Nov 142017
 

PERKEMBANGAN POLA PIR IKAN CAKALANG DI IRJA

Jakarta, Antara

Penerapan pola PIR pada penangkapan ikan cakalang di Sorong, Irian Jaya, dan Maluku Utara memperlihatkan hasil menggembirakan karena hasil tangkapan dan pendapatan nelayan meningkat, kata Dirjen Perikanan hari Sabtu.

Ketika menjelaskan kepada wartawan mengenai laporannya tentang perkembangan pola PIR cakalang kepada Presiden Soeharto di Bina Graha, Dirjen Perikanan Suprapto mengatakan sejak Januari hingga September cakalang yang ditangkap 7.000 ton, 3.700 ton di antaranya diekspor.

Dari jumlah 7.000 ton tersebut, 4.000 ton di antaranya berasal dari tangkapan para nelayan dan selebihnya PT (Persero) Usaha Mina. Tahun lalu jumlah produksi total 5.506 ton, 4.000 ton di antaranya hasil tangkapan Usaha Mina.

Suprapto mengatakan berdasarkan sistem PIR ini, BUMN tersebut menyediakan rumpon, es, umpan, bahan bakar serta asuransi bagi perahu nelayan, serta pemasaran hasil tangkapan. Dengan demikian para nelayan tidak perlu lagi menghadapi kesulitan memasarkan ikannya karena sudah ada yang menampung tangkapannya dengan harga yang pasti.

Harga satu rumpon antara Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta dan kedalaman lautnya adalah antara 1.500-2.000 meter. Penangkapan ikan di daerah ini berhasil karena memanfaatkan data satelit yang mampu memberitahukan tentang daerah yang padat ikan cakalang.

Pendapatan buruh nelayan kini mencapai Rp 140.000/bulan dibanding sebelumnya Rp30.000/bulan sedang yang diperoleh pemilik kapal juga naik menjadi Rp 1,6 juta/bulan dibanding Rp 550.000/bulan. Satu kapal bisa menampung sepuluh buruh nelayan.

Dirjen mengatakan produksi PT Usaha Mina tahun ini menurun dibanding tahun 86, karena nelayan mendapat kesempatan untuk menangkap lebih banyak dibanding periode sebelumnya.

Kapal milik BUMN tersebut ada yang dijadikan gudang pendingin untuk menampung ikan tangkapan nelayan.

Ia mengatakan sebelum diterapkannya pola PIR cakalang, rakyat terpaksa membawa sendiri ikan tangkapannya ke Sorong untuk dijual kepada PT Usaha Mina sedang sekarang kapal-kapal pengumpul Usaha Mina yang justru mendatangi perahu nelayan.

Manfaat lainnya adalah ikan itu dalam keadaan segar bisa langsung diekspor, sebab kapal-kapal yang akan membawa cakalang ke luar negeri langsung mendatangi kapal pengumpul. Cakalang ini pada umumnya diekspor ke Thailand dengan harga 700-800 dolar AS/ton.

“Dengan demikian terjadi penghematan, karena nelayan bisa menghemat ongkos dan perusahaan (Usaha Mina, red) juga menghemat biaya penanganannya,” kata Suprapto.

Ketika ditanya tentang kesulitan yang mungkin dihadapi pola PIR ini, ia menjelaskan dikhawatirkan nantinya akan muncul pembeli liar yang mampu menawarkan harga lebih tinggi dibanding yang diberikan PT Usaha Mina.

Presiden Soeharto memberikan petunjuk agar usaha ini dikembangkan ke daerah­ daerah lainnya dan mengikut sertakan pengusaha swasta terjun ke dalam bidang usaha ini.

Jika nanti ada pengusaha yang ikut serta maka akan ditentukan wilayah kegiatannya untuk menghindari adanya usaha yang tumpang tindih diantara mereka.

Kegiatan ini akan dikembangkan ke berbagai wilayah lainnya seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Ambon, katanya.

Jakarta, ANTARA

Sumber : ANTARA (17/10/1987)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 858-859.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: