Jan 082015
 

Lantik Empat Dubes Baru, Presiden Soeharto: Politik Luar Negeri Kita Bebas Aktif[1]

SABTU, 18 JANUARI 1975 Pada pagi ini juga Presiden Soeharto melantik empat Duta Besar Indonesia yang baru dalam suatu upacara di Istana Negara. Keempat duta besar itu adalah Laksda. Rachmat Sumengkar untuk Nigeria, Jenderal (Pol.) M Hasan untuk Malaysia, Mayjen. Ishak Djuarsa untuk Republik Khmer, dan Abdullah Kamil untuk Austria. Dalam pidato pelantikannya, Kepala Negara mengatakan bahwa tatanan politik sekarang ini telah menimbulkan kesadaran baru akan kemungkinan negara-negara di dunia untuk meningkatkan kesejahteraan bersama yang merata. Oleh karena itu hanya terbuka satu jalan, yaitu mengatur kembali tatanan dunia dengan membangun hubungan-hubungan baru dengan semangat dan tujuan baru, yang tidak lain adalah semangat kerjasama, bantu membantu dengan tujuan mengusahakan pembagian kekayaan dan pemikulan beban bersama yang lebih adil daripada yang selama ini telah berlangsung.

Selanjutnya dikatakan pula oleh Kepala Negara bahwa jalan yang ditempuh Indonesia dalam menyongsong tatanan dan kebutuhan baru itu sudah lama ditentukan, yaitu dengan melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Diakuinya bahwa jalan yang ditempuh tidak selamanya mudah, ada masanya dimana Indonesia terlalu kuat tertarik ke kanan, dan ada pula masanya negeri ini menyimpang terlalu ke kiri. Dikemukakan oleh Presiden bahwa Orde Baru berusaha meluruskan jalan yang ditempuh Indonesia itu dengan tetap mengabdikannya pada kepentingan pembangunan bagi kesejahteraan rakyat banyak. Ditegaskannya pula bahwa dengan hasil pembangunan yang telah dicapai, yang antara lain tampak dalam peningkatan kemampuan Indonesia memikul beban pembangunan, maka jalan politik luar negeri yang bebas aktif dapat lebih dimantapkan. (AFR)

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978”, hal 203-204. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: