Mar 222018
 

PEMBICARAAN SOEHARTO-VON WEIZSAECKER DI BONN YANG PENTING BAGI RI AKSES KE PASAR EROPA

 

 

Bonn,Suara Pembaruan

Presiden Soeharto dalam pembicaraannya dengan Presiden Republik Federal Jerman Dr. Richard von Weizsaecker di Bonn Rabu siang mengatakan, hal yang di pentingkan Indonesia dan negara-negara berkembang pada umumnya bukanlah soal bantuan ekonomi dalam bentuk pinjaman dari Negara maju, tetapi justru bagaimana bisa memperoleh akses ke pasar Eropa bagi produk-produk Indonesia.

Menteri Sekretaris Negara Moerdiono yang mengatakan hal itu dalam keterangan persnya kepada para wartawan Indonesia di Bonn Rabu tengah malam mengatakan Presiden Republik Jerman atas pernyataan Presiden Soeharto tersebut mengungkapkan, Jerman bersatu memang ingin diabdikan untuk perkembangan yang positif bagi perekonomian dunia pada umumnya.

Presiden Jerman, menurut Mensesneg, menjanjikan, Jerman akan berjuang agar terbentuknya Pasar Eropa dan Persatuan Eropa akan tetap merupakan wilayah yang terbuka dalam arti Pasar Eropa agar bias terus menjamin lancarnya arus barang dari Negara lain ke Eropa Barat atau ke Jerman sendiri.

Menurut Moerdiono,Presiden Soeharto mengharapkan, meskipun Jerman saat ini banyak memberikan perhatian ke negara-negara Eropa Timur,Tengah dan Jerman bagian timur, diharapkan perhatian Jerman terhadap Indonesia dan ASEAN tidak akan berkurang.

Menko Ekuin dan Wasbang, Drs. Radius Prawiro yang bersama-sama dengan Mensesneg Moerdiono memberikan keterangan pers Rabu tengah malam itu mengatakan, beberapa jam sebelumnya ia telah mengadakan pembicaraan dengan rekannya Menteri Perekonomian Jerman. Pada pertemuan dengan Menteri Perekonomian Jurgen Moleman dibicarakan sekitar usaha meningkatkan hubungan perdagangan RI-Jerman.

Menurut Menko Radius, Indonesia memang banyak mengimpor barang modal sehingga hal itu membuat timpangnya neraca perdagangan RI-Jerman. “Untuk mengatasi hal ini, dalam pembicaraan dengan pihak Jerman, perlu diupayakan agar Indonesia bisa memasok produk barang-barang kita lebih banyak lagi, khususnya ke wilayah Jerman bagian timur,”kata Radius Prawiro.

Hal ini menurut Radius, ditanggapi dengan baik oleh pihak Jerman. Sektor swasta Jerman perlu lebih digerakkan untuk mengadakan penetrasi pemasaran barang-barang yang dihasilkan Indonesia secara bersaing, demikian laporan wartawan Pembaruan Petrus Suryadi dari Bonn Kamis pagi.

 

Kapal Keruk

“Di wilayah Jerman bagian timur terdapat beberapa kapasitas alat-alat produksi yang bisa dimanfaatkan dengan bimbingan para teknisi dari wilayah Jerman bagian Barat. Untuk ini Indonesia menyebutkan, adanya kebutuhan akan kapal keruk yang amat diperlukan Indonesia yang dapat dibuat secara bersaing di Jerman bagian timur dengan bantuan para ahli dari Jerman bagian barat.

Untuk ini, pemerintah Jerman akan mempelajari kebutuhan akan kapal keruk dan secara serius Jerman mengatakan, akan mempelajarinya karena masalah ini tidak hanya bermanfaat bagi rakyat Indonesia tetapi diharapkan juga bermanfaat bagi rakyat Jerman sendiri. “Tendemnya dilakukan secara terbatas di Jerman sendiri, “kata Menko Radius Prawiro.

Juga dibahas hal-hal yang berkaitan dengan investasi,penanaman modal Jerman di Indonesia yang sangat diharapkan, termasuk juga investasi dari pihak Jerman. Pada tahun 1990 ini, banyak investor yang berminat untuk menanam modal di Indonesia. PMA sampai mencapai jumlah 87 miliar dolar AS. Dalam hal ini nampaknya pihak Jerman ketinggalan, disbanding pengusaha atau investor dari Negara lain seperti AS dan Jepang dan Jerman masuk keperingkat ke-16.

“Dan sudah barang tentu bagi negara seperti Jerman yang merupakan eksportir terbesar didunia tahun 1990 suatu hal yang tidak wajar. Dan karena itu, kita undang Jerman untuk lebih memperhatikan penanaman modal Jerman di Indonesia karena Indonesia memerlukan lapangan kerja dan memerlukan kapasitas industri yang lebih meningkat khususnya untuk keperluan ekspor. Bila banyak investor Jerman diIndonesia,sudah barang tentu nanti akan banyak menghasilkan barang-barang untuk keperluan ekspor ke Eropa khususnya ke Jerman,”kata Radius Prawiro.

Ditambahkan, delegasi RI ke Jerman mendapat kesempatan untuk mengadakan pertemuan dengan dunia usaha Jerman. Kita akan menyampaikan informasi tentang langkah-langkah kebijakan pemerintah yang terakhir tahun 1991. Dan juga bisa didengar mengapa Jerman dalam penanaman modal di Indonesia secara keseluruhan, mulai awal sampai sekarang berada pada peringkat ketujuh.

Hal lain yang dibahas antara Menko Ekuin dan Menteri Perekonomian Jerman adalah soal kebebasan dalam perdagangan bebas, hambatan-hambatan non tarif, proyek-proyek ke listrikan seperti proyek di Sumatera di Umbilin,dan proyek perkapalan yang penting bagi pembangunan IBT. (SA)

 

 

Sumber : SUARA PEMBARUAN (04/07/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 69-71.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: