut menurut Prof Widjojo sangat penting sekali dan perlu dipelajari dengan seksama untuk lebih mengerti apa yang akan diketjakan.

Perangkat literatur tersebut diserahkan Presiden kepada Presiden Roh Tae-Woo yang datang menemui nya di New York. Langsung saja Presiden Korsel tersebut memberikanjanji untuk turut berpartisipasi dalam kerjasama pembangunan Selatan Selatan seperti yang dijelaskan Presiden kepadanya. Juga kepada PM Selandia Baru James Bolger yang memberikan janji yang sama. Tetapi tidak kurang dari Presiden George Bush yang sedang berada di luar Washington untuk kampanye yang ketat, dua kali mencoba mengadakan hubungan telepon dengan Presiden Soeharto yang berada di New York. Ketika lewat pukul sepuluh malam kedua kepala negara akhimya berbicara. Presiden AS mengucapkan selamat kepada Presiden RI atas suksesnya KTT GNB. Ia juga berjanji akan berpartisipasi dalam kerjasama Selatan Selatan. Sebelumnya Presiden  Soeharto sudah mengiriminya perangkat litaratur disertai sepucuk surat.

Dalam rangkaian ini pula Presiden Soeharto menyampaikan hasil KTT GNB kepada PM Jepang Kiichi Miyazawa sebagai bagian dari pembicaraan mereka di Tokyo. Beda dengan Menteri Belanda, Miyazawa langsung memberi respon positif. Ia mengemukakan Jepang akan memikirkan dengan sungguh-sungguh bagaimana ikut melaksanakan hasil KTT GNB.

 

Masih Panjang

“PR” Presiden Soeharto masih panjang. Karena seperti Presiden katakan diatas pesawat terbang, hasil-hasil KTT harus diberitahukan bukan saja kepada masyarakat di negara-negara GNB, tetapi kepada dunia. Kepada Miyazawa, Kepala Negara RI yang Ketua GNB itu menjelaskan ia punya keinginan untuk memberitahukan hasil-hasil KTT kepada negara-negara anggota G-7 lainnya (group-7, terdiri dari negara-negara industri paling maju di dunia dimana Jepang menjadi anggota dan tahun depan akan menjadi tuan rumah KTT-nya).

Bak gayung bersambut, Miyazawa menanggapi keinginan Presiden dengan mengatakan Jepang akan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh bagaimana caranya untuk memulai dialog Utara Selatan dan sepenuhnya akan berkonsultasi dengan Presiden Soeharto. Seolah belurn cukup sampai sekian, Miyazawa masih menyebutkan pertemuannya dengan Presiden Soeharto tersebut dianggapnya sebagai bagian dari dialog Utara Selatan. Tentu saja. Bukankah Presiden Soeharto yang ketua GNB sudah mengemukakan masalah-masalah yang dihadapi Selatan dan berbagai program konkret yang disampaikannya merupakan cetak biru pelaksanaannya. Yang ada dalam pikiran Presiden Soeharto tidak lain bagaimana Selatan mendapat dukungan Utara dalam pembangunan, agar sebuah KTT seperti yang di Jakarta, tidak hanya suatu rutinitas setiap tiga tahunan tanpa menghasilkan apa-apa yang kongkret untuk mengangkat harkat rakyat di negera-negara anggota GNB. Kalau begitu sudah benar dong Miyazawa. Pembicaraan Soeharto- Miyazawa sudah merupakan bagian dari dialog Utara Selatan.

Telah lama kita ketahui Presiden Soeharto tidak pernah alpa mengemukakan pada setiap kesempatan pentingnya menghidupkan kembali dialog Utara Selatan. Bagian penting dari hasil-hasil KTT GNB Jakarta juga mengenai hal tersebut. Beberapa wakil negara-negara GNB yang diwawancarai penulis di Markas Besar PBB setelah mereka mendengarkan pidato Presiden Soeharto, mengemukakan berbagai forum yang bisa dimanfaatkan untuk memulai lagi dialog Utara Selatan.

“Serahkan kepadanya (Soeharto) ia mengetahui apa yang harus dilakukan,” ujar Menlu India Eduardo Felleiro, benar juga ia itu. Karena Presiden Soeharto sudah melakukan berbagai hal, dengan cara yang dianggap tepat oleh Indonesia.

Dalam dunia diplomasi, bahasa isyarat sering lebih membawa basil ketimbang cara-cara ngoyo. Bush sudah bilang akan, mengambil peran konstruktif dalam kelja sama Selatan Selatan. Miyazawa idem dito. Sayangnya tidaklah sesuatu yang gampang untuk mengatur pertemuan dengan beberapa kepala negara .

Di samping protokolnya yang rumit masing-masing kepala negara mempunyai kesibukan yang sudah diatur berbulan-bulan sebelumnya. Oleh karena itu kita gembira Miyazawa mengerti betul mengenai jalan pemikiran Presiden Soeharto. Ia memberi isyarat mengenai hal itu dengan membuat pernyataan Jepang akan bersungguh­ sungguh memikirkan bagaimana ikut melaksanakan hasil KIT GNB. Ia, Miyazawa, akan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh bagaimana memulai dialog Utara Selatan, kita percaya Miyazawa berbicara sungguh-sungguh.

Untuk membantunya kita sarankan agar ia yang akan menjadi tuarumah G-7 tahun depan memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Kesempatan menghidupkan kembali dialog Utara Selatan akan membawa citra bagus sekali bagi Jepang yang punya kemampuan ekonomi raksasa di dunia sekarang. Presiden Mitterrand dari Perancis pernah mengatakan, sebenarnya politisilah yang membimbing arah jalan kuda sejarah. Miyazawa juga demikian .

Soeharto yang Ketua GNB sementara itu akan terus melakukan “PR-n ya”. Semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita semua, kata Presiden, dalam perjalanan kembali ke Indonesia. Semoga.

Sumber: SUARA PEMBARUAN (30/09/1992)

 

________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 394-397.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: