Okt 122018
 

PENGEMBANGAN PULAU MOYO, NTB TAK AKAN RUGIKAN NELAYAN[1]

Jakarta, Antara

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Warsito menjamin bahwa pengembangan Pulau Mayo di propinsi itu sebagai daerah wisata tidak akan menggangu kehidupan nelayan setempat. Ketika ditanya wartawan seusai menemui Presiden Soeharto di Istana Merdeka, Selasa, Warsito mengatakan memang pada kawasan laut tertentu di Pulau Mayo, nelayan dilarang memasukinya.

Warsito mengatakan nelayan dilarang mencari ikan di sana karena dikhawatirkan kegiatan itu bisa merusak karang. Jika karang itu rusak maka diperlukan waktu yang cukup lama untuk memulihkannya.

Mayo yang terkenal dunia intemasional terutama setelah dikunjungi Putri Diana dari Inggris beberapa waktu lalu semakin ramai dikunjungi wisatawan nusantara dan mancanegara. Para wisatawan itu bisa menggunakan pesawat terbang ataupun feri untuk beristirahat di sana. Tempat penginapan di sana dibangun di hutan tanpa harus menebang pohon-pohonya. Warsito mengatakan, larangan yang dikeluarkan pengelola pulau ini terhadap para nelayan akan diselesaikan rnisalnya dengan membuat batas-batas yang tegas mengenai wilayah yang terbuka dan tertutup bagi para pencari ikan tersebut.

Ia mengatakan, kepada Kepala Negara telah dilaporkan pengembangan temak besar seperti sapi dan kerbau dalam rangka memenuhi kebutuhan daerah-daerah lain misalnya DKl Jakarta. Pada tahun 1993, dari NTB dikirim 48.000 sapi ke Jakarta, naik dibanding 35.000 sapi pada tahun 1992. Untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit ternak, maka telah dibangun rumah pemotongan hewan bekerja sama dengan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Kini yang akan dikirim ke Jakarta adalah daging segar yang dibawa dengan mobil­ mobil khusus. Manfaatnya adalah selain mencegah kemungkinan penyebaran penyakit hewan, maka limbahnya seperti kulit dapat dimanfaatkan oleh pengusaha setempat untuk membuat cinderamata.(T. EU02/EU08/11/0l/9414:42/RU3

Sumber:ANTARA(ll /01/1994)

_____________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVI (1994), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 178-178.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: