Feb 142018
 

PNG INGIN MENYEWA TRANSPONDER SATELIT PALAPA

 

 

Jakarta, Antara

Papua Nugini (PNG) berminat menyewa salah satu transponder satelit komunikasi Palapa milik Indonesia, sebagaimana diutarakan Menlu Michael Somare kepada Menlu Ali Alatas di Jayapura, Irian Jaya, awal pekan ini.

Presiden Soeharto, setelah menerima laporan Alatas di Bina Graha Jakarta Kamis, memerintahkan Alatas segera menghubungi Menparpostel Soesilo Soedarman untuk meneliti kemungkinan tersebut. Menlu Alatas menjelaskan kepada wartawan, PNG memerlukan jasa satelit Palapa dalam masa dua tahun mendatang, sebelum sistem komunikasi satelit negara-negara Pasifik beroperasi.

Indonesia selama ini telah menyewakan sebagian transponder Palapa kepada beberapa negara tetangganya, baik untuk imbungan telekomunikasi maupun untuk memancarkan siaran televisi.

Dalam pertemuan kedua menlu di Jayapura Selasa, dibahas rencana pembukaan konsulat RI di kota Vanimo, PNG, tahun depan. Selasa itu kedua menteri berada di Jayapura untuk meresmikan konsulat jenderal PNG di ibukota propinsi Irian Jaya itu.

“Dengan adanya konsulat jenderal dan konsulat di masing-masing kota dekat perbatasan kedua negara, maka lalulintas orang dan barang antara kedua negara akan lebih lancar,” kata Alatas.

Somare pada pertemuan itu mengusulkan pula agar dijalin kerjasama antara kedua negara di bidang eksploitasi dan pengolahan sumberdaya alam di daerah perbatasan.

Kedua Menlu, dalam pertemuan itu membahas pula kemungkinan pertukaran tenaga pengajar perguruan tinggi yang ada di Irian Jaya dan universitas PNG, di samping membicarakan rencana pembukaan kembali jalur penerbangan antara Jakarta dan Port Moresby.

 

Kerjasama Selatan-Selatan

Kepada Presiden, Menlu Alatas melaporkan pula pembentukan Kelompok Tingkat Tinggi Bagi Kerjasama dan Konsultasi Selatan-Selatan,sebagai salah satu hasil KTT Gerakan Non-Blok di Beograd (Yugoslavia) yang telah diumumkan Ketua Komite Selatan-Selatan, Julius Nyerere.

Kelompok itu, menurut Alatas, akan terdiri dari kepala negara atau kepala pemerintahan dari sejumlah negara yang dipilih di antara anggota Non-Blok maupun negara berkembang lainnya.

Untuk sementara, negara yang ikut dalam kelompok itu adalah Aljazair, Argentina, Brazilia, Mesir, Indonesia, India, Jamaika, Malaysia, Meksiko, Nigeria, Peru, Senegal, Yugoslavia dan Zimbabwe.

Menlu Alatas juga melaporkan persiapan menghadapi pertemuan perdana Penjajagan atas Gagasan Kerjasama Ekonomi Pasifik yang akan berlangsung di Canberra (Australia).

Gagasan bagi kerjasama negara-negara di cekungan Pasifik itu datang dari PM Australia Bob Hawke. Pertemuan itu akan dihadiri semua negara ASEAN, AS, Jepang, Selandia Baru dan Australia sebagai tuan rumah.

 

 

Sumber : ANTARA(21/09/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 716-717.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: