Jul 202017
 

PERUSAHAAN-PERUSAHAAN AGAR TAK SALING BAJAK TENAGA-TENAGA INSINYUR/AHLI

Presiden Soeharto mensinyalir adanya pembajakan-pembajakan tenaga insinyur yang berlangsung di kalangan perusahaan2. Oleh karena itu diminta PIT (Persatuan Insinyur Indonesia) memikirkan masalah pembajakan tersebut sehingga tidak terjadi penurunan nilai tambah di kalangan perusahaan2 itu sendiri.

Sebab pembajakan2 tenaga insinyur akan menurunkan kualitas dan kuantitas tenaga2 insinyur, khususnya mereka yang benar2 bekerja sesuai dengan keahliannya masing2.

Menteri Negara RISTEK/Ketua Dewan Pembina PII Prof. Dr. BJ. Habibie yang juga selaku Ketua Dewan Pembina YPTI (Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia) menjelaskan masalah tadi selesai melapor kepada Presiden di Bina Graha Kamis kemarin bersama pimpinan2 PII/YPTI lainnya.

Menurut Menteri Habibie, perusahaan2 diminta agar tidak saling bajak tenaga2 insinyur, sebab kerugian pembajakan itu bukan saja diderita oleh perusahaan2 yang terbajak tetapi secara nasional juga akan dirugikan.

Pembajakan pada dasarnya tidak meningkatkan efisiensi dan produktivitas tenaga-tenaga insinyur malahan tindakan itu akan meningkatkan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan2 yang bersangkutan.

Perusahaan pertama yang terkena bajak tenaga insinyurnya jelas menderita rugi, tetapi perusahaan kedua yang membajaknya pun bisa menderita rugi sebab di samping harus membayar tinggi juga mungkin terincar pembajakan pula.

Untuk menghindari pembajakan2 tenaga Insinyur ini PIT kini tengah membantu pembentukan konsortium, kata Habibie. Konsorsium2 yang akan dibentuk ini nanti akan membantu perusahaan2 yang membutuhkan tenaga ahli/insinyur, Dengan demikian diharapkan pembajakan2 tenaga insinyur di kalangan perusahaan tidak terjadi lagi, katanya.

Hanya

Habibie mengemukakan, tenaga2 insinyur di Indonesia dewasa ini kira2 sekitar 36.000 orang. Dari jumlah itu hanya sekitar 20% yang benar2 bekerja sesuai dengan profesinya atau sekitar 7.000 insinyur lebih.

Namun tenaga2 insinyur yang benar2 bekerja di bidangnya hanya sekitar 20% dari sekitar 7.000 insinyur tersebut. Di samping itu, sekitar 50% dari seluruh jumlah insinyur mempakan insinyur-insinyur pertanian.

Dibanding dengan jumlah insinyur di Jepang, maka jumlah tenaga insinyur di Indonesia ini terlalu sedikit. Tenaga insinyur di Jepang dewasa ini mencapai sekitar 3,5 juta dan pertambahannya setiap tahun sekitar 74.000 insinyur.

Tenaga insinyur di Jepang sekitar 2,3 juta jiwa itu benar2 bekerja sesuai dengan bidangnya. Sedangkan dari seluruh jumlah lulusan itu, antara 20.000-30.000 insinyur lulusan bidang elektronika.

Jumlah Ditingkatkan

Dalam masa tinggal landas kita harus mulai bergerak melaksanakan pembangunan dengan tenaga2 kita sendiri, kata Habibie. Namun karena keterbatasan tenaga insinyur tadi maka kita harus meningkatkannya, baik kualitas maupun kuantitasnya.

Bukan hanya para lulusan saja yang ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya, namun kita juga harus meningkatkan kualitas tenaga-tenaga insinyur yang sudah ada.

Dalam masa 10 tahun mendatang ini produksi tenaga2 insinyur harus ditingkatkan. Kita tidak bisa menyerahkan begitu saja kepada perguruan tinggi negeri seperti Gajah Mada, ITB, Institut Teknologi Surabaya, karena kemampuan perguruan2 negeri ini sudah terbatas.

Karena itu perlu dibangun perguruan tinggi lainnya, kata Menteri Ristek. Untuk itu maka PII membangun perguruan tinggi yang dinamai ITI (Institut Teknologi Indonesia).

15.000 Insinyur

Rektor ITI Prof. Sudarsono Hadisaputro menambahkan dalam Pelita IV perguruan tinggi negeri hanya mampu menghasilkan sekitar 15.000 insinyur.

Presiden memandang jumlah ini kurang memadai sehingga perguruan tinggi swasta membantu memenuhi kebutuhan tenaga2 insinyur untuk pelaksanaan pembangunan.

Untuk pelaksanaan pembangunan masih banyak sekali dibutuhkan tenaga2 Insinyur. Namun berapa jumlahnya, menurut Habibie, hal ini sedang diinventarisasikan.

Sudarsono Hadisaputro mengemukakan, ITI yang baru berjalan kini mempunyai 815 mahasiswa. Tahun depan diharapkan meningkat menjadi 908 mahasiswa dan tahun berikutnya meningkat menjadi 1.800 orang.

Institut ini diharapkan mulai menghasilkan sarjana pada Pelita V Dengan demikian, diharapkan pada pelaksanaan pembangunan Pelita VI yang merupakan tahapan lepas landas ITI sudah memberikan sahamnya pula.

Hilang Jalan

Mengapa 80% dari tenaga2 insinyur hilang jalan/salah tempat? Menurut Habibie, hal itu terjadi karena pada awalnya bidang-bidang yang menampungnyakurang memadai. Namun dewasa ini pemerintah terus mempersiapkan wahana untuk mengembangkan bidang2 yang sesuai dengan keterampilan tenaga2 insinyur yang bersangkutan.

Keadaan semula memang demikian, di mana bidang-bidang yang sesuai dengan masing-masing keahlian insinyur masih langka sehingga banyak insinyur yang hilang jalan.

Sudah barang tentu insinyur yang tidak bekerja di bidangnya selama lebih dari 5 tahun, sudah untuk kembali kepada keterampilannya semula. Karena itu PIT diminta untuk lebih memperhatikan dan meningkatkan kualitas tenaga2 insinyur sehingga benar-benar berkualitas mantap.

Untuk lebih meningkatkan kualitas, dan juga kuantitas tenaga-tenaga insinyur itu, kalangan perusahaan sesungguhnya juga bisa berperan. Misalnya perusahaan-perusahaan memberikan beasiswa kepada para mahasiswa yang diingininya.

Hal seperti ini sudah umum terjadi di luar negeri. Jadi perusahaan2 itu memperoleh tenaga-tenaga ahli/insinyurnya tidak dengan cara membajak. (RA)

 

 

Jakarta, Business News

Sumber : BUSINESS NEWS (07/02/1984)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 993-996.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: