Feb 132018
 

PERKEMBANGAN PERS NASIONAL UMUMNYA MENGGEMBIRAKAN

 

 

Jakarta, Antara

PRESIDEN SOEHARTO menilai perkembangan pers nasional pada umumnya memperlihatkan gejala yang menggembirakan, yang tercermin pada peningkatan mutu, manajemen, sirkulasi maupun kualitas cetaknya.

“Pengembangan tugas dan fungsi pers diarahkan pada terwujudnya pers Pancasila, yang pola pikir dan mekanismenya diorientasikan pada pembangunan,” demikian Presiden dalam lampiran pidatonya ketika menyampaikan nota Keuangan dan RAPBN 1989/90 di depan rapat paripurna DPR di Jakarta hari Sabtu. Untuk peningkatan kadar pers yang bebas dan bertanggung jawab serta berorientasi kepada pembangunan nasional, menurut Presiden, terus dilaksanakan pembinaan demi terwujudnya pers yang sehat dan mandiri.

Selama Pelita IV, sampai dengan Agustus 1988, pembinaan pers dan grafika nasional dilaksanakan oleh Pemerintah bersama Dewan Pers, sebagai lembaga yang mendampingi Pemerintah dalam membina pertumbuhan dan perkembangan pers nasional. Dalam pelaksanaannya telah dilakukan berbagai kegiatan, antara lain meliputi pembinaan dibidang pengusahaan pers, pembinaan grafika dan publikasi, demikian tambahnya.

Presiden juga menyebutkan bahwa Pemerintah terus melanjutkan berbagai kegiatan pembinaan pers, kewartawanan dan kerjasama internasional, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pers yang bebas dan bertanggung jawab serta berorientasi kepada pembangunan nasional.

Pembinaan pers itu, antara lain dilaksanakan melalui peningkatan arus informasi ke pedesaan melalui Koran Masuk Desa (KMD) di 26 propinsi, yang melibatkan 50 penerbit dengan kapasitas 22.306.000 eksemplar, serta pembentukan kelompok­kelompok pembaca KMD.

Dalam lampiran pidatonya hari itu, Presiden juga mengemukakan bahwa selama Pelita IV telah diadakan pembinaan kewartawanan sekali dalam tiga bulan, untuk membicarakan pemantapan kebebasan pers yang bertanggungjawab.

Selama pembinaan itu telah dicapai adanya konsensus bahwa para pimpinan redaksi akan saling menjauhkan diri dari penerbitan atau ulasan yang sifatnya dapat menimbulkan salah tafsir bagi masyarakat luas, pornografi dan sadisme. Selain itu, para pemimpin redaksi juga harus selalu menerapkan saling pantau terhadap kebenaran suatu pemberitaan dan sebagai hasil nya telah terlihat adanya penurunan kuantitas pemberitaan pers yang sifatnya sensasional, terutama sejak 1987.

Mengenai kerjasama internasional, dalam periode yang sama antara lain telah berhasil dikembangkan kerjasama dengan organisasi perwakilan diplomatik atau organisasi pers asing di Jakarta, melalui penyelenggaraan pertemuan secara periodik. Sementara di bidang perfilman dan rekaman video nasional selama Pelita IV, menurut Presiden, dititik beratkan pada usaha peningkatan mutu dan jumlah produksi film nasional baik untuk dalam negeri maupun luar negeri.

Selama lima tahun terakhir, telah diproduksi lebih dari 1.000 judul film antara lain film penerangan, pengenalan sejarah dan seri boneka Si Unyil, sedangkan produksi film nasional yang dilakukan oleh swasta tetap dikaitkan dengan usaha pembinaan bangsa.

Untuk menunjang perfilman nasional juga telah ditempuh usaha promosi dan pemasaran ke luar negeri, melalui berbagai Festival Film dan pekan film internasional, selain mengadakan produksi bersama dengan produser asing.

 

 

Sumber : ANTARA (07/01/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 667-668.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: