Mar 312017
 

PETUNJUK PRESIDEN: HINDARKAN LOKASI TRANSMIGRASI DARI HUTAN – HUTAN PRIMER

Presiden Soeharto memberi petunjuk supaya penentuan lokasi bagi transmigran sedapat mungkin dihindarkan dari hutan-hutan primer.

Demikian Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Harun Zain mengemukakan kepada pers setelah dia bersama Menteri Muda Urusan Transmigrasi, Martona dan Dirjen Transmigrasi Kadarusno menemui Presiden di Bina Graha, Senin kemarin.

Alasan Presiden di dalam memberi petunjuknya itu, Menteri Harun Zain mengatakan, karena belakangan ini sudah nampak tanda-tanda persediaan kayu dunia semakin langka, sehingga nantinya nilai kayu semakin lama akan semakin tinggi. Sekarang ini saja hanya tinggal Indonesia dan Sabah saja yang merupakan pensuplai kayu yang terbanyak di dunia.

Di samping itu pembukaan hutan primer menjadi tempat transmigran tidak semuanya bisa dijamin sebagai tempat yang subur, sebagaimana terbukti (dan disaksikan oleh Presiden sendiri) di daerah Pemenang, kata Menteri.

Sesuai dengan petunjuk Presiden tersebut, Menteri Harun Zain mengatakan, di masa-masa mendatang lokasi transmigran akan diusahakan di tempat-tempat yang non-hutan primer seperti daerah-daerah yang berilalang. Dan untuk tahun 1980/1981 mendatang, sehubungan dengan petunjuk ini, Badan Koordinasi Transmigran (Bakortrans) sudah membatalkan 6 lokasi transmigran di hutan-hutan primer.

Ke-enam lokasi yang dibatalkan itu ada di Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Pembaharuan Jadwal Waktu

Dalam pertemuan dengan Presiden kemarin, menurut Menteri Harun Zain juga dilaporkan hasil usaha Bakortrans memperbaharui jadwal waktu (time schedule) pelaksanaan proyek-proyek transmigrasi sesuai dengan instruksi Presiden tanggal 20 Oktober 1979 yang lalu.

Instruksi Presiden kepada para Menteri dan para pejabat tinggi pemerintah yang masuk Bakortrans yang waktu itu dikumpulkan di Istana Merdeka adalah supaya para pejabat instansi jangan saling menunggu di dalam mengerjakan tugas masing-masing.

Sewaktu menerima laporan pembaharuan jadwal waktu tersebut dari Menteri Harun Zain kemarin, Presiden tetap memesankan supaya para pejabat instansi jangan pula kembali hanya berpatokan kepada jadwal ini di dalam melaksanakan tugas masing-masing.

"Kalau ada yang terlambat, instansi yang lain hams segera menyusul tanpa menunggu-nunggu", kata Harun Zain mengutip Presiden.

Mendorong Transmigrasi Spontan

Kemudian pada kesempatan itu, menurut Hamn Zain, Presiden juga memberi petunjuk supaya Bakortrans lebih mendorong kegiatan transmigran spontan. Dikatakan, belum lama ini Bakortrans bekerjasama dengan Yayasan Dharmais dan Pemda Bogor, telah memberangkatkan sebanyak 50 KK (Kepala Keluarga) transmigrasi spontan dari Bogor ke Baturaja.

Transmigrasi spontan dari Bogor tersebut, kata Harun Zain, termasuk menarik karena di antaranya ada yang berpendidikan sarjana.

Atas pertanyaan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi itu mengatakan, untuk mendorong transmigrasi spontan harus diusahakan sedemikian rupa sehingga daerah­daerah diluar pulau Jawa menarik bagi masyarakat.

Dengan mengambil contoh pada dirinya sendiri, Menteri mengatakan: "Mengapa saya dan kawan-kawan lain dari luar pulau Jawa tertarik datang ke pulau Jawa?", "Karena di pulau Jawa lebih enak", jawab wartawan menimpali. "Bukan hanya lebih enak, tetapi di pulau Jawa ada harapan bagi orang-orang yang berasal dari luar, akan memberikan harapan yang lebih baik di masa depan", kata Menteri.

Karena itu yang perlu digambarkan kepada masyarakat adalah masa depan yang lebih baik di masa mendatang daripada mereka tetap bertahan di pulau Jawa. Demikian Harun Zain. (DTS)

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (06/11/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 516-517.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: