Mei 092017
 

PERSIDEN SERUKAN PENGEMBANGAN BIBIT UNGGUL TERNAK YANG SESUAI DENGAN KONDISI INDONESIA

Presiden Soeharto menyatakan bahwa dalam usaha meningkatkan mutu ternak, penelitian di dalam negeri sendiri, baik di balai penelitian maupun diperguruan tinggi, tidak kalah pentingnya karena dengan melakukan sendiri penelitian dapat dikembangkan bibit unggul ternak yang sesuai dengan kondisi Indonesia.

Dalam pidatonya pada peresmian pembukaan lomba dan pameran ternak nasional ke IV yang diselenggarakan di Cipanas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu pagi, Kepala Negara mengatakan bahwa dalam usaha meningkatkan mutu ternak itu pemerintah telah mengimpor bibit2 ternak.

Presiden menyebutkan usaha meningkatkan jumlah dan mutu ternak sebagai dua tantangan yang tidak mudah ditundukkan. Tapi dengan melaksanakan tantangan-tantangan itu akan dapat ditundukkan dan hambatan dapat disingkirkan dalam mengatasi masalah sosial ekonomi yang dihadapi

Presiden menyatakan kegembiraannya bahwa usaha meningkatkan jumlah ternak mulai dapat diwujudkan. Jika dalam Repelita I dan II jumlah ternak sapi dan kerbau menurun sejak 1980 penurunan itu dapat ditahan sehingga tidak bertambah merosot jumlahnya.

Bahkan sebaliknya, jumlah ternak sapi dan kerbau mulai dapat perbesar lagi dan peningkatan jumlah itu mulai tampak pada jenis2 ternak lainnya.

Presiden mengatakan bahwa jumlah ternak itu harus diperbesar karena masyarakat akan protein hewani terus menanjak. Kebutuhan terasa berlipat ganda lagi karena di samping jumlah penduduk Indonesia bertambah, daya beli masyarakat juga naik sebagai hasil pembangunan yang semakin merata dan maju.

Oleh karena itu semua usaha yang dilakukan selama ini untuk meningkatkan jumlah ternak harus diteruskan danditingkatkan dengan melakukan peningkatan kelahiran ternak dengan kawin suntik, memperkecil jumlah kematian ternak, mengegek pemotongan ternak betina yang produktif dan langkah2 lainnya.

Juga Intensifikasi dan Ekstensifikasi

Presiden menyatakan pula bahwa dalam mengembangkan peternakan dan Perunggasan juga harus dilaksanakan gerakan mtensifikasi dan ekstensifikasi seperti yang dilakukan dalam meningkatkan produksi beras yang telah mulai menunjukkan hasil.

Presiden menyerukan agar berbagai langkah yang telah diambil selama ini dalam meningkatkan jumlah dan mutu ternak diteruskan dan disempurnakan dan dengan demikian juga diatasi kekurangan2 yang masih ada. Usaha ekstensifikasi dilakukan dengan membangun daerah sumber bibit baru dan daerah peternakan baru.

Karena untuk ekstensifikasi ini diperlukan tanah2 yang luas, Presiden menyatakan bahwa perluasan itu harus dilakukan di luar pulau Jawa. Perluasan diluar Pulau Jawa ini dengan sendirinya dapat memeratakan gerak pembangunan daerah2 serta mendorong transmigran spontan.

Dalam usaha ekstensifikasi peternakan ini, Presiden meminta agar dijaga keselamatan lingkungan hidup dan kelestarian sumber alam. Dengan langkah2 tersebut, kata Presiden, seperti halnya dengan seluruh pembangunan yang telah dilaksanakan, maka pengembangan peternakan dan perunggasan tetap diletakkan dalam pola besar pembangunan secara menyeluruh.

Ditujukan pada Pengusaha Kecil

Presiden juga meminta perhatian agar pengembangan ternak dan unggas ini ditujukan pada pengusaha2 kecil dan usaha keluarga karena jenis ternak dan unggas tertentu sangat cocok dilakukan dikalangan keluarga. Dengan demikian usaha ini menambah penghasilan keluarga.

Oleh karena itu Presiden mengingatkan agar pengembangan usaha ternak dan unggas ini jangan memusat pada sekelompok pengusaha besar saja.

"Berdasarkan kebijaksanaan yang telah digariskan sejak beberapa tahun yang lalu dalam membina usaha ternak khususnya ternak ayam harus diutamakan kepentingan peternak2 kecil."

Dengan tujuan agar peternak2 kecil ini maju dalam usahanya, mereka perlu berhimpun dalam koperasi, yang dalam Repelita III dan dalam tahap pembangunan selanjutnya terus diperkuat dan diperbanyak sehingga akhirnya gerakan koperasi ini menjadi soko guru perekonomian nasional.

Presiden mengatakan bahwa pengembangan ternak dan unggas ini akan memperluas kesempatan kerja, memperbesar penghasilan petani peternak dan dapat mencukupi kebutuhan pangan dan makanan sehat bagi bangsa Indonesia, di samping manfaat lainnya.

Indonesia memiliki kesempatan besar untuk mengembangkan peternakan dan perunggasan ini, antara lain karena masih luasnya tersedia tanah2 di luar Pulau Jawa, kata Presiden.

Lomba dan pameran temak nasional IV ini dilakukan dalam tahun 1981, tahun peringatan Hari Pangan Dunia Pertama, yang bertujuan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan produksi pangan.

Dengan mengingatkan kembali bahwa situasi pangan dunia saat ini masih berada dalam keterbatasan, Presiden menyerukan pada segenap lapisan masyarakat bangsa Indonesia agar Lomba dan Pameran Ternak ini digunakan untuk menggalakkan penyediaan protein hewani dengan mengembangkan jenis ternak baru seperti kelinci, burung puyuh dan jenis ternak lainnya.

Dalam rangka Lomba dan Pameran Ternak IV ini juga diselenggarakan pertemuan antara para peternak teladan dari seluruh Indonesia. Organisasi2 profesi, perhimpunan peternak, kalangan perguruan tinggi dan instansi2 pemerintah.

Oleh karena itu Presiden berharap agar pertemuan itu benar2 dapat menghasilkan hal2 yang berguna bagi pembangunan, khususnya pembangunan di bidang peternakan. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (05/09/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 427-429.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: