Jan 052017
 

Peringatan Presiden:

KEPADA NEGARA LAIN YANG LINDUNGI BEKAS TOKOH2 PKI [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto memperingatkan, bahwa negara lain yang terus melindungi bekas tokoh-tokoh pemberontak PKI atau yang terang2an menyokong bangkitnya kembali PKI di negeri ini, dianggap sebagai tindakan yang mencampuri urusan dalam negeri Indonesian dan bersikap tidak bersahabat.

“Dalam rangka inilah harus kita lihat, mengapa sampai sekarang hubungan diplomatik kita dengan Republik Rakyat Cina masih sulit dicairkan,” kata Presiden dalam Pidato Kenegaraan pada pembukaan masa persidangan pertama tahun sidang 1975/1976, DPR hari Sabtu, di Jakarta.

Dalih “perang pembebasan” kita tolak, jika itu berarti pemberontakan yang berselubung terhadap negara yang syah, katanya menegaskan.

Sepenuhnya Hak dan Urusan Indonesia

Kepala Negara selanjutnya menegaskan, adalah sepenuhnya hak dan urusan dalam negeri kita, bila kita berketetapan hati untuk membangun masyarakat yang berdasarkan Pancasila.

“Kita tidak menghendaki dan kita melarang adanya Partai Komunis di Indonesia, karena Kemerdekaan kita yang ke-30. Suatu kemerdekaan yang kita peroleh dengan perjoangan yang sangat berat dan sangat panjang.”

Kita panjatkan segala puji syukur yang sedalam-dalamnya ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala ketabahan yang diberikan-Nya kepada bangsa kita dalam mengatasi segala cobaan perjoangan itu. Kita juga mensyukuri segala nikmat yang dilimpahkan kepada kita dalam mengenyam hasil perjoangan tadi.

Saat-saat seperti inijuga membawa fikiran dan kenangan kita kepada semua mereka yang telah memberikan pengorbanan demi tercapainya kemerdekaan dan semua mereka yang telah berjasa hingga kita mencapai taraf kehidupan bangsa seperti sekarang ini; kepada semua pahlawan yang dikenal maupun yang tidak dikenal yang telah gugur, kepada ketabahan hati mereka yang telah mengalami hidup terpencil di tempat-tempat pengasingan atau meringkuk dalam penjara-penjara yang buruk dari pemerintahan penjajah, kepada janda-janda yang ditinggalkan oleh suaminya dan kepada piatu yang ditinggalkan oleh ayahnya, kepada mereka yang cacad badan karena perjoangan.”

Bukan Sekedar Bebas

Sebagian dari kita telah hidup lumayan, sebagian lagi hidup berkecukupan. Tetapi bahagian terbesar dari rakyat kita masih terus berjoang untuk mencapai kehidupan yang lebih pantas. Semuanya itu mengingatkan kita, bahwa usaha untuk memberi isi kepada kemerdekaan masih merupakan perjoangan yang panjang. Sejak semula kita sadari, arti kemerdekaan bukanlah hanya kemerdekaan politik, bukan sekedar bebas dari penjajahan asing. Arti sesungguhnya dari kemerdekaan adalah dengan kemerdekaan politik itu kita mengurus diri sendiri untuk mencapai cita-cita kehidupan bangsa yang kita anggap baik.

Karena itu kita harus terus memperbaiki tekad, menggalang kekuatan dan meluruskan jalan agar cita-cita kita bersama itu dapat lebih kita dekati. Dalam arti itulah kita peringati usia 30 tahun Kemerdekaan Nasional kita.

Bukan Jasa Perorangan

Peringatan hari Ulang Tahun Kemerdekaan kita kali ini mempunyai arti yang khusus. Karena, usia kemerdekaan kita telah mencapai 30 tahun. Kelipatan sepuluh tahunan adalah waktu yang pantas untuk menilai perjalanan sejarah kita.

Ada cukup jarak waktu antara masa kini dan masa lampau dimana kita menjadi pelaku-pelaku dan pembuat sejarah itu. Jarak waktu yang cukup tadi lebih memungkinkan kita membuat penilaian yang jujur, objektif dan tenang.

Untuk kepentingan kelanjutan pembangunan bangsa kita ingin dapat mengetahui dan merenungkan kembali apa yang baik dan apa yang buruk, apa keberhasilannya dan apa kegagalannya. Kita sama sekali tidak mencari siapa yang berbuat baik dan tidak mengecam siapa yang berbuat buruk, tidak memuji-muji siapa yang membuat perjoangan ini berhasil dan tidak perlu mengutuk siapa yang membuat perjoangan itu gagal.

Sikap ini sangat penting, karena perjoangan kita sejak semula adalah perjoangan bangsa secara keseluruhan. Yang perlu kita nilai adalah pengalaman bersama, bukan jasa atau kekeliruan perorangan.

Dengan sikap itu marilah kita mengadakan renungan ulangan mengenai pengalaman bangsa dan negara kita selama 30 tahun ini.

Bersamaan dengan itu harus juga kita lihat bersama tantangan-tantangan dan tugas kita dimasa depan. Dengan begitu kita melihat diri kita sendiri dalam perspektif sejarah: masa lampau, masa kini dan masa datang. Dan dengan merenungkan kembali pengalaman­pengalaman itu, kita akan menemukan kekuatan dan kemungkinan-kemungkinan baru untuk menyelesaikan tugas-tugas dan makin mempercepat pelaksanaan pembangunan di masa datang.

Di masa lampau memang kita telah membuat kesalahan-kesalahan, kita dilekati dengan kelemahan-kelemahan dan kita pemah mengalami kegagalan-kegagalan. Tetapi juga terang bahwa di masa lampau itu kita telah mengambil putusan-putusan sejarah yang tepat, kita memiliki kekuatan-kekuatan hingga kita tegak berdiri sampai saat ini dan ktajuga mencatat keberhasilan-keberhasilan hingga kita sampai pada keadaan seperti sekarang.

Semuanya itu perlu kita kenal dan kita kaji. Bukan hanya kenyataannya, melainkan terutama sebab-sebabnya. Pendek kata, kita perlu terus menerus mawas diri, sebagai pribadi-pribadi maupun sebagai bangsa. Dengan mawas diri itu kita akan mengetahui kekurangan kita sendiri. Dan dengan mengetahui kekurangan ini, akan timbul kemauan dan usaha untuk memperbaiki. Hal ini sangat penting, sebab proses pembangunan suatu bangsa adalah pemikiran dan usaha yang terus menerus untuk membuat yang kurang baik menjadi baik dan membuat apa yang telah baik menjadi lebih baik lagi. Tanpa sikap dasar demikian pembangunan akan macet, sebab pembangunan itu sendiri adalah proses yang tidak ada henti-hentinya dari pada perobahan menuju perbaikan.

Perbaikan mutu kehidupan kita, lahir maupun batin, perorangan maupun bersama-­sama. Seperti yang acapkali saya tekankan, pembangunan kita mengandung arti pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia keseluruhannya.

Berbeda Masalah

Ukuran yang harus kita gunakan dalam mengadakan renungan kembali perjalanan sejarah kita selama 30 tahun adalah dasar, cita-cita dan tujuan Kemerdekaan Nasional kita.

Tantangan dan masalah yang kita hadapi sekarang terang berbeda dengan tantangan dan masalah yang kita hadapi ketika kita menyatakan Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Tantangan dan masalah yang kita hadapi dalam dasawarsa-dasawarsa yang akan datang jelas juga akan berbeda dengan apa yang kita hadapi masa sekarang.

Tantangan dan masalah-masalah 30 tahun di depan kita misalnya bukan hanya berbeda dari sekarang, melainkan perbedaan-perbedaan itu akan berobah dengan kecepatan yang tinggi. Jauh lebih cepat dari perobahan yang teIjadi selama 30 tahun yang bam lewat. Ini disebabkan, karena pembangunan kita dan perkembangan dunia juga berobah dengan sangat cepat.

Karena itu yang berbeda adalah jawaban dan cara-cara kita dalam menghadapi tantangan dan masalah tadi.

Namun begitu ada masalah-masalah pokok yang sarna sekali tidak boleh berobah, ialah cita-cita dan tujuan Bangsa Indonesia yang secara padat tersimpul dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Inilah yang harus kita gunakan sebagai ukuran dalam merenungkan ulang pengalaman sejarah kita.

Tahun-tahun permulaan sesudah Proklamasi Kemerdekaan adalah hidup atau matinya Republik Indonesia yang baru lahir.

Masa itu kita menghadapi musuh-musuh Islam, kekuatan penjajahan yang ingin kembali berkuasa di bumi Indonesia. Karena tantangan utama adalah kekuatan bersenjata, maka jawaban dan perhatian kita juga tertuju pada perjoangan bersenjata melawan musuh dalam perang Kemerdekaan. Segala pikiran dan tindakan, segala kemarnpuan dan organisasi, kita tumpahkan sepenuhnya pada perjoangan bersenjata untuk mempertahankan Kemerdekaan Nasional. Karena perjoangan bersenjata yang menjadi pusat perhatian kita, maka kita belum sempat menyusun aparatur Pemerintah dan kekuatan ekonomi nasional secara baik. Malahan kita menghancurkan dan membumihanguskan apa saja yang sekiranya dapat dipakai oleh musuh. Dengan persatuan, dengan Perang Rakyat semesta, dengan bergerilya dengan basis di desa­-desa, akhirnya kita menang dalam perjoangan besar ini.

Kedaulatan Kita Diakui oleh Dunia Luar

Harus kita catat bahwa dalam perjoangan melawan penjajahan ini, kita ditusuk dari dalam oleh pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948.

Sekarang, apabila kita renungkan ulang, maka tampak bahwa kekuatan pokok kemenangan kita waktu itu adalah persatuan dan kerelaan berkorban untuk mempertahankan Kemerdekaan dan cita-cita Kemerdekaan. Di dalamnya terkandung nilai-nilai, cita-cita dan tujuan perjoangan yang membuat kita bersatu padu.

Dilandasi oleh nilai-nilai ’45 dan untuk mencapai cita-cita dan tujuan bersama yang luhur dan mumi, maka gairah peIjoangan kita bangkit dan kita rela berkorban.

Praktek-praktek Liberalisme

Dalam dasawarsa 50-an kita mengalami masa penertiban diri kedalam. Kita berkemas-kemas untuk menyongsong jaman bam, jaman setelah Perang Kemerdekaan dan setelah pengakuan kedaulatan. Tetapi jalan yang kita tempuh belum lapang. Dalam masa ini timbul pikiran dan usaha-usaha untuk merombak dasar dan tujuan negara; baik dengan jalan parlementer maupun melalui pemberontakan ­pemberontakan, baik dengan terang-terangan maupun lewat gerakan dibawah tanah, Dibidang politik dan ekonomi muncul praktek-praktek liberalisme yang buruk. Puluhan partai dan program yang jelas. Pemerintah jatuh bangun dan karena itu tidak mungkin dapat menjalankan program pembangunan yang dicita-citakan rakyat dalam alam kemerdekaan. Pemberontakan bersenjata hampir sambung menyambung, yang umumnya merupakan kelanjutan dan bentuk lain daripada perjoangan politik. Dalam keadaan demikian terang pembangunan terbengkalai.

Walaupun pengorbanan terlampau banyak, tetapi kita bersyukur bahwa masa yang sulit itu terlampau dengan selamat.

Negara Republik Indonesia peristiwa itu kita kembalikan kepada Negara kesatuan. Pemberontakan – pemberontakan bersenjata kita padamkan.

Kemacetan Konstituante dalam menetapkan Undang-Undang Dasar diatasi dengan Dekrit kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 di tahun 1959. Sebagai bangsa kita memang nyaris mengalami bencana karena kita seolah-olah mengoyak­ngoyak diri sendiri.

Dalam masa itu pikiran dan tindakan kita dilekati dengan praktek-praktek buruk liberalisme yang berarti menyimpang dari Pancasila, kita melaksanakan demokrasi parlementer yang berarti menyimpang dari semangat Undang-Undang Dasar 1945.

Ditambah lagi dengan adanya pikiran-pikiran dan kegiatan – kegiatan untuk merobah Dasar Negara kita.

Jor-joran

Pada masa berikutnya dasawarsa 60-an bangsa kita untuk kesekian kalinya masih mengalami ujian, kali ini ujiannya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang menegaskan kita kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 mendapat dukungan luas dari rakyat Indonesia, karena rakyat tahu itu berarti kita kembali kepada kemumian dasar cita-cita tujuan kemerdekaan.

Namun perkembangan selanjutnya makin terang menunjukkan bahwa kenyataan menyimpang dari harapan.

Pancasila Lama Kelamaan Dirobah Menjadi “Nasakom”

Pertentangan di antara partai – partai politik menjadi tajam karena didasarkan pada perbedaan yang meruncing dalam ideologi golongan, yang malahan menyeret masyarakat ke dalam kotak-kotak yang terpisah serta penuh dengan ketegangan.

Ajaran-ajaran “revolusi yang belum selesai” politik adalah panglima “jor-joran manipolis” dan banyak isinya lagi telah membawa masyarakat dan aparatur kepada pikiran-pikiran yang abstrak. Dalam keadaan begitu tentu saja masalah ekonorni dan pembangunan yang menjadi kunci penting bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat menjadi terbengkalai karena memang tidak mendapatkan perhatian.

Pelaksanaan politik luar negeri yang bebas dan aktif telah menyimpang ke arah politik luar negeri yang merangsang konfrontasi; serta makin memihak pada salah satu blok.

Undang-Undang Dasar ’45 menjadi lumpuh pelaksanaannya karena semuanya ditentukan oleh seorang “Pemimpin Besar”.

Dalam bentuk yang berbeda dalam masa itu kita mengulangi kesalahan yang kita lakukan dalam masa sebelumnya; ialah : Pancasila dan Undang-Undang Dasar ’45 menyimpang pelaksanaannya.

Suasana yang serba “revolusioner” itu dimanfaatkan oleh PKI untuk “mematangkan situasi” sebagai persiapan pemberontakannya yang kedua dalam sejarah Republik ini yang meletus pada akhir September tahun 1965. Memang ada rencana untuk merobah dasar negara oleh PKI.

Kembali untuk kesekian kalinya bangsa kita diuji oleh sejarah. Tetapi juga kembali untuk kesekian kalinya kita selamat. Kali ini kita bertekad agar mara bahaya yang hampir – hampir mencelakakan bangsa kita itu tidak terulang kembali.

Kita tidak mungkin tumbuh menjadi bangsa yang kokoh apabila bangsa kita dilemahkan oleh krisis demi krisis, diletihkan oleh pemberontakan demi pemberontakan. Kemakmuran dan kesejahteraan tidak mungkin kita nikmati jika tidak ada suasana untuk membangun dan kemauan untuk membangun.

Sebab itu wajar pemberontakan PKI di tahun 1965 yang dapat kita gagalkan itu, seluruh Bangsa Indonesia melakukan mawas diri terhadap sejarah dan pengalamannya dan mengambil langkah-langkah yang sangat mendasar untuk memperbaiki dirinya.

Langkah pertama sudah tentu menumpas pemberontakan PKI dan mengatasi segala akibat – akibatnya. Kita juga bertanya pada diri sendiri; mengapa pemberontakan itu dapat terjadi.

Namun renungan kita tidak berhenti disini. Kita mencoba menyusuri kembali sejarah ke belakang. Segera timbul pertanyaan, mengapa juga terjadi berbagai pemberontakan – pemberontakan dan gangguan-gangguan keamanan yang meletihkan bangsa kita selama dua tahun sebelumnya. Dan mengapa selama itu tidak tercapai kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat seperti yang menjadi cita-cita semula kemerdekaan kita.

Pertanyaan pokok itu membawa kita pada kesimpulan bahwa ada yang salah pada diri kita. Kesalahan inilah yang harus kita koreksi agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa datang. Hanya dengan koreksi yang tepat, kita akan dapat meluruskan kembali jalannya perjoangan kita untuk segera membangun bangsa yang kokoh, makmur dan adil.

Koreksi untuk meluruskan kembali jalannya perjoangan bangsa kita untuk tetap bergerak sepanjang cita-cita dan tujuan-tujuan Kemerdekaan Nasional yang kita proklamasikan pada tahun 1945 itulah yang membulatkan tekad bangsa kita untuk membangun Orde Baru.

Karena itu, Orde Baru tidak lain adalah tatanan segala kehidupan rakyat, bangsa dan negara kita yang kita letakkan kembali pada kemurnian pelaksanaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Namun rumusan itu belum berbicara banyak, kita harus menjabarkannya dalam strategi dan tujuan-tujuan yang jelas dan benar-benar dapat dilaksanakan.

Tanpa itu maka Orde Baru hanya akan menjadi kata-kata kosong tanpa dapat memberi makna kepada kehidupan kita dan ini berarti kita mengulang kesalahan yang sama.

Aspirasi Masyarakat

Seperti yang digariskan dalam Sidang MPRS pada tahun 1960, maka pembangunan harus menjadi program nasional kita yang baru; dengan prioritas pada pembangunan ekonomi, tanpa mengabaikan pembangunan dalam bidang-bidang lainnya.

Pembangunan bangsa dalam arti yang luas meliputi pengembangan nilai-nilai yang kita anggap luhur, menumbuhkan tata kehidupan masyarakat yang selaras, mengembangkan harkat dan bakat manusia, memelihara dan mengembangkan lembaga-lembaga dan tata cara yang kita pilih untuk hidup bersama dalam kesatuan Bangsa dan Negara ini.

Karena itu, pelaksanaan pembangunan ekonomi harus tetap mencakup pembangunan bangsa dalam bidang-bidang yang lain. Kemacetan-kemacetan kita di masa-masa yang lampau mengharuskan adanya pembaharuan di segala bidang, baik pembaharuan struktural maupun pembaharuan semangat; baik di bidang politik, di bidang ekonomi sendiri, di bidang sosial budaya, di bidang pertahanan keamanan dan sebagainya.

Dalam pada itu pengalaman kita mengajarkan, bahwa tanpa stabilitas maka pembangunan adalah mustahil. Oleh karena itu, maka menciptakan stabilitas yang mendukung pembangunan merupakan bagian penting dari pada strategi Nasional kita. Namun, karena pembangunan itu sendiri adalah perobahan menuju kemajuan, maka stabilitas yang kita bina haruslah stabilitas yang dinamis. Stabilitas yang dinamis yang dapat diwujudkan, apabila kita mampu mengembangkan nilai-nilai yang kita anggap luhur, mampu melaksanakan asas dan sendi kehidupan Negara yang telah kita tetapkan ialah Undang-Undang Dasar 1945 dan memberi ruang gerak yang cukup bagi tumbuhnya aspirasi-aspirasi masyarakat. Semuanya harus berjalan dengan tertib. Dari sini tampil aspek lain dalam strategi Nasional kita; ialah kita tumbuhkan demokrasi yang sehat, kita laksanakan kehidupan konstitusionil yang kuat dan kita tegakkan hukum yang mengayomi masyarakat dan membangun.

Namun itu saja belum cukup masih harus dibarengi dengan pembaharuan pola sikap, pola berfikir dan pola beketja kita semuanya. Pembaharuan-pembaharuan ini akan didorong juga oleh jalannya pembangunan ekonomi yang akan membuat masyarakat berfikir lebih rasionil, lebih terbuka, menghargai ketja, mengejar prestasi; yang semuanya itu merupakan prasyarat guna terwujudnya masyarakat modern.

Tetap Masyarakat Indonesia

Tetapi, seperti yang acapkali saya kemukakan, masyarakat Indonesia modern yang ingin kita bangun itu haruslah tetap masyarakat Indonesia juga; bukan masyarakat lain yang asing bagi kita sendiri. Karena itu pula pernah saya katakan, bahwa watak Orde Baru adalah bersikap realistis tanpa kehilangan idealisme. Dengan kata lain, kita pecahkan masalah-masalah kehidupan nyata yang kita hadapi masa kini dengan tetap memelihara arah cita-cita kita di masa nanti. Tanpa memecahkan persoalan-persoalan nyata dalam kehidupan, maka cita-cita akan tetap tinggal menjadi cita-cita tanpa makna. Sebaliknya, hanya terpaku pada persoalan-persoalan nyata di sekeliling kita tanpa memandang pada cita-cita ke depan akan membuat pembangunan kita tersebut di tengah jalan karena tanpa arah tujuan yang jelas.

Kunci Pokok

Saya telah mengajak kita mengamati sejarah ke belakang dan merenungkan arti pengalaman-pengalaman bangsa dan negara kita selama 30 tahun yang lalu. Pengamatan dan renungan itu menunjukkan beberapa hal pokok kepada kita.

Pertama, kita telah berhasil menegakkan Kemerdekaan Nasional serta memelihara persatuan dan kesatuan Bangsa. Walau melalui perjoangan yang panjang dan penuh pancaroba, kita berhasil dengan selamat keluar dari kancah revolusi yang melahirkan Kemerdekaan Nasional itu.

Arti keberhasilan kita ini menjadi semakin penting karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang terdiri dari bermacam-macam suku, yang memeluk agama dan kepercayaan yang berlain-Iainan, dengan tingkat sosial dan pendidikan yang sangat berbeda, yang mendiarni ribuan pulau-pulau besar kecil membentang luas sepanjang khatulistiwa.

Kedua, kunci pokok keberhasilan kita bersumber pada kebulatan tekad dan kesetiaan kita kepada dasar, cita-cita dan tujuan kemerdekaan Nasional yang secara padat tersimpul dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar ’45. Ia sekaligus selalu memberi kegairahan hidup dan kepercayaan akan adanya hari esok yang lebih baik. Ketiga, bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 telah berulang kali diuji oleh sejarah. Makin banyak ujiannya makin menunjukkan kebenarannya sebagai satu-satunya jawaban terhadap tantangan2 dan masalah yang kita hadapi. Karena kebenarannya itu, maka siapapun dan golongan manapun yang akan merobahnya pasti akan berakhir dengan kehancurannya sendiri.

Keempat, pada saat-saat yang diperlukan bangsa kita mampu menyampingkan kepentingan pribadi dan golongan dan kemudian bersatu dalam tindak bersama untuk menghadapi bahaya apapun; lebih-lebih bahaya terhadap Kemerdekaan Nasionalnya, terhadap keutuhan wilayahnya, terhadap Pancasiladan Undang-Undang Dasar ’45.

Kelima, bahwa pembangunan yang menjamin terwujudnya kemajuan, kesejahteraan dan keadilan benar-benar hams segera terasa hasilnya demi terwujudnya masyarakat yang kita cita-citakan. Atau setidak-tidaknya ada tanda­tanda yang menjamin kearah itu.

Percepatan Pembangunan

Apabila dalam tabun yang lampau tantangan yang kita hadapi adalah menegakkan kemerdekaan dan memelihara kesatuan Bangsa, dan kita berhasil mengatasi tantangan itu, maka sekarang kedua hal tadi kita jadikan bekal kekuatan untuk menghadapi masa depan.

Tantangan yang kita hadapi dimasa depan adalah mempercepat jalannya pembangunan. Pembangunan hams kita laksanakan baik dalam rangka mengisi kemerdekaan untuk mencapai cita-cita bangsa masyarakat adil dan makmur, maupun dalam rangka peningkatan ketabanan nasional kita.

Percepatan pembangunan itu adalah mutlak, karena kita dikejar oleh waktu dan didesak oleh perobahan-perobahan cepat yang teIjadi baik di dalam negeri maupun dunia pada umumnya.

Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, apa yang berkembang di luar pagar Tanah Air kita akan mempengaruhi kita juga. Hal ini tidak dapat dielakkan dan tidak perlu dielakkan karenakita memang ingin hidup dalam keluarga besar bangsa-bangsa. Lebih-Iebih lagi karena sekarang hubungan antara bangsa-bangsa telah demikian erat dan mereka saling membutuhkan.

Dunia kita sedang berobah. Malah berobah dengan sangat cepat. Dan terang jauh berobah semenjak kita memproklamasikan Kemerdekaan di tabun 1945. Apabila tiga puluh tahun yg lalu masih banyak bangsa-bangsa terjajah, maka kini penjajahan dapat dikatakan telah memasuki bagian-bagian terakhir daripada sejarah dunia. Jika pada tahun-tahun 50-an dunia kita ditandai oleh persoalan peralihan dari penjajahan ke persoalan kemerdekaan – baik melalui revolusi maupun dengan cara damai, maka kini dunia kita ditandai oleh persoalan bagaimana semua bangsa dapat hidup lebih sejahtera dan lebih maju. Apabila pada dasawarsa-dasawarsa yang lalu dunia seolah-olah terbagi dalam blok-blok ideologi yang saling berhadap-hadapan, dengan segala ketegangan perang dingin yang sewaktu-waktu meledak menjadi perang panas, maka kini telah banyak terdapat pendekatan antara kekuatan-kekuatan besar dunia. Apabila dahulu masalah-masalah dunia hanya ditentukan sefihak oleh negara­negara besar, maka kini masalah-masalah dunia hanya akan terselesaikan dengan memuaskan jika semua bangsa duduk berembug bersama dan mengambil langkah bersama. Bahaya perang nuklir telah makin menyusut, kendatipun perlombaan senjata belum surut. Jika dahulu negara-negara terbelakang dan sedang membangun tidak mempunyai suara dalam mengatur tata ekonomi dunia, maka kini pendapat mereka harus diperhitungkan.

Singkatnya, semuanya itu merupakan pertanda bahwa jaman sudah berobah. Dan kita memang ikut merintis jalan bagi perobahan dunia itu. Kemerdekaan nasional yang kita rebut dengan kekuatan sendiri, memberi dorongan semangat kepada bangsa­-bangsa yang masih terjajah waktu itu, karena dengan perjoangan ternyata bahwa penjajahan bukanlah nasib yang tidak dapat dirobah. Politik luar negeri kita yang sejak semula bebas dan aktif, yang menolak pakta-pakta militer atau semacamnya, yang selalu menolak campur tangan asing dalam urusan dalam negeri kita sendiri, sebenarnya merintis jalan bagi kesadaran bahwa demi keselamatan sendiri, setiap bangsa harus dan dapat mengurus dirinya sendiri. Hasil-hasil konperensi Asia-Afrika pertama di bumi Indonesia setidak-tidaknya ikut meyakinkan kekuatan-kekuatan besar dunia bahwa perang nuklir perlu dicegah. Dasa Sila Bandung yang terkenal itu, unsur-unsurnya acapkali digali kembali dan digunakan orang untuk menyelesaikan perbedaan­-perbedaan pendapat dan sengketa kepentingan antar bangsa. Keikutsertaan kita yang aktif dalam gerakan Non-Blok jelas telah memperkuat kedudukan dan memperbesar peranan dunia ketiga dalam pereaturan dunia. Dan melalui wadah bersama ASEAN, maka makin terasa adanya landasan bagi terwujudnya stabilitas dan perdamaian di kawasan ini.

Menghadapi Berbagai Krisis

Sekali lagi dunia memang sedang berobah dan harus berobah. Sudah waktunya timbul kesadaran bahwa semua bangsa itu hidup di bumi yang satu ini; dan bahwa sekarang dan seterusnya kita akan hidup dalam jaman di mana tali temali dan jalin menjalinnya kepentingan semua bangsa telah menjadi demikian erat, yang belum pemah terjadi dalam sejarah manusia sebelumnya. Keselamatan kelompok yang satu berarti memberi jaminan pada keselamatan kelompok yang lain. Dan sebaliknya, ketidakselamatan kelompok yang satu dapat menjadi awal bencana bagi kelompok yang lain. Dengan kata lain, semua bangsa saling butuh membutuhkan. Dan karena itu mereka perlu hidup rukun dan bantu membantu.

Eratnya saling hubungan itu semakin kentara dan bertambah terasa sejak terjadinya berbagai krisis yang melanda dunia: krisis pangan, krisis moneter, krisis ekonomi dan krisis amoral; yang apabila tidak ada usaha yang sungguh-sungguh untuk mengatasinya, maka akibat-akibat yang buruk akan menimpa semua negara; baik negara industri yang telah maju, maupun negara yang sedang berkembang. Apa yang tampak dan teras a sebagai akibat dari berbagai krisis itu sesungguhnya adalah hanya sebagian dari persoalan besar yang lebih mendasar. Persoalan itu bersumber pada tata lama dari hubungan-hubungan ekonomi dan politik yang tidak menjamin keadilan dan kemerataan pembangunan semua bangsa. Karena itu yang penting adalah kemauan dan keputusan semua bangsa untuk bersama-sama mengatasi masalah ini demi keselamatan dan kesejahteraan bersama pula. Bukannya saling berhadap-hadapan atau saling menyalahkan, yang hanya akan membuat keadaan semakin parah.

Harus ada Keberanian

Apabila sekarang, orang sudah mulai menyatakan betapa perlunya dibangun Tata Ekonomi Dunia Baru, maka itu berarti harus pula ada keberanian untuk membuat tata hubungan politik dan ekonomi antar bangsa yang baru pula dengan semangat dan tujuan-tujuan baru. Ialah, menempatkan semua bangsa duduk sama rendah berdiri sama tinggi dalam bersama-sama menggalang kemauan dan usaha besar untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia dan kemanusiaan. Beberapa negara mungkin saja masih harus memainkan peranan sebagai negara pemberi bantuan dan sejumlah negara lain sebagai penerima bantuan. Narmun demi keselarnatan dan kesejahteraan bersama, hubungan tadi harus benar-benar atas dasar saling hormat menghormati dan saling pengertian. Dengan begitu lambat laun, tetapi pasti, akan tiba saatnya semua negara mampu mengurus masa depan dan nasibnya sendiri; yang pada gilirannya akan memperkokoh perdamaian dunia dan memastikan jalan ke arah kesejahteraan seluruh ummat manusia.

Karena itu semboyan yang harns dikumandangkan adalah: saling membutuhkan dan kerjasama, bukannya permusuhan dan adu senjata! Namun begitu kita tidak berkhayal bahwa semangat dan tata dunia baru itu akan menjadi kenyataan dalam sekejap.

Dengan sedih kita masih melihat belum lenyapnya saling kurang percaya antar bangsa. Sejarah dan pertumbuhan negara-negara yang berlain-lainan telah melahirkan negara-negara besar dan negara-negara yang tidak besar, negara-negara yang telah makmur dan negara-negara yang belum makmur, dengan segala perangai dan tindak-­tanduknya.

Justru itu kita harus segera memulai sesuatu yang baru; menumbuhkan saling percaya, saling menghormati dan kerjasama.

Dan kita memang telah memulai dengan negara-negara tetangga dan sahabat kita dengan membentuk ASEAN delapan tahun yang lalu. Perhimpunan itu mencerminkan ketetapan hati bangsa-bangsa anggotanya untuk bersama-sama mengurus dan menentukan masa depan dan wilayah ini sesuai dengan arah yang ditentukan sendiri; dan tidak membiarkan masa depan itu digariskan oleh kekuatan atau kepentingan lain dari luar. Hanya dengan jalan itu akan terwujud Asia Tenggara yang stabil dan dinamis, yang jelas merupakan prasyarat bagi pelaksanaan tugas yang sangat mendesak ialah memajukan kesejahteraan dan kemakmuran yang adil bagi rakyat – rakyat di wilayah ini.

Dua Masalah Pokok

Berbagai sebab dan perkembangan yang hampir selalu susul menyusul, telah menyebabkan bangsa-bangsa di wilayah ini, secara sendiri-sendiri ataupun bersama-­sama hampir tidak pernah menikmati stabilitas dan suasana damai dalam jangka waktu yang cukup lama. Suatu keadaan, yang jelas merupakan hambatan bagi pelaksanaan pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan rakyat-rakyatnya. Dalam ragam yang mungkin berbeda-beda, stabilitas dan pembangunan inilah yang merupakan dua masalah pokok yang dihadapi oleh bangsa-bangsa di wilayah ini. Dan justru untuk memperkuat stabilitas dan mempercepat laju pembangunan itulah ASEAN dibentuk. Bukan ditujukan untuk menghadapi kekuatan lain atau bangsa lain.

ASEAN sebagai organisasi regional selalu berusaha untuk melakukan hubungan bersahabat serta kerjasama yang saling menguntungkan dengan negara-negara ataupun organisasi regional di luar ASEAN seperti yang dewasa ini telah dilakukan dengan Masyarakat Ekonomi Eropa.

Selama berdirinya ASEAN meskipun belum banyak yang dapat kita lakukan bersama, namun hal itu tidak menutup kenyataan yang sangat penting artinya, ialah bahwa kita telah dapat menyelesaikan berbagai masalah yang menyangkut kepentingan bersama, secara bersama-sama melalui musyawarah yang efektif, solidaritas, kemauan keras untuk saling mengerti dari sikap bersahabat.

Dewasa ini ASEAN bukan saja merupakan organisasi antar Pemerintah tetapi telah berisi kegiatan-kegiatan bersama, ada yang melembaga, ada yang belum diantara unur-unsur masyarakat dati ke lima negara anggotaASEAN, termasuk kerjasama antara parlemen.

Untuk makin mengkonsolidasikan ASEAN ini, untuk membulatkan pikiran­pikiran bersama dan langkah-langkah bersama di masa datang, maka semua negara­negara anggota ASEAN bersatu pendapat mengenai perlunya diselenggarakan Konperensi Puncak diantara mereka. Konperensi yang penting bagi masa depan bangsa-bangsa di wilayah kita itu diharapkan dapat berlangsung dalam bulan-bulan yang akan datang ini. Sementara ini langkah-langkah persiapan terus dimatangkan, agar konferensi itu benar-benar berhasil.

Bukan Halangan

Kita menyambut baik berakhirnya peperangan yang telah terlalu banyak meminta korban di Indocina. Apapun yang terjadi disana kita tetap menghormati kehendak rakyat-rakyat di kawasan itu dalam menentukan masa depan menurut cita-cita dan jalan yang mereka tempuh sendiri. Kita mengharapkan dan akan ikut berusaha agar berakhirnya peperangan disana sekaligus merupakan kesempatan barn bagi bangsa­-bangsa di kawasan ini untuk memelihara stabilitas dan membangun bagi kesejahteraan rakyat masing-masing dan bersama-sama.

Bagi kita tidak ada halangan sedikitpun untuk bersahabat dan bekerjasama dengan bangsa lain yang menganut sistim sosial ataupun politik yang berbeda dengan kita. Pengakuan kita bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa seperti yang ditegaskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 45 berarti pengakuan pula atas hak bangsa lain untuk mengatur rumah tangga dan urusan mereka sendiri, tanpa campur tangan dari luar. Tentulah sikap yang sama harus berlaku timbal balik terhadap kita. Karena itu, kendatipun bangsa kita tidak menghendaki adanya komunisme di sini, namun itu tidak berarti bahwa kita bermusuhan dengan bangsa-bangsa lain yang menganut pandangan hidup itu.

Hubungan dengan RRC

Adalah menjadi urusan kita bila kita berketetapan hati untuk membangun masyarakat yang berdasarkan Pancasila. Kita tidak menghendaki dan kita melarang adanya partai komunis di Indonesia, karena PKI telah dua kali memberontak dan bertujuan untuk merobah Pancasila dengan kekerasan. Negara lain yang terus melindungi bekas tokoh-tokoh pemberontak PKI atau yang terang-terangan menyokong bangkitnya kembali PKI di negeri ini, kita anggap sebagai tindakan yang mencampuri urusan dalam negeri kita dan bersikap tidak bersahabat.

Dalam rangka inilah harus kita lihat mengapa sampai sekarang hubungan diplomatik kita dengan Republik Rakyat Cina masih sulit dicairkan.

Pintu bagi Timor Timur

Dalih “perang pembebasan” kita tolak jika itu berarti pemberontakan yang berselubung terhadap negara yang sah. Namun proses dekolonisasi di manapun sejak semula kita sokong sepenuhnya. Dalam rangka ini kita sambut baik pelaksanaan dekolonisasi oleh Pemerintah Portugis terhadap jajahan-jajahannya, khususnya Timor Portugis yang berbatasan langsung dengan wilayah kita itu. Terang, bahwa kehendak rakyat mengenai masa depan mereka sendiri adalah mutlak. Kita menginginkan agar proses dan hasil dari dekolonisasi itu tidak akan menimbulkan gangguan stabilitas, yang mau tidak mau akan mempengaruhi stabilitas kita khususnya dan Asia Tenggara umumnya. Justru karena berbatasan wilayah, maka kita membuka pintu bagi rakyat Timor Portugis untuk mengintegrasikan diri dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, apabila penggabungan itu yang menjadi kehendak mereka. Namun perlu kita ingatkan kepada diri kita sendiri dan kepada dunia bahwa kita sarna sekali tidak mempunyai ambisi teritorial.

Segala bentuk penindasan dan merebut wilayah negara lain selalu kita tentang. Karena itu pula sejak semula kita selalu berdiri bersama-sama dengan negara-negara di Timur Tengah dan rakyat Palestina dalam perjoangannya untuk memperoleh penyelesaian yang adil melawan agresi Israel. Walaupun sumbu peperangan di sana belum sepenuhnya dilenyapkan, tetapi langkah-Iangkah perdamaian yang tarnpak diusahakan dengan keras oleh semua fihak, kita sambut dengan hangat. Dalam hubungan ini kita sarnbut dengan penuh harapan pembukaan kembali Terusan Suez dan kita harapkan agar tindakan Mesir itu makin mendorong semua fihak ke arah pengurangan ketegangan dan akhirnya mencapai landasan perdamaian yang langgeng.

Ke arah terciptanya perdamaian dunia yang langgeng dan pembangunan bangsa-­bangsa itulah politik luar negeri Indonesia kita arahkan. Karena itu kita sarnbut dengan penuh harapan hasil Pertemuan Puncak di Helsinki baru-baru ini. Setidak-tidaknya di sana disuarakan keinginan untuk bersarna-sarna membangun dunia yang lebih damai.

Melihat ke Selatan

Tentulah sangat janggal jika kita berbicara tentang perdamaian dan pembangunan, tetapi kita tidak berbuat ke arah itu dengan tetangga-tetangga dekat kita. Itulah sebabnya, disarnping usaha-usaha memupuk saling pengertian dan kerjasama dengan tetangga-tetangga kita di Asia Tenggara khususnya dan Asia pada umumnya, pandangan dan perhatian kita juga banyak tertuju pada tetangga-tetangga kita di sebelah kiri: Australia, Selandia Baru dan Papua Nugini yang akan merdeka pada bulan September yang akan datang. Dengan Australia dan Selandia Baru hubungan2 ekonomi dan kerjasarna lainnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Tetapi jauh lebih penting artinya dari itu adalah: semakin luasnya persamaan-persamaan dasar pikiran yang pokok mengenai masalah-masalah dan sikap bersarna terhadap masa depan Asia Pasifik. Dengan tetangga muda kita yang baru, Papua Nugini, saling pengertian yang dalam juga telah mulai bersama-sama diletakkan landasan-Iandasannya.

Percaya dengan Kekuatan Sendiri

Sejak semula politik luar negeri kita adalah bebas dan aktif. Bebas dalarn arti kita jalankan apa yang kita anggap baik: bagi kita sendiri maupun bagi kebaikan seluruh ummat manusia. Kita lakukan apa yang kita anggap baik tanpa begitu saja mengekor apa yang dilakukan oleh orang lain; walaupun yang melakukan itu kekuatan besar dunia.

Kita juga tidak melakukan sesuatu hanya karena “angin sedang mengarah ke sana.” Politik luar negeri kita yang bebas itu mencerminkan wujud ke luar daripada hakiki negara yang berdaulat. Suatu kedaulatan, yang harus kita tegakkan ke dalam dan kita tunjukkan ke luar. Politik luar negeri yang bebas demikian mencerminkan rasa percaya pada diri sendiri.

Ini terbawa oleh watak dari pada perjoangan kemerdekaan nasional kita, yang juga kita peroleh dengan rasa percaya pada diri sendiri dan dengan kekuatan sendiri. Kita peroleh kemerdekaan nasional itu dengan darah dan air mata dan sudah barang tentu tidak dilupakan berkat pengertian dan simpati dari banyak bangsa-bangsa lain.

Namun demikian bangsa kita tidak dan tidak boleh tinggi hati. Politik luar negeri kita hams bebas itu bermoral, yang bersumber pada pandangan hidup kita. Moral Pancasila lah yang membimbing politik luarnegeri kita yang bebas itu. Politik luar negeri kita yang bebas itu kita abdikan untuk tujuan kemanusiaan yang kita anggap luhur ialah kemerdekaan bagi semua bangsa, kemajuan dan kesejahteraan bagi semua orang, keadilan yang berperikemanusiaan. Tujuan inilah yang kita kejar dalam melaksanakan politik luar negeri kita. Karena itu kita namakan politik luar negeri kita bebas dan aktif.

Sungguh tidak gampang melaksanakan politik luar negeri yang demikian. Lebih­ lebih dalam menghadapi tarikan-tarikan dari kiri dan kanan, dalam menghadapi tekanan-tekanan secara kasar, terang-terangan maupun secara terselubung sembunyi­ sembunyi.

Kita memang pernah mengalami masa dimana kita agak bergeser ke kiri. Kita juga pernah tergoyah agak condong ke kanan. Kita juga pernah mengalami masa nasionalisme yang ekstrim dimana kita menolak segala sesuatu yang berasal dari “barat”, keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbau keradikal-radikalan. Namun semuanya itu segera diluruskan kembali oleh bangsa kita.

Karena itu, dalam penglihatan sejarah, tampak terang jalur besar yang berjalan lurus dari pada politik luar negeri kita yang bebas dan aktif tadi.

Apabila kita sekarang memperingati tiga puluh tahun Indonesia Merdeka, maka politik luar negeri yang bebas aktif itu merupakan salah satu hasil bangsa yang besar. Dalam dunia yang berobah cepat seperti sekarang ini, malahan, politik luar negeri yang bebas aktif itu makin disadari bangsa-bangsa lain kebenarannya. Tampak, dalam masa yang akan datang politik luar negeri yang bebas aktif akan menjadi pola hubungan luar negeri bangsa-bangsa. Apabila demikian perkembangannya maka berarti kita diharapkan dapat memberi sumbangan yang lebih berarti lagi kepada tata dunia yang lebih damai, lebih berpengertian dan lebih adil daripada yang kita saksikan sampai sekarang, terutama di wilayah Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Dengan berlandaskan pada dasar falsafah Pancasila serta dengan politik luar negeri yang bebas dan aktif, maka peranan kita dalam percaturan politik regional maupun internasional memang makin diakui dan diharapkan oleh banyak negara.

Kita sadar bahwa peranan besar memerlukan tanggungjawab dan kemampuan yang memadai. Pikiran-pikiran dan langkah-Iangkah kita dalam bersama-sama mengatur dunia akan lebih mempunyai bobot apabila kita dapat mengatur rumah tangga sendiri dengan kokoh dan sebaik-baiknya.

Jangan Nggege Mangsa

Tugas pokok kita dewasa ini justru kita titik beratkan untuk memperkokoh dan memperbaiki keadaan rumah tangga kita sendiri. Dewasa ini kita sedang bergulat untuk dapat mensukseskan pelaksanaan pembangunan. Seperti yang telah saya tegaskan tadi pembangunan itu harus kita laksanakan, baik dalam rangka mewujudkan cita-cita Kemerdekaan – Masyarakat adil dan makmur, maupun dalam rangka meningkatkan ketahanan nasional kita. Dan melaksanakan tugas itu bukanlah pekerjaan sehari dua hari atau setahun dua tahun dan juga terang tidak akan selesai dalam satu dua REPELITA.

Telah berulang kali saya gambarkan, bahwa landasan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila barn akan tercapai setelah kita melaksanakan 5-6 kali REPELITA.

Ini bukan hal yang mengecilkan hati.

Banyak bangsa-bangsa lain yang telah mencapai tingkat kemakmuran yang tinggi sekarang ini setelah mereka membangun puluhan tahun.

Karena itu jangan kita “nggengge mangsa”

Jangan kita mengharapkan sesuatu yang sekarang belum mungkin. Dan jangan kita memaksa-maksa diri apabila hal itu memang diluar kemampuan kita.

Tetapi ada satu hal pokok yang sangat terang, ialah: bahwa pembangunan yang kita kerjakan itu merupakan terjemahan nyata daripada wujud masyarakat yang kita cita-citakan, mewujudkan suatu konsep dasar kehidupan yang kita anggap baik.

Bagi kita konsep dasar kehidupan yang kita anggap baik itu sudah cukup jelas, ialah kehidupan berdasarkan Pancasila. Konsep dasar kehidupan ini merupakan masalah pilihan, masalah keputusan suatu bangsa. Dan kita telah menjatuhkan pilihan itu pada saat kita memproklamasikan kemerdekaan 30 tahun yang lalu.

Masalah ini menjadi lebih nyata sekarang dengan bermunculan berbagai krisis yang melanda dunia kita sekarang. Serba terbatasnya kekayaan alam di bumi kita yang satu ini. lni kesadaran manusia untuk mengadakan pemikiran ulang berbagai konsep ekonomi yang sebelumnya dianggap oleh sebagian orang sebagai konsep yang baik. Bayangan mengenai krisis ketenagaan di masa depan telah memaeu teknologi untuk memikirkan sumber tenaga barn, dengan serba kemungkinan perobahan dalam tata kehidupan dan peradaban manusia.

Jangan Salah Artikan

Bermacam-macam masalah sosial dan politik yang berkembang di berbagai negeri yang selama ini dianggap sebagai model masyarakat yang stabil, telah mengusik ahli-ahli fIkir dan pemuka-pemuka masyarakat untuk mengadakan pemikiran ulang konsep-konsep dasar mengenai kebebasan dan hak-hak asasi. Berbagai model demokrasi, yang diambil dari negeri lain, yang diterapkan begitu saja di sesuatu negara dan temyata tidak memberikanjawaban yang tepat terhadap pemantapan stabilitas politik yang diharapkan, telah mendorong orang untuk merenungkan ulang dan meneari konsep demokrasi yang paling cocok pertumbuhan masyarakatnya sendiri.

Kenyataan-kenyataan itu menyadarkan kita, bahwa tidak ada satu modal pembangunanpun yang mungkin telah berhasil dalam menjawab persoalan-persoalan kehidupan sesuatu bangsa, juga dapat diterapkan begitu saja pada bangsa yang lain. Karena itu tidak dapat lain bahwa masalah-masalah ekonomi, sosial, politik, pertahanan keamanan dan pembangunan pacta umumnya, harus dikembangkan di atas kerangka dasar pandangan hidup yang meneenninkan cita-cita yang dianggap baik oleh suatu bangsa.

Pandangan hidup itu tidak boleh hanya menjadi sesuatu yang baik di angan-angan saja. Pandangan hidup itu harus benar-benar memberi bimbingan kepada kita dalam memeeahkan persoalan-persoalan nyata. Dengan demikian pandangan hidup tadi mempunyai makna dan wujud didalam kehidupan.

Karena itulah, sejak tahun yang lalu saya mengajak kita semua untuk menyatukan tafsir kita mengenai Pancasila dan pengetrapannya dalam segala bidang kehidupan, baik seeara perorangan maupun dalam hidup bermasyarakat.

Tetapi, ajakan saya ini jangan disalahartikan!

Kita tidak mempersoalkan Paneasila sebagai dasar negara kita. Kita tidak menyangsikan seujung rambutpun mengenai ketepatan Paneasila sebagai dasar falsafah Negara, yang dapat memberi bimbingan bagi kemajuan, kesejahteraan dan keselamatan Bangsa kita.

Ajakan saya adalah menyebarkan Paneasila itu dalam rumusan-rumusan yang sederhana danjelas untuk dipakai sebagai Pancasila jangan terulang lagi misalnya Pancasila lalu berubah menjadi “nasakom” yang membawa bencana itu.

Ajakan saya adalah agar kita bersama sama memikirkan penghayatan dan pengamalan Pancasila dalam segala segi kehidupan dan tingkah laku kita sehari hari. Ini merupakan masalah yang penting, sebab Pancasila bukan hanya semboyan atau rangkaian kalimat yang kita anggap luhur dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 45 tetapi tidak menyentuh kehidupan kita.

Dalam berbagai kesempatan saya telah menjelaskan pandangan dan pengertian saya mengenal masyarakat dan manusia Pancasila itu. Dalam kesempatan yang penting hari ini ingin saya menegaskan sekali lagi berbagai aspek penting yang perlu kita renungkan dalam rangka penghayatan Pancasila itu.

Tenggang Rasa

Pancasila sebagai dasar falsafah dan ideologi negara dan pandangan hidup rnasyarakat Indonesia akan selalu rnernberi birnbingan kepada segala gerak kegiatan kita, negara, masyarakat dan manusia Indonesia.

Demikian juga gerak dan arah pernbangunan kita harus tetap dijiwai oleh Pancasila, artinya : Pembangunan itu bukan saja menghasilkan kemakmuran, tetapi juga harus menjamin keadilan sosial ; bukan saja berisi bidang-bidang yang kebendaan lahiriah, tetapi juga dalam keseimbangan dengan bidang kejiwaan rokhaniah dengan ini maka keselarasan antara kernajuan lahir dan kesejahteraan batin akan dapat dicapai. Dan masyarakat rnaju yang kita bangun itu akan merupakan masyarakat Indonesia yang tetap bercorak kepribadian sendiri.

Pancasila dengan sila Ketuhanan Yang Masa Esa mencerminkan sifat masyarakat kita yang percaya adanya kehidupan lain di masa nanti setelah kehidupan kita di dunia yang sekarang. Inilah yang kita rasakan selalu rnendorong kita untuk mengejar nilai­-nilai luhur yang akan rnernbuka jalan bagi kehidupan yang baik di rnasa nanti itu. Dalam hubungan ini rnaka taqwa kepada Tuhan menurut agama dan kepercayaan masing­-masing adalah mutlak, semua agama menghargai manusia dan karenanya semua umat beragama selalu harga menghargai satu terhadap yang lain. Karena itu kita juga harus menghormati agama serta ibadah agama yang dianut orang lain. Pengertian kita yang benar mengenai taqwa kepada Tuhan dan penghayatan kita yang benar mengenai agama akan memupuk kerukunan hidup antara umat yang memeluk agama yang berlain-lainan.

Sikap saling menghargai antara sesama manusia itu merupakan wujud daripada sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam hubungan bangsa dan negara maka Pancasila memberikan pedoman kepada kita untuk selalu mengusahakan perdamaian dunia, menggalang hubungan yang bersahabat dan kerjasama dengan bangsa-bangsa lain, tentu atas dasar saling hormat menghormati dan saling menguntungkan.

Sikap saling hargai menghargai itu membuta kita “tepo selira” atau besar rasa tenggang rasa ; bukan sikap ekstrim atau dendam. Dengan sikap yang demikian dalam tata pergaulan hidup akan menjamin terwujudnya keadilan, ketentraman, keselarasan dan kekokohan masyarakat kita.

Ciri Demokrasi Pancasila

Pancasila yang digali dari sejarah pertumbuhan masyarakat Indonesia sendiri mencerminkan kepribadian Indonesia serta menumbuhkan jiwa persatuan dan semangat kebangsaan yang tinggi. Justru itulah persatuan Indonesia merupakan salah satu alat dari Pancasila semangat kebangsaan dan persatuan yang demikian itu menyuburkan rasa cinta tanah air, membangkitkan tekad untuk membela dan mempertahankan Negara.

Kecintaan terhadap Tanah Air akan menghapuskan perasaan kesukuan yang sempit, mendorong usaha untuk menyebarkan dan meratakan pembangunan. Pancasila dengan sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan menjarnin dihargainya hak-hak orang seorang. Juga menjamin adanya demokrasi yang penggunaannya harus diabdikan kepada kepentingan bersama, kepentingan umum, kepentingan Bangsa dan negara bukan “demokrasi untuk demokrasi.”

Penggunaan hak demokrasi itu harus selalu disertai dengan rasa tanggungjawab. Demokrasi yang dernikian itulah yang memberikan ciri pada demokrasi Pancasila, demokrasi yang mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat, demokrasi yang dijiwai oleh rasa kekeluargaan. Justru karena itu maka Pancasila tidak menghendaki adanya Pemerintahan totaliter atau diktator apapun.

Demokrasi Pancasila atau demokrasi yang berisi dan berazaskan kekeluargaan itu perlu kita kembangkan dalam kehidupan masyarakat modern baik dalam lapangan politik, ekonomi maupun sosial dengan demokrasi Pancasila dijaminlah adanya keselarasan antara kepentingan perorangan dan kepentingan masyarakat dalam demokrasi Pancasila yang mengandung azas kekeluargaan tidak dibenarkan adanya penindasan oleh yang kuat terhadap yang lemah baik penindasan melalui saluran ekonomi maupun lewat jalan politik.

Didalamnya juga terkandung sikap bahwa kepentingan dan keselamatan bersama yang didahulukan bukan kepentingan kelompoknya sendiri, walaupun kelompok itu besar, kelompok yang besar maupun yang kecil secara sadar menundukkan diri pada kepentingan bersama dan keputusan bersama yang diambil setelah bermusyawarah untuk mencapai mufakat. Karena Pancasila menempatkan keselarasan antara perorangan dan masyarakat lingkungannya, maka akan timbul keselarasan antara penggunaan hak-hak azasinya dengan kewajiban-kewajiban azasi, antara usahanya untuk mengejar kebahagiaan bagi pribadinya dengan kewajibannya untuk ikut memberi sumbangan kepada kebahagiaan bagi orang lain dan masyarakatnya. Ajaran ini membuat kita selalu sadar untuk menahan diri secara selaras dengan masyarakat sekelilingnya.

Ciri Masyarakat Pancasila

Karena itu sikap hidup manusia Pancasila adalah bahwa kepentingan pribadinya akan diselaraskan dengan kewajibannya sebagai anggota masyarakat dengan pengertian bahwa kewajibannya terhadap lebih diutamakan daripada kepentingan pribadinya. Kepentingan pribadi akan berakhir untuk memulai melaksanakan kewajiban sebagai anggota masyrakat.

Pengalaman dan Penghayatan dari sikap an kepribadian manusia Pancasila yang demikian itu harus dimulai dari pribadi-pribadi dengan jalan selalu mengendalikan kepentingan pribadinya untuk memperbesar kewajibannya sebagai makhluk sosial terhadap masyarakat bangsa dan negara.

Jelaslah sederhana dapat dikatakan bahwa masyarakat Pancasila adalah masyarakat yang sosialis religius itu mempunyai ciri-ciri pokok tidak memperbesarkan adanya kemelaratan, keterbelakangan, perpecahan, pemerasan, kapitalisme dan imperialisme, karenanya hams bersama-sama menghapuskannya dilain pihak sikap dan sifat manusia Pancasila adalah selalu taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada tanah air, kasih sayang kepada sesama manusia suka bekerja dan rela berkorban untuk kepentingan negara.

Tak Mungkin Berpaling

Kita telah memiliki Pancasila sebagai dasar falsafah negara dan sebagai pedoman sikap hidup masyarakat dan Individu Indonesia, tetapi pancasila itu bukan hanya untuk kita miliki melainkan hams kita mengerti, kita hayati dan kita amalkan. Justru karena itu yang mengajak masyarakat luas, dunia universal, Angkatan 45, KNPI dan lain-lain untuk memikirkan dan mengusahakan rumusan-rumusan penjabaran Pancasila itu yang sederhana dan mudah dihayati dan diamalkan oleh rakyat Indonesia.

Penghayatan dan pengalaman Pancasila serta memberi wujud yang nyata dalam kehidupan sehari-hari itu bukan hanya masalah kita di masa sekarang, melainkan merupakan masalah besar bagi kehidupan bangsa kita dimasa datang.

Apabila Pancasila tidak menyentuh kehidupan nyata, tidak kita rasakan wujudnya dalam kehidupan sehari-hari, maka lambat laun pengertiannya akan kabur dan kesetiaan kita kepada Pancasila lebih-lebih generasi yang akan datang akan luntur. Mungkin Pancasila akan hanya tertinggal dalam buku-buku sejarah mdonesia. Apabila ini terjadi, maka segala dosa dan noda akan melekat pada kita yang hidup dimasa ini, pada generasi yang telah begitu banyak berkorban untuk menegakkan dan membela Pancasila.

Pancasila harus benar-benar merasa dalam hati setiap orang Indonesia sehingga makin diyakini kebenarannya sebagai nilai-nilai luhur yang memberi kebahagiaan hidup. Makin kuat keyakinan kita terhadap nilai-nilai luhur itu akan makin kuat tekad kita untuk mempertahankan dan mewujudkannya. Pada tingkat keyakinan yang tertinggi, kita akan rela memberikan segala pengorbanan yang diperlukan untuk yang dianggap luhur tadi. Ini merupakan benteng Pancasila yang tidak mungkin diruntuhkan oleh kekuasaan apapun.

Karena ideologi nasional kita sendiri benar -benar mampu mewujudkan kehidupan seperti yang kita cita-citakan sendiri, maka tidak mungkin kita akan berpaling kepada ideologi lain.

Dengan demikian, maka sekaligus kita akan memiliki ketahanan di bidang ideology sebagai bahagian yang penting daripada ketahanan nasional.

Bukan Hanya Urusan Militer

Masalah ketahanan nasional merupakan faktor yang sangat penting dalam pembangunan bangsa kita.

Sejarah kita yang lewat menunjukan, bahwa karena kita masih memiliki titik-titik rawan dalam ketahanan nasional, maka kita mengalami serentakan gejolak-gejolak sosial dan politik dalam bermacam-macam bentuk dan dengan segala akibat­a-kibatnya.

Karena itu, ketahanan nasional merupakan bagian penting dari usaha kita untuk terus membangun diri sendiri dan sanggup memberikan masa depannya sendiri. Dengan begitu, maka dengan ketahanan nasional kita justru akan memiliki kekuatan untuk berperan lebih dinamis dalam usaha besar semua bangsa guna menciptakan dunia yang damai dan sejahtera.

Dengan ketahanan nasional itu, kita akan memiliki bekal dan pegangan di dalam menghadapi perobahan-perobahan di bidang politik, sosial dan ekonomi, baik pada taraf nasional maupun intemasional, suatu perobahan yang jelas terus teIjadi di mata depan laju kecepatan yang makin pesat. Kesanggupan menghadapi dan mengatasi perobahan-perobahan tersebut sekarang diperlukan tekad dimasa yang akan datang dan kesanggupan seperti inilah yang antara lain merupakan salah satu unsur penting bagi terbinanya ketahanan nasional.

Masalah ketahanan nasional bukanlah hanya urusan militer atau masalah yang menyangkut pertahanan-keamanan saja. Masalah ketahanan-nasional menyangkut keseluruhan segi kemampuan nasional. Dalam usaha meningkatkan ketahanan nasional, maka bidang apa yang harus kita prioritaskan tergantung pada kemampuan yang telah kita miliki dan tantangan-tantangan apa yang kita hadapi dewasa ini misalnya, usaha kita curahkan pada pembangunan ekonomi justru karena bidang ekonomi inilah yang masih merupakan mata rantai yang terlemah dalam keutuhan ketahanan nasional Indonesia.

Perebutan Pengaruh

Pembinaan ketahanan nasional sarna sekali bukan suatu penyusunan kekuatan untuk menghadapi atau menyerang bangsa lain.

Tetapi, pembinaan ketahanan nasional merupakan jawaban yang tepat untuk menghadapi setiap kemungkinan bahaya atau gangguan terhadap negara dan perjoangannya, termasuk kemungkinan bahaya dari luar. Sebab, walaupun pertarungan antara kekuatan-kekuatan besar dunia telah reda, kendatipun peperangan-peperangan di sekitar kita telah berakhir; namun ini belum berarti hilangnya bahaya. Perebutan pengaruh terang belum lenyap; usaha untuk merongrong bangsa lain dari dalam belum berhenti. Perang sesungguhnya hanya alat untuk memaksakan kehendak tidak hams dilakukan dengan melancarkan perang terbuka. Jalan lain, seperti melalui perembesan ideologi, subversi dan bermacam-macam kegiatan terselubung lainnya terbuka kemungkinannya. Karena itulah kita harus memiliki ketahanan nasional yang kokoh. Dengan singkat dapat dirumuskan, bahwa ketahanan nasional adalah tingkat keadaan keuletan dan ketangguhan bangsa kita dalarn menghimpun dan mengerahkan keseluruhan kemarnpuan nasional yang ada sehingga merupakan kekuatan nasional yang mampu dan sanggup menghadapi setiap ancaman dan tantangan terhadap keutuhan maupun kepribadian bangsa dalarn mempertahankan kehidupan bangsa dan kelangsungan cita-citanya.

Ketahanan Nasional adalah Dinamis

Karena keadaan selalu berkembang serta bahaya dan tantangan-tantangan selalu berobah, maka ketahanan nasional itu juga harus dikembangkan dan dibina agar memadai dengan perkembangan keadaan. Karena itu ketahanan nasional adalah dinamis, bukan statis.

Karena keuletan clan ketangguhan menyangkut masalah mentalitas, cara berfIkir dan cara kita mengambil sikap baik sebagai perorangan maupun sebagai Bangsa yang satu maka diperlukan pembinaan dan pengarahan. Ulet berarti tidak mudah putus asa, tidak akan menyerah pada tantangan kesulitan yang dihadapi. Tangguh berarti adanya kemampuan mengatasi keadaan dengan cara yang efektif, meskipun misalnya dengan peralatan yang sederhana.

Apa yang telah kita keIjakan semasa perang kemerdekaan dahulu sebenarnya menunjukkan adanya keuletan dan ketangguhan kita. Keuletan dan ketangguhan itulah yang harus kita kembangkan, mungkin dengan cara-cara dan tujuan-tujuan baru, sesuai dengan tantangan dan masalah-masalah yang kita hadapi dalam perkembangan keadaan yang terus berubah itu.

Ikhtiar untuk mewujudkan ketahanan nasional yang kokoh ini bukanlah hal bsaru bagi kita. Tetapi pembinaan dan peningkatannya sesuai dengan kebutuhan harus dilakukan terus menerus disesuaikan dengan kemampuan dan fasilitas yang tersedia pula.

Pembinaan ketahanan nasional kita lakukan di berbagai bidang : ideologi, politik, ekonomi sosial budaya clan hankam, baik secara serempak maupun menurut prioritas kebutuhan pula.

Bukan Pengekangan

Mengenai ketahanan di bidang ideologi, maka kita telah memiliki ideologi Pancasila yang telah ternyata keampuhannya untuk menghadapi ideologi lain. Namun demikian, seperti yang saya jelaskan tadi, kita harus berusaha agar Pancasila itu dihayati dan diamalkan dalam segala segi kehidupan masyarakat, agar Pancasila benar-benar dirasakan faedahnya bagi kesejahteraan dan kemajuan kehidupan masyarakat. Dengan demikian akan makin kuat dan meresapi ikatan kita dengan Pancasila, sehingga tidak mungkin lagi terpikat oleh Ideologi lain.

Ketahanan di bidang politik, kitapun telah memiliki landasan-landasannya yang kuat ialah Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945. Yang hams kita usahakan terus adalah kesadaran dan tekad kita untuk melaksanakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 itu secara murni dan konsekwen. Dengan itu pastilah dapat diciptakan stabilitas politik serta persatuan dan kesatuan bangsa yang semakin kokoh, sehingga kita akan mampu menghadapi segala bahaya dan tantangan yang ingin mengacaukan keadaan, ingin memecah belah keutuhan negara dan bangsa dan ingin menggagalkan usaha besar Bangsa Indonesia dalam pembangunan. Dengan melaksanakan Undang-Undang Dasar serta murni dan konsekwen, berarti bahwa kita harus melaksanakan secara tepat asas dan sendi Undang-Undang Dasar tersebut, ialah adanya kehidupan kenegaraan dan politik yang konstitusionil, demokratis dan berdasarkan hukum. Dengan demikian maka pembinaan ketahanan di bidang politik tidak berarti dan tidak boleh diartikan sebagai pengekangan dan pembatasan kehidupan demokrasi. Bahkan sebaliknya kita harus menumbuhkan kehidupan demokrasi yang sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 ialah seperti yang telah saya jelaskan tadi demokrasi yang menyelaraskan kebebasan dengan tanggungjawab.

Kita akan memiliki ketahanan politik yang makin kuat, apabila kita telah memiliki kesadaran yang tinggi, bahwa penggunaan hak demokrasi selalu disertai dengan rasa tanggungjawab.

Peristiwa “Malari” yang lalu sungguh merupakan contoh dan pengalaman yang pahit bagi kita semua, bahwa sebagai akibat daripada penggunaan hak demokrasi yang tidak bertanggungjawab atau penyalahgunaan hak demokrasi, maka telah timbul bencana yang menimbulkan banyak kerugian. Dan hal ini merupakan titik rawan dalam ketahanan nasional kita.

Dalam hubungan ini saya juga ingin menegaskan bahwa tidak benar dan tidak beralasan adanya perasaan bahwa sejak peristiwa “Malari”, pemerintah mengadakan pengurangan atau pembatasan kebebasan dalam masyarakat.

Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah semata-mata ditujukan untuk menegakkan hukum. Mereka yang bersalah dan melanggar hukum diambil tindakan dan diselesaikan berdasarkan hukum.

Kebebasan Jalan Terus

Saya tegaskan di sini: kebebasan yang kreatif berjalanlah terus, bergandengan dengan rasa tanggungjawab yang besar. Kebebasan yang bertanggungjawab di pers, di perguruan-perguruan tinggi dan sebagainya bahkan harus terus berkembang. Kebebasan yang bertanggungjawab merupakan ciri dari demokrasi kita dan kita perlukan untuk membangun.

Sekali lagi, kebebasan yang bertanggung jawab terus berjalan, tetapi penyalahgunaan hak demokrasi yang membahayakan stabilitas nasional hams dicegah dan diambil tindakan.

Salah satu wujud nyata dari pada kebebasan yang bertanggungjawab tampak jelas dalam Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat ini. Para anggota dewan lebih tahu apa yang saya maksudkan.

Disini kritik yang paling tajam pernah dilontarkan kepada pemerintah, sehingga membuat merah muka menteri-menteri dalam sidang-sidang komisi. Tetapi di sinipun lahir dukungan yang paling kuat terhadap berbagai kebijaksanaan pemerintah. Dalam kebebasan dan kritik, yang kita adu adalah alasan untuk mencari kebenaran dalam musyawarah; bukan adu kekuatan yang akan menimbulkan kekacauan dan persatuan nasional yang terpecah.

Undang2 Parpol & Golkar

Dalam hubungan ini kita semua merasa leg a karena Dewan bersama-sama Pemerintah sudah dapat menyelesaikan Undang-Undang tentang Partai Politik dan Golongan Karya. Barangkali kita agak kecewa melihat lamanya waktu penyelesaian Undang-Undang tersebut. Tetapi di lain fihak ini justru menunjukkan bahwa pembahasan dan penyelesaian undang-undang itu telah berjalan secara demokratis serta mencerminkan betapa berat dan pentingnya masalah ini bagi “Kehidupan kepartaian” dan golongan karya dalam usaha kita menumbuhkan demokrasi berdasarkan Pancasila.

Dengan selesainya Undang-Undang ini, maka makin kokohlah kehidupan kepartaian dan kekaryaan di Indonesia yang terdiri dari dua partai dan satu golongan karya, demikian pula terang dan pastilah “aturan permainan” dan arah pertumbuhan dan pembinaan organisasi politik dan golongan karya.

Teranglah, bahwa Partai Politik dan Golongan Karya bukan hanya mempunyai hak hidup dalam kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila, malahan disamping itu ia merupakan kebutuhan yang mutlak sebagai wadah penyaluran aspirasi-aspirasi rakyat dan sarana pembinaan kesadaran politik masyarakat.

Dengan kesadaran politik masyarakat dalam, arti luas, maka akan bertambah lajulah jalannya pembangunan kita. Undang-Undang tentang Partai Politik dan Golongan Karya yang baru ini kita harapkan akan meretakkan jalan ke arah itu. Disamping itu, Undang-Undang tentang Partai Politik dan Golongan Karya ini pun merupakan hasil yang kita capai dalam pembangunan di bidang politik, yang sekaligus memperkuat ketahanan di bidang politik.

Pemilu 1977

Salah satu tugas nasional yang erat hubungan dengan pembinaan ketahanan dibidang politik adalah pelaksanaan Pemilihan Umum yang hams diselenggarakan dalam tahun 1977.

Pemilihan Umum pada tahun 1971 ternyata telah memperkokoh stabilitas nasional dan mendukung kelancaran pembangunan seperti yang kita capai pada saat ini menunjukkan, bahwa ketahanan nasional kita di bidang politik bertambah kuat. Namun demikian, seperti yang saya tugaskan waktu itu, masih banyak usaha-usaha penyempumaan yang harus kita lakukan agar pelaksanaan Pemilihan Umum makin demokratis, makin menjamin diwakilinya semua lapisan masyarakat dan makin dapat memperkuat persatuan, nasional kita.

Karena itu kitapun sekarang sudah harus menyiapkan diri, baik secara fisik maupun secara mental untuk makin memperbaiki pelaksanaan Pemilihan Umum yang akan berlangsung pada tahun 1977 nanti. Untuk itu antara lain kita perlu mengadakan perbaikan-perbaikan dalam Undang-Undang Pemilihan Umum yang sekarang seperti yang Rancangan Undang-Undang telah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat ini.

Tujuannya juga jelas ialah untuk meneruskan pembangunan kita di bidang politik dan untuk makin memperkuat ketahanan di bidang pilitik. Pemerintah mengharapkan agar penyelesaian Rancangan Undang-Undang tersebut dapat dilaksanakan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Tak Tergantung Luar Negeri

Mengenai ketahanan di bidang ekonomi, persoalannya bagi kita adalah bagaimana kita menserasikan stabilitas ekonomi, pertumbuhan dan perataan pembangunan, sedemikian rupa sehingga kita lambat laun dapat berdiri sendiri, tidak tergantung lagi pada ekonomi luar negeri dan tidak akan menderita sebagai akibat daripada perkembangan ekonomi dunia.

Stabilitas ekonomi kita perlukan, sebab tanpa stabilitas maka pembangunan yang membawa kemajuan tidak akan dapat terlaksana. Pertumbuhannya harus kita usahakan sebab hanya dengan pembangunan kita akan mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Sedangkan perataan pembangunan tidak lain berati usaha yang nyata untuk mengarah kepada terwujudnya keadilan sosial, baik sebagai tujuan pembangunan yang kita cita-citakan maupun sebagai usaha untuk memperkokoh kesetiakawanan sosial.

Meskipun ketahanan kita di bidang ekonomi telah mulai tumbuh sekarang ini sehingga stabilitas ekonomi dapat kita pelihara kendatipun dunia beberapa kali mengalarni goncangan-goncangan dari berbagai krisis namun bidang ekonomi inilah yang masih merupakan mata rantai yang berteman dalam keutuhan ketahanan nasional kita justru kita tetap menitikberatkan pembangunan kita dalam bidang ekonomi agar dengan demikian kita untuk meningkatkan ketahanan di bidang ekonomi dan sekaligus juga mempercepat kemampuan kita untuk meningkatkan, pembangunan di bidang­bidang non ekonomi.

Wujud Masyarakat

Mengenai ketahanan nasional di bidang sosial budaya masalahnya berkisar pada usaha, membina kehidupan yang rukun dan tetap berkepribadian dalam masyarakat kita yang majemuk ini. “Bhinneka Tunggal Ika” adalah gambaran yang lengkap mengenai wujud masyarakat, semangat dan sekaligus cita-cita kita.

Kita tidak dapat ingkar dari kenyataan bahwa kita ini berbeda-beda. Tetapi justru karena berbeda-beda itu kita menjadi satu dan bertekad untuk tetap bersatu. Karena itu kita harus memelihara kerukunan hidup diantara kita yang memang berbeda-beda itu. Kita bukan saja harus memelihara kerukunan itu, melainkan harus memperkokoh kerukunan dan persatuan tadi. Dalam rangka ini terbentuknya Majelis Ulama dalam bulan yang lalu, sungguh merupakan usaha nyata bagi semakin kuatnya kerukunan diantara ummat alam sendiri. Tetapi lebih dari itu, kerukunan demikian jelas memperkokoh kerukunan dalam keluarga besar Bangsa Indonesia dan sekaligus merupakan kekuatan pendorong yang lebih besar bagi kelancaran pembangunan. Dengan terbentuknya Majelis Ulama ini diharapkan makin mudah dan efektiflah pembinaan kerukunan hidup antar ummat beragama yang berbeda-beda melalui suatu wadah konsultasi antar ummat beragama. Dimana masing-masing agama akan diwakili dan organisasinya masing-masing ialah: Majelis Ulama bagi Islam, MAWI bagi Kristen Katolik, Dewan Gereja-Gereja Indonesia bagi Gereja-Gereja yang menghimpun ummat Hindu, ummat Budha dan organisasi Sekretariat Bersama yang menghimpun aliran-aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan begitu akan bertambah dalamlah saling pengertian, persaudaraan dan persatuan antara ummat beragama di Indonesia; yang merupakan tali pengikat dari persatuan Bangsa kita.

Senam Pagi Indonesia

Dalam mengusahakan kerukunan dan persatuan Bangsa kita itu, hendaklah sekaligus digali dan dikembangkan kebudayaan dan kesenian daerah yang akan merupakan unsur-unsur kesenian nasional. Dengan hidup berkembangnya kesenian­kesenian daerah ini, maka makin kuatlah ketahanan di bidang sosial-budaya, sehingga tidak mudah berjangkit dan merajalela kesenian atau kebudayaan asing yang tidak cocok dengan kepribadian Indonesia.

Kebudayaan dan kesenian daerah banyak diungkap kembalidan dipelajari. Ini menunjukkan bahwa kebudayaan dan kesenian daerah bukan lagi menjadi milik daerah dalam arti sempit, melainkan dirasakan sebagai milik nasional. Pada gilirannya ini berarti makin bertambah artinya persatuan dan kesatuan kita.

Ini juga berarti bertambah tebalnya kecintaan dan kebanggaan terhadap Bangsa sendiri. Dan perkembangan ke arah ini berarti juga pembangunan kejiwaan.

Membangun jiwa dan raga, membangun rohani dan jasmani merupakan tugas nasional kita.

Karena itulah, pembangunan jiwa dan raga ini tetap kita perhatikan. Dalam hubungan ini adalah sangat besar manfaatnya bagi pembinaan raga, dan juga agar kita tetap sehat dan lincah, untuk menggerakkan dan mengisi pembangunan.

Dari mimbar ini saya serukan agar mulai tanggal 17 Agustus 1975 kita memulai untuk secara teratur melakukan Senam Pagi Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan segera akan menggerakkan senam pagi itu, antara lain dengan mewajibkan pada sekolah-sekolah untuk melakukan senam pagi sebelum pelajaran dimulai. Gerakan-gerakan dalam senam pagi itu digali dari sumber-sumber kebudayaan kita sendiri, diarahkan untuk pertumbuhan jiwa dan raga kita serta disesuaikan dengan keperluan bangsa kita yang terus membangun ini.

Sistem Senjata Sosial Harus Dikembangkan

Mengenai ketahanan nasional di bidang Hankam, maka pengembangannya juga harus tetap bersumber pada pandangan hidup kita, kepada pengalaman-pengalaman dan sejarah kita sendiri. Ini berarti bahwa ketahanan nasional di bidang pertahanan ­keamanan tidak mungkin terwujud jika seluruh rakyat tidak mengambil bagian di dalamnya. Bagaimana kita membela keutuhan wilayah, bagaimana kita mempertahankan kesatuan Bangsa dan bagaimana kita menjaga kedaulatan Negara pada akhimya adalah masalah dan tanggungjawab selumh rakyat. Namun demikian, dalam selumh usaha mewujudkan ketahanan nasional di bidang pertahanan-keamanan itu peranan dan tanggungjawab Angkatan Bersenjata sungguh besar dan menentukan. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia mempakan kekuatan pokok dan inti dari kekuatan Hankam kita yang dengan dukungan dan bersama-sama dengan kekuatan seluruh rakyat hams mampu mengatasi ancaman bahaya yang ada. Dalam mengembangkan ketahanan nasional di bidang pertahanan-keamanan, kita harus dapat mengembangkan secara serasi antara sistim senjata teknologi dan sistim senjata sosial. Sejarah kita sendiri menunjukkan-dan akhir-akhir ini sejarah bangsa-bangsa lain makin menunjukkan-bahwa dengan keunggulan senjata teknologi saja, perang ridak akan dimenangkan. Oleh karena itu, sistim senjata sosial hams dikembangkan sehingga bersama-sama sistim senjata teknologi kita dapat mempertahankan keutuhan wilayah, kesatuan Bangsa dan kedaulatan Negara kita.

Kita memang kaya dengan pengalaman mengenai hal ini. Dalam Perang Kemerdekaan dahulu kita dapat bertahan melawan musuh dengan Perang Rakyat Semesta. Dengan cara-cara baru, dengan organisasi baru, dengan peralatan baru, dasar-dasar perang rakyat Semesta itulah yang hams kita kembangkan. Ini menjadi bertambah penting artinya, karena dalam jaman modern ini perang telah menjadi pertarungan yang menyelumh antara kekuatan dua fihak yang berhadap-hadapan. Ini menjadi pentingjuga artinya karena sebelum perang panas meletus tidak jarang didahului dengan perang dingin, subversi, infiltrasi, yang dapat memakan waktu bertahun-tahun sebelumnya.

Pembinaan Teritorial

Sistim senjata sosial makin lebih cocok bagi kita yang sedang membangun, dimana industri dan ketrampilan kita, kemampuan ekonomi dan keuangan kita, belum mampu membuat Angkatan Bersenjata yang besar dan mutakhir persenjataannya. Namun ini tidak berarti bahwa kita mengabaikan pembangunan kekuatan pertahanan-keamanan. Wilayah kita yang demikian luas, kedudukan Tanah Air kita yang strategis, memang memerlukan Angkatan Bersenjata yang besar. Tetapi pembangunan Angkatan Bersenjata hams disesuaikan dengan kemungkinan bahaya yang datang dan hams disesuaikan dengan kemampuan-kemampuan Bangsa kita untuk memiliki Angkatan Bersenjata. Saat ini misalnya, kita belum perlu dan belum mampu memiliki pembom­-pembom raksasa atau kapal-kapal penempur yang besar.

Yang lebih kita perlukan adalah Angkatan Bersenjata yang mampu bergerak dengan cepat untuk segera menumpas gangguan terhadap keamanan dan terhadap keutuhan wilayah negara dengan menggunakan kekuatan senjata. Yang juga kita perlukan adalah sistim, di mana kita segera tahu tempat dan wujud gangguan yang muncul. Dalam rangka ini, sekali lagi, kemampuan rakyat untuk menjaga sendiri keamanan di lingkungannya serta menyiapkan lingkungan untuk kepentingan pertahanan yang efektif, harus merupakan kekuatan pertama untuk menghadapi bahaya itu. Dengan kata lain harus kita kembangkan lebih nyala apa yang dahulu telah kita laksanakan, ialah pembinaan teritorial. lni tidak ada hubungannya dengan soal militerisme, juga tidak berarti militer menguasai sipil. Ini adalah bagian yang penting dari hidup dan matinya bangsa dan negara kita. Ini adalah masalah pemerintah, masalah Angkatan Bersenjata dan masalah rakyat.

Karena itu persatuan ABRI dan rakyat kekompakan ABRI sendiri, dan persatuan antara rakyat bukanlah kata-kata kosong dan sama sekali bukan sekadar alat propaganda. Semuanya itu adalah kebutuhan nyata. Semuanya itu adalah jawaban yang paling tepat untuk mewujudkan ketahanan nasional di bidang pertahanan ­keamanan.

Dalam rangka inilah harus kita lihat usaha dan hasil-hasil integrasi ABRI yang telahkita mulai beberapa tahun yang lalu. Dalam kerangka ini pula dwi fungsi ABRI harus kita kembangkan secara kreatif, agar dapat menjadi kekuatan pertahanan-keamanan yang ampuh dan menjadikekuatan sosial politik yang besar. Yang harus kita sempurnakan adalah teknik dan cara-caranya Akan tetapi dasar-dasarnya harus tetap tumbuh dari pengalaman kita selama perang. Kemerdekaan, dalam perang Rakyat Semesta dan falsafah negarakita yang berdasarkan Pancasila ini.

Ketahanan Nasional dan Pembangunan

Usaha peningkatan ketahanan nasional sangat erat hubungannya dengan kelancaran pelaksanaan pembangunan. Keduanya dapat berjalan serempak dan bersama-sama dan bahkan akan saling memperkuat dan memperlancar hasil-hasilnya apabila benar-benar dilaksanakan secara tepat dan serasi.

Dengan makin mantapnya ketahanan nasional kita, yang berarti makin ulet dan tangguh kita dalam menghimpun, kemampuan untuk menyingkirkan setiap ancaman dan rintangan yang dapat menghambat pelaksanaan pembangunan, maka makin terjaminlah kelancaran pelaksanaan pembangunan. Di lain fihak: dengan hasil-hasil yang dicapai dalam pembangunan, khususnya di bidang ekonomi akan memperkuat ketahanan kita di bidang ekonomi dan akan memperbesar pula kemampuan kita untuk memperkuat ketahanan nasional di bidang-bidang yang lain.

Dalam melaksanakan pembangunan yang sekarang ini pun kita terus mengusahakan sekaligus agar ketahanan nasional kita makin bertambah kokoh.

Bukan Barang Mewah Lagi

Mengenai pelaksanaan pembangunan sampai sekarang, saya tidak akan menjalankan secara terperinci. Saya hanya ingin menegaskan bahwa tidak ayal lagi kita telah mencapai kemajuan-kemajuan yang berarti. Kemajuan dan kesejahteraan telah makin terasa dan bertambah baik di mana-mana Kemajuan-kemajuan tersebut juga jelas telah dinikmati oleh sebagian besar rakyat, baik petani, buruh, pegawai, pengusahadan seterusnya.

Apabila sebelum pelaksanaan REPELITA-terlebih-lebih sebelum Orde Baru­ banyak teIjadi antri beras, dan terdapat daerah-daerah yang selalu menderita busung lapar, sekarang setiap saat dan di mana saja orang dapat membeli beras dengan harga yang stabil, sedangkan Pak Tani penghasil beras dapat menjual padi atau berasnya dengan harga yang pantas pula, karena memperoleh perlindungan dari Pemerintah.

Sekarang boleh dikatakan tidak ada orang berpakaian compang-camping. Malahan orang mempunyai pakaian beberapa setelan dengan warna dan corak yang cukup indah; dan bahannya adalah buatan dalam negeri.

Barang-barang seperti sepeda, radio transistor, jam tangan, sepatu dan sebagainya telah menjadi kebutuhan orang kebanyakan, tidak lagi dianggap mewah. Barang-barang tersebut beberapa tahun yang lalu masih merupakan impian bagi bagian terbesar rakyat kita.

Barang-barang pokok dan sarana produksi seperti pupuk, semen, kaca, pipa, seng dan lain-lain yang beberapa tahun yang lalu masih harns kita impor, sekarang sebagian besar telah dapat kita penuhi sendiri. Dan diharapkan dalam beberapa tahun ini, dalam REPELITA II InsyaAllah, telah dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan.

Apabila beberapa tahun yang lalu dalam menghadapi puasa, lebaran dan tahun barn kita selalu sibuk untuk mengimpor berbagai barang kebutuhan pokok seperti beras, gula, bahan pakaian dan sebagainya, sekarang-menjelang puasa ini-kita bahkan mengambil langkah-Iangkah untuk membatasi impor berbagai barang tersebut, karena persediaan barang dan hasil produksi dalam negeri telah dapat memenuhi kebutuhan.

Sekarang, orang-orang yang tinggal di desa-desa terpencil sekalipun tidak merasa asing melihat kendaraan bermotor malahan, banyak diantara mereka memiliki sepeda motor.

Apa yang dahulu belum dapat kita buat di negeri sendiri, sekarang sudah kita buat di sini; sebagian telah kita buat seluruh-nyadi sini, sebagian baru taraf “assembling”. Dan apa yang dahulu masih rendah mutunya, sekarang telah baik mutunya. Bukan saja barang-barang yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik besar, tetapi juga meliputi barang­barang yang rupanya sederhana dan dihasilkan oleh tangan-tangan pengrajin di desa­desa yang sebagian justru untuk memenuhi pasaran di luar negeri.

Kita telah banyak membangun atau memperbaiki jalan-jalan dan jembatan, pelabuhan-pelabuhan udara dan pelabuhan laut, bendungan-bendungan besar dan irigasi-irigasi kecil, listrik dan lain-lain.

Sebelum tahun 1966, kita akan senang bila melintasi jalan yang rata dan halus walau hanya beberapa puluh kilometer; sekarang kita barangkali mengumpat bila melewati jalan berlobang-Iobang walau beberapa puluh meter saja. Dahulu kita kagum bila pesawat terbang atau kereta api atau bis tiba tepat pada waktunya sekarang kita pasti menggerutu jika alat angkutan tersebut sesekali terlambat.

Sekarang berlipat gandajumlah orang yang bepergian dengan bis, kereta api, kapal laut dan kapal terbang. Angkutan barang juga melonjak.

Kelancaran hubungan antara semua tempat -tempat di seluruh Indonesia bukan saja mempunyai arti penting bagi kegiatan ekonomi dan pembangunan, akan tetapi juga akan memperkuat persatuan Bangsa kita. Tekad persatuan ini telah membara ratusan tahun yang lalu. Perdana Menteri Gajah Mada pemah bersumpah tidak akan memakan buah “Palapa” sebelum terwujud persatuan dan kesatuan dalam wilayah kerajaan Majapahit, yang luasnya hampir seperti Nusantara kita masa kini. Sekarang persatuan dan kesatuan Nusantara telah terwujud. Malahan, harus makin kita perkokoh. Kekokohan itu akan makin kita perteguh dengan meluncurkan satelit di tahun depan yang mernpakan bagian penting daripada Sistim Satelit Domestik. Dengan sistim ini hubungan komunikasi dari satu tempat ke tempat lain di selurnh Indonesia menjadi lancar dan cepat. Melalui sistim itu akan makin luas jangkauan pemancar radio dan televisi, yang akan memperlancar penerangan kepada masyarakat dan pendidikan secara nasional ke selurnh pelosok. Bangsa yang makin mudah berhubungan satu dengan yang lain, Bangsa yang makin memahami masalah-masalah nasionalnya dan Bangsa yang luas pendidikannya akan mampu mempercepat pembangunan dan memperkuat persatuannya. Ini berarti bertambah besar ketahanan nasionalnya. Karena itulah Sistim Satelit Komunikasi Domestik itu kita beri nama “Palapa” sebagai lambang teljelmanya sumpah Gajah Mada untuk mempersatukan Nusantara.

300 Proyek Setahun

Sungguh, itu semua mernpakan sebagian contoh dan petunjuk adanya kemajuan dan meningkatnya kemampuan kita kemampuan untuk menghasilkan produksi dan jasa sebagai hasil dari pada pelaksanaan REPELITA.

Pendek kata, selama REPELITA I dan REPELITA II hingga saat ini kita terns membuat garis yang menaiki.

Kemampuan kita untuk membiayai pembangunan juga bertambah besar, baik yang bersumber dari negara maupun dari masyarakat, baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Kemampuan pembiayaan pembangunan yang bersumber dari negara sebagian besar kita arahkan untuk pembiayaan proyek-proyek yang menyangkut kepentingan masyarakat serta merata di seluruh Indonesia, seperti prasarana, proyek-proyek Inpres bantuan Propinsi, Kabupaten, Desa, SD dan Puskesmas – subsidi pupuk dan sebagainya, yang telah diketahui dan dirasakan manfaatnya bagi kita semua.

Kemampuan swasta nasional dalam turut serta dalam pembangunan juga meningkat. Dalam tujuh tahun ini lebih dari 2.250 proyek penanaman modal dalam negeri telah disetujui oleh Pemerintah dengan modal investasi melampaui Rp.1,5 trilyun, ini berarti rata-rata dibangun 200 proyek setiap tahunnya. Juga sangat penting untuk dikemukakan, bahwa pada tahun-tahun terakhir ini banyak proyek2 penanaman modal yang dibangun di daerah2, tidak saja di sekitar Jakarta atau di kota-kota besar.

Titik Rawan

Dana-dana masyarakat yang tersimpan di bankjuga bertambah besar. Saat ini deposito berjangka, Tabanas dan Taska berjumla.’1 sekitar Rp. 375 miliyar, ini juga mempunyai arti penting karena memperbesar kemampuan perbankan dalam pembiayaan antara lain disalurkan kredit untuk BUUD, kredit pembelian padi dan beras, kredit investasi kecil dan kredit modal kerja permanen, yang kesemuanya menyangkut kepentingan golongan ekonomi lemah.

Dalam rangka ini sekali lagi saya sernkan kepada masyarakat untuk terus melanjutkan kebiasaan menabung. Bagi mereka yang berpunya agar hidup sewajarnya saja, jangan menghambur-hamburkan uangnya untuk hal-hal yang tidak berguna dan jangan bergaya hidup mewah. Uang yang berlebih taruhlah di bank atau tanamkan pada kegiatan yang produktif dan berguna bagi masyarakat. Dengan berbuat demikian, bukan saja akan menambah kemampuan kita untuk membangun, tetapi sekaligus juga dapat dicegah adanya perbedaan yang mencolokan tara kehidupan mewah dari sekelompok kecil orang kaya dengan lapisan terbesar masyarakat yang masih harus berjoang untuk hidup lebih layak. Hal inilah yang sering menimbulkan keresahan dalam masyarakat yang merupakan titik rawan dalam ketahanan nasional kita. Karena itu “pola hidup sederhana” harus terus meneruskan kita camkan dan kita laksanakan.

Beasiswa

Di samping perhatian dan kemampuan pemerintah yang meningkat dalam menyediakan pembiayaan bagi bidang-bidang non-ekonomi, maka menghimpun kemampuan dan dana dari masyarakat untuk menangani masalah-masalah sosial juga tampak makin nyata dan bermanfaat. Dalam hubungan ini saya telah memprakarsai pembentukan “Yayasan Super Semar” yang bertujuan untuk membantu memberikan beasiswa kepada mahasiswa dan pelajar yang cakap tetapi tidak berkemampuan untuk melanjutkan pelajarannya. Dengan mengetuk hati mereka yang mampu dan peka panggilan hatinya terhadap masalah-masalah masyarakatnya, maka terkumpullah sejumlah dana yang dapat memberikan sejumlah bantuan kepada beberapa ribu mahasiswa dan “pelajar” secara kontinyu. Tidaklah adil dan merngikan bangsa kita, jika mereka yang cerdas otaknya dan kuat kemauannya untuk maju, sampai tidak dapat mengejar cita-citanya hanya karena tidak mempunyai biaya atau tidak ada orang yang mau membantu. Usaha sosial semacam ini perlu diperIuas, tidak saja menyangkut pemberian beasiswa, tetapi untuk membantu meningkatkan taraf hidup dan martabat mereka yang karena keadaan tertentu terlantar keadaannya seperti yatim piatu, gelandangan, cacad badan dan sebagainya.

Pinjaman Luar Negeri

Salah satu hasil nyata dari kebijaksanaan politik orde baru dan pelaksanaan pembangunan, adalah meningkatnya hubungan ekonomi dengan luar negeri, yang sangat bermanfaat bagi kelancaran pelaksanaan pembangunan.

Berkat jerih payah kita bersama dalam melaksanakan pembangunan nasional maka kemampuan ekonomi Indonesia menjadi semakin besar. Oleh karena itu dalam rangka lebih mempercepat laju pembangunan maka sejak tahun 1972, kita telah bersedia menerima pinjam-pinjaman luar negeri dengan persyaratan yang kurang lunak dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Di dalam memanfaatkan pinjaman-­pinjaman yang persyaratannya kurang lunak tersebut maka kita senantiasa waspada agar pengembalian pinjaman-pinjaman tersebut benar-benar tidak memberatkan generasi yang akan datang dan bahwa segala sesuatu tetap dalam batas-batas kemampuan ekonomi Indonesia untuk membayarnya kembali pada waktunya.

Syarat-syarat pinjaman yang kurang lunak itu ialah: jangka waktu pengembalian antara 10-20 tahun, termasuk tenggang waktu 2-5 tahun, dan bunga sekitar 4-8 1/2 setahun.

Salah satu bentuk pinjaman dengan persyaratan kurang lunak adalah kredit ekspor yang disediakan oleh negara-negara yang tergabung dalam IGGI, disamping pinjaman-pinjaman dengan persyaratan lunak yang tetap mereka sediakan pula. Kredit ekspor tersebut antara lain telah dimanfaatkan untuk pembangunan di bidang telekomunikasi, pembangunan proyek pasang surut, pembangunan proyek-proyek perlistrikan, pembangunan jaringan jalan dan jembatan, pembangunan proyek -proyek di bidang penerangan dan pembangunan proyek -proyek di berbagai bidang lainnya.

Bank Pembangunan Islam

Sumber lain daripada pinjaman dengan persyaratan lunak adalah dari negara­negara sosialis di Eropa Timur. Dalam rangka meningkatkan kerjasama ekonomi dengan negara-negara Eropa Timur telah dicapai kata sepakat dengan Uni Soviet mengenai penyediaan dana-dana bagi pembangunan proyek -proyek di bidang listrik, industri, pertambangan, dan bidang-bidang lain yang disepakati bersama. Dengan Yugoslavia telah dicapai kata sepakat mengenai pinjaman untuk pembangunan sector listrik dan pengembangan industri logam. Sementara itu sedang diselenggarakan perundingan-perundingan dengan Chekoslovakia dan Rumania mengenai kerjasama pembangunan proyek-proyek di berbagai bidang. Dalam pada itu dengan Negara sosialis lainnya ditemskan langkah-Iangkah penjajagan guna peningkatan kerjasama ekonomi.

Kerjasama ekonomi telah pula digalang dengan sejumlah negara-negara di Timur Tengah; yakni Iran, Saudi Arabia dan Kuwait. Dengan Iran telah disepakati kerjasama untuk membiayai pembangunan sebuah pabrik pupuk urea, yakni pabrik pupuk yang akan dibangun di Cikampek, Jawa Barat. Saudi Arabia telah pula menyediakan dana untuk pembangunan pabrik pupuk Pusri IV di Sumatera Selatan dan untuk pembangunan jaringan jalan raya. Dengan Kuwait sedang berlangsung perundingan-­perundingan mengenai pembiayaan pembangunan proyek di beberapa bidang. Sementara itu Indonesia telah pula menjadi salah satu anggota pendiri daripada Bank Pembangunan Islam. Dalam hubungan ini adalah suatu kehormatan bahwa Indonesia telah memperoleh kepercayaan para anggota Bank Pembangunan Islam untuk duduk dalam pimpinan sidang-sidang dari Dewan Pimpinan Bank tersebut.

Pertamina & Soal Politik

Seperti telah saya tegaskan tadi, maka walaupun kita sekarang mulai mampu mengadakan pinjaman-pinjaman yang kurang lunak maupun pinjaman-pinjaman komersil, namun pinjaman-pinjaman itu hams tetap kita lakukan dengan hati-hati dan penuh perhitungan. Uang pinjaman harus benar-benar digunakan untuk proyek-proyek yang berguna dan sesuai dengan prioritas-prioritas dan sasaran-sasaran pembangunan pada setiap tahap.

Betapapun besarnya keinginan untuk mengembangkan diri dan hasrat untuk ikut berperan dalam pembangunan, prinsip dan dasar-dasar perhitungan yang saya sebutkan tadi tidak dapat diabaikan. Ini adalah dasar-dasar yang penting dari pada seluruh gerak pembangunan kita yang dengan hati-hati kita gerakkan secara bertahap dan berencana. Harus kita cegah pengambilan keputusan menerima pinjaman dan membangun proyek yang hanya didasarkan atas “untung-untungan” saja. Dalam pembiayaan proyek tetap harus diperhitungkan segi efisien yang dapat dipertanggung jawabkan.

Dalam rangka ini kita harus mengambil pelajaran atas kesulitan-kesulitan yang dialarni oleh PERTAMINA sekarang ini. Pemerintah merasa lega, bahwa Pemerintah merasa cukup mempunyai kemampuan untuk membantu PERTAMINA dalam mengatasi kesulitan-kesulitan keuangannya. Iajuga merasa lega, bahwa beberapa langkah penertiban yang diambil oleh Pemerintah maka dunia tetap percaya terhadap ketekadan hati kita untuk membangun. Juga tidak goyah kepercayaan dunia luar mengenai masa depan ekonomi Indonesia. Dengan penuh keprihatinan dan kesungguhan, pemerintah telah berusaha keras untuk mengatasi segala kesulitan perusahaan yang tugasnya menyangkut minyak bumi ini, lebih-lebih karena peranan minyak bumi demikian besar terhadap pemasukan keuangan negara, terhadap penerimaan devisa negara terhadap stabilitas ekonomi dan kelancaran pembangunan pada umumnya. Saya tidak akan menjelaskan lagi duduk persoalan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh perusahaan negara kita itu karena hal itu telah ditugaskan kepada Saudara Menteri Negara EKKUIN/Ketua BAPPENAS untuk menjelaskan secara terbuka kepada masyarakat melalui Keterangan Pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 25 Juli 1975 barn lalu. Saya tegaskan di sini bahwa tidak ada soal politik dibanding kesulitan-kesulitan PERTAMINA dan langkah-Iangkah yang diambil oleh Pemerintah untuk mengatasinya. Langkah2 yang diambil oleh Pemerintah adalah semata-mata untuk membantu menyehatkan kembali keuangan PERTAMINA.

Nasionalisme Ekonomi

Dalam gerak pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang hams menuju kepada kemakmuran dan keadilan sosial itu saya perlu untuk kesekian kalinya menegaskan lagi mengenai peranan bantuan luar negeri dan modal asing disini.

Sampai saat ini rupanya masih ada orang yang belum mengerti mengenai dasar­dasar fikiran dan arah yang kita temui. Malahan, ada juga yang memang tidak mau mengerti.

Dalam jangka panjang tekad kita tidak pemah bergeser.

Kita mau menjadi “tuan di rumah kita sendiri!”.

Kita sendirilah yang harus mampu mengurus masa depan kita sendiri. Kitalah yang harus dapat mewujudkan kesejahteraan yang kita cita-citakan. Kita dan bukan orang lain yang hams memikul beban untuk itu. Dengan kata lain, kita harus mengembangkan nasionalisme di bidang ekonomi. Juga di sini, bukan nasionalisme yang sempit. Karena itu tekad tadi sama sekali tidak berarti bahwa kita mengunci diri terhadap dunia luar. Sikap demikian tidak sesuai dengan keadaan dunia dimana semua bangsa saling berhubungan, saling membutuhkan dan perlu bantu membantu. Di samping alasan idiil, – ialah sebagai usaha kita untuk bersama-sama dengan bangsa lain mewujudkan kesejahteraan dan perdamaian dunia-maka kerjasama dan bantuan dari dunia luar itu mempunyai arti praktis bagi kita.

Modal Asing

Dari berbagai unsur yang diperlukan untuk membangun, maka pada tahap-tahap awal pembangunan ini, kita memang masih kekurangan ketrampilan dan modal.

Sungguh benar, bahwa sesudah kita membangun diri selama REPELITA I dan sekarang berada dalam REPELITA II, maka modal nasional dan ketrampilan kita telah banyak bertambah. Tetapi kebutuhan kita masihjauh lebih besar terutama untuk memecahkan berbagai masalah sosial ekonomi yang kita hadapi. Untuk melengkapi ketrampilan dan modal yang kita perlukan itulah kita mengadakan ketjasama dengan bangsa lain dan menerima bantuan luar negeri, Kita terima uluran tangan itu untuk membantu agar kita dapat tegak berdiri sendiri. Karena itu yang harus kita jaga adalah agar penanaman modal asing dan bantuan luar negeri itu merupakan bahaya, lebih-Iebih kita tidak akan membiarkan diri sehingga ekonomi nasional kita beralih ke tangan orang lain. Karena itu penerimaan bantuan luar negeri dan ikut sertanya penanaman modal asing dalam pembangunan kita, sejak semula, kita letakkan diatas dasar saling hormat – menghormati, saling menguntungkan dan tidak mencampuri urusan dalam negeri kita. Dalam rangka mewujudkan kekuatan ekonomi nasional maka keikutsertaan tenaga, ketrampilan dan modal Indonesia lambat laun harus juga masuk kedalam kegiatan dan usaha penanaman modal asing itu. Bantuan luar negeri dan penanaman modal asing adalah langkah yang kita ambil secara sadar untuk mempercepat pembangunan Indonesia dengan memanfaatkan ketrampilan dan modal yang dapat menyertai kita dalam pembangunan ini. Sebab itu adalah sewajamya apabila kita mengharap dan memberi arah agar penanaman modal asing di sini mau dan mampu menyesuaikan diri dengan kepentingan­-kepentingan Indonesia. Disamping penyediaan prasarana fisik maka unsur penting dalam penggarapan masalah-masalah sosial adalah pemberian arah dan terbinanya sikap hidup yang baik bagi kebutuhan pembangunan. Arah yang dituju adalah agar sifat kerakyatan daripada pembangunan kita makin jelas wajahnya. Sepadan dengan bertambah besarnya kemampuan keuangan negara, maka biaya yang makin besarpun telah kita sediakan untuk perluasan kegiatan clan pembangunan di lapangan pendidikan dan pembinaan generasi muda, kesehatan dan keluarga berencana, perumahan rakyat, tenaga kerja, transmigrasi, koperasi keagamaan, kebudayaan dan lain-lainnnya. Sekarang ini semua orang desa sangat mengenal sekolah-sekolah dasar baru yang mereka sebut “SD Inpres”. Puskesmas-puskesmas menjadi nama yang sangat dekat dengan mereka, karena kesanalah mereka berobat. Rumah-rumah sakit di kota besar sampai kota-kota kecil bertambah baik gedung dan peralatannya, sebagian lagi bertambah luas dan banyak dibangun yang baru. Sangat jelas, bahwa dalam keadaan ekonomi yang tumbuh dan pembangunan makin meluas itu kesempatan bekeIja juga bertambah luas.

Perataan

Walaupun masih jauh dari yang kita cita-citakan, namun perataan pembangunan dan wujudnya keadilan sosial juga telah mulai kita rintis.

Kita memang baru membuat langkah yang kecil. Biarpun demikian, langkah kecil ini pasti akan kita ikuti dengan langkah lain yang lebih besar dan makin besar. Usaha penting dalam meratakan pembangunan kita semua daerah telah kita letakkan dasar-dasamya dengan memperbesar bantuan kepada Daerah Tingkat I, bantuan kepada Kabupaten, bantuan kepada Desa dan bantuan-bantuan lain yang dinamakan oleh masyarakat kita sebagai “Bantuan – bantuan Inpres”. Jumlah bantuan ini terus naik dari tahun ke tahun. Dan, Insya Allah, jika pertumbuhan ekonomi dan laju pembangunan dapat terus meningkat maka besarnya bantuan itu juga akan bertambah. Bantuan-bantuan itu telah merupakan kekuatan yang memutar lebih cepat lagi roda pembangunan daerah. Arah pembangunan dari dana-dana itu juga tertuju kepada kepentingan terbesar dari masyarakat oleh karena itu penggunaan dana-dana bantuan Propinsi misalnya, terutama digunakan untuk menggarap peningkatan jalan-jalan dan irigasi yang ada di daerahnya. Bukan hanya perluasan kehidupan ekonomi yang dituju, melainkan juga terbukanya lapangan kerja, karena proyek-proyeknya memang dapat menyerap banyak tenaga kerja. Makin ban yak orang yang bekerja makin banyak pula orang yang menikmati pembangunan ini. Demikian juga kredit yang diberikan kepada petani dalam usaha Bimas pertanian yang akan terus diperluas dengan Bimas di bidang perkebunan, peternakan, kerajinan rakyat dan sebagainyajelas merupakan ikhtiar untuk memperbaiki nasib serta memperbaiki mutu kehidupanjutaan “orang kecil!”. Langkah-Iangkah itu terang merupakan awal dari perjalanan kita untuk menciptakan landasan masyarakat adil dan makmur. Pembentukan BUUD sebagai benih yang sehat bagi tumbuhnya koperasi yang kuat, yang mampu menjawab masalah – masalah dan tantangan pembangunan ekonomi modem di pedesaan adalah juga alat untuk memperbaiki nasib rakyat dan masyarakat desa umumnya.

Proyek Asahan

Meratakan pembangunan juga didorong dengan pembangunan proyek-proyek besar di luar Jawa, menggiring penanaman modal asing agar melakukan kegiatan di pulau-pulau lain, membangun ratusan kilometer jalan-jalan baru di Sumatera dan Kalimantan dan di Sulawesi agar di sepanjangjalan-jalan baru itu tumbuh kegiatan ekonomi masyarakat. Pemerintah terus berusaha agar berbagai proyek-proyek besar dapat diselesaikan dengan tetap memperhatikan adanya jarninan pembiayaan yang telah pasti.

Banyak asahan yang telah ditunggu selama puluhan tahun akan dimulai pelaksanaannya. Proyek ini meliputi tiga bagian, yaitu pembangkit tenaga listrik, pabrik aluminium serta prasarana pelabuhan danjalan dan sebagainya. Pembangunannya dilakukan oleh suatu perusahaan campuran, yang di dalamnya Pemerintah kita memiliki saham sebesar 25%. Proyek-proyek besar lainnya di Sumatera antara lain adalah ; proyek gas alarn di Aceh, perluasan pabrik semen Indarnng, persiapan pembangunan besar-besaran proyek batu bara Bukit Asam sedang berjalannya pembangunan pabrik semen baru di Baturaja, pembangunan pabrik pupuk Pusri III di Kalimantan Timur akan dibangun pabrik pupuk. Di Sulawesi pabrik semen Tonasa diperluas, di Matili proyek listrik dan nikel sedang giat-giatnya dibangun sedangkan pabrik gula Bone telah siap diresmikan. Di Pulau Gak Irian Jaya, sebuah proyek nikel sedang dalam persiaan. Sementara itu dua pabrik semen baru yang besar telah mulai berproduksi di Cibinong, pabrik semen Gresik diperluas, pabrik semen Cilacap sedang dibangun. Proyek besi baja Cilegon dibangun kembali, yang saat ini sedang diadakan penelitian ulang secara menyeluruh mengenai kapasitas, segi-segi teknis dan pembiayaannya. Sejumlah bendungan – bendungan raksasa telah kita selesaikan dan sebagian lagi sedang dikerjakan. Proyek-proyek perintis, baik angkutan udara maupun angkutan laut, telah memberi nafas dan kegairahan barn di daerah-daerah dan pulau-pulau yang selarna ini seolah-­olah tetap tidur. Langkah itu mempunyai tujuan ganda, sejalan dengan pembangunan kita yang serba muka inti.

Bukan Asal Membangun

Bukan saja kebangkitan ekonomi yang dituju; melainkan juga sarna pentingnya adalah tujuan untuk mewujudkan secara nyata perataan pembangunan di seluruh wilayah negara ini yang utuh dan bersatu. Dan yang paling penting rakyat banyak secara langsung atau tidak langsung merasakan manfaatnya bagi perbaikan kehidupan dan kesejahteraannya. Dalarn arti ini pembangunan ekonomi yang meluas dan merata itu memberi makna yang penting terhadap pembangunan sosial dan politik.

Dengan pembangunan yang merata dan terbesar di selurnh wilayah Tanah Air ini, maka makin kokoh ikatan persatuan dan kesatuan negara dan bangsa Indonesia dari Sabang sarnpai Merauke. Namun segala-galanya hams tetap dalarn rangka perhitungan yang wajar memenuhi persyaratan ekonomi, bukan aSal membangun proyek.

Jaminan Hari Tua

Sementara gaji pegawai negeri dan Anggota ABRI terus diperbaiki. Demikian juga nasib pensiunan. Pemerintah sedang menyiapkan langkah melalui perasuransian, agar nanti buruh – buruh dan karyawan di pernsahaan – pernsahaan juga mendapat jaminan dihari tua.

Berbagai kebijaksanaan itu menunjukkan betapa usaha kita untuk meratakan pembangunan dan selangkah demi selangkah meletakkan dasar-dasar bagi keadilan sosial asas yang sangat penting yang ditunjukkan oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar.

Semuanya itu mungkin kita keIjakan karena hasil-hasil pembangunan di bidang ekonomi telah memperbesar kemampuan kita.

Karena itu berulang kali saya tegaskan, bahwa pembangunan ekonomi ini adalah alat untuk memperbaiki kesejahteraan umum. la malahan alat yang mutlak.

Memaksakan keadilan sosial dalam suasana ekonomi yang terbelakang sama saja dengan menyebarkan kemiskinan.

Perjoangan mengusir kemiskinan itulah yang terus kita kerjakan bersama-sama. Bukan saja kemiskinan lahiriah, melainkan juga kemiskinan rohani dan corak pembangunan yang telah kita kerjakan tetapi menemukan jalan-jalan perkembangan yang memberikan harapan.

Kita mempunyai harapan karena kita telah mau bekerja dan mau berkorban. Kita mau bekerja karena kita mendambakan kehidupan yang makin baik. Kita mau berkorban karena kehidupan bersarna yang makin baik itulah yang kita cita-citakan.

Karena itu tekad kita sekarang adalah memelihara semangat pembangunan yang telah timbul lagi di dada kita semua. Dan dengan semangat itu kita tingkatkan lagi pembangunan nasional kita ini.

Kita tidak mau lagi kesempatan ini terlepas dari tangan.

Untuk jangka panjang kita telah mempunyai pegangan ialah Garis-Garis Besar Haluan Negara yang telah kita tetapkan sendiri melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat. Untuk jangka menengah kita telah mempunyai REPELITA. ltu Pengalarnan kita dalarn melaksanakan pembangunan menunjukkan, bahwa strategi pembangunan itu telah benar. Karena itu kita harus memegang teguh strategi tadi.

Melihat hasil jerih payah kita, sungguh kita boleh bergembira. Tetapi kegembiraan kita tidak boleh membuat kita lengah, berpuas diri, hidup boros dan bermalas-malasan.

Lebih Baik

Kegembiraan tidak harus berarti hilangnya keprihatinan. Keadaan dunia masih penuh dengan segala kemungkinan berbagai krisis belum habis. Ke dalam kita hams memperkokoh stabilitas, meluaskan pembangunan dan makin menonjolkan wajah keadilan sosial. Untuk itu bukan saja kita hams memperbesar kemampuan lahiriah, akan tetapi harus mempertebal semangat dan teguh memegang arah pembangunan yang kitacita-citakan. Sekali lagi pembangunan tidakhanya berarti munculnya gedung-­gedung bam, rumah-rumah baru dan lain-lainnya. Semuanya itu hanya mempunyai arti jika rakyat banyak menikmatinya. Pembangunan yang tidak membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi rakyat banyak adalah pembangunan yang gagal. Dan kita tidak boleh gagal. Memang, sekarang ada perbedaan antara lapisan kecil orang kaya dan lapisan besar masyarakat yang masih dalam kekurangan. Tetapi ini adalah gejala sementara pada tahap-tahap awal pembangunan ini. Sebagian dari kita kehidupannya maju dengan sangat cepat. Sebagian besar dari kita kehidupannya maju dengan agak lambat. Tetapi yang terang semua kita hari ini tetap hidup lebih baik dari hari kemarin, lebih baik dari sepuluh tahun yang lalu, jauh lebih baik dari 30 tahun yang lalu tatkala kita barn merdeka. Perbaikan ini berkat usaha kita semua. Karena itu buang jauh-jauh sikap masa bodoh, sikap jengkel yang tidak beralasan dan sikap putus asa.

Kita adalah Bangsa yang memiliki kekuatan dan ketabahan, panjang akal dan panjang pikiran.

Kekuatan Kita

Selama 30 tahun ini kita telah mengatasi segala kesulitan yang dapat dipikirkan oleh akal manusia ratusan tahun melawan penjajahan asing yang berat, bertahun-tahun mengangkat senjata dalam perang Kemerdekaan yang dahsyat. Kita lulus dari ujian melawan pemberontakan dari dalam dan perpecahan, kita selalu menang dalam melawan subversi dan inflasi, kita tahan berjalan lurus melawan tarikan-tarikan dari kiri maupun dari kanan, kita dua kali memukul roboh pemberontakan PKI. Kitapun telah menyelamatkan diri dari kebangkrutan ekonomi dan kelumpuhan demokrasi.

Ya! Itulah kekuatan kita. Dengan kekuatan itulah kita pasti berhasil dalam pembangunan di masa datang.

Karena itu kita percaya kepada ketahanan dan kemampuan kita sendiri. Marilah kita perkuat ketahanan itu. Marilah kita perhebat kemampuan itu. Dengan memperkuat ketahanan dan memperhebat kemampuan, pasti akan tercapai cita-cita kita bersama untuk hidup maju sejahtera dan adil. ltulah cita-cita kita merdeka 30 tahun yang lalu. Dan tahap itu juga cita-cita kita di masa datang. Kita akan tetap setia kepada cita-cita yang luhur itu, kita akan bekeIja makin keras untuk cita-cita yang besar itu. Dan Tuhan Yang Maha Esa akan selalu memberi bimbingan dan kekuatan kepada umatnya yang bercita-cita luhur dan mau bekerja. Sekian dan terima kasih.

Jakarta, 16 Agustus 1975

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

S O E H A R T O

JENDERAL TNI

(DTS)

Sumber: SUARA KARYA (18/08/1975)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 603-644.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: