Apr 292017
 

PEMBERIAN GELAR BAPAK PEMBANGUNAN MENJADI MURAH: MASHURI

Gelar Bapak Pembangunan Nasional yang dibacakan kepada Presiden Soeharto telah menjadi murah, ketika begitu banyak kelompok secara beramai-ramai mengucapkannya.

Mashuri, Wakil Ketua MPR/DPR mengungkapkan, pengucapan gelar telah menjadi murah dantidak mengandung nilai, ibarat seseorang yang menikmati minuman pada gelas pertama dan kedua kepuasan itu masih bertahan namun pada gelas selanjutnya kepuasan berangsur turun dan minuman itu tak lagi nikmat untuk dicicipi.

”Pokoknya pemenuhan kepuasan berlaku menurut hukum Gossen I, di mana pada satu saat kepuasan itu akan sampai pada titik jenuh. Dan ini berlaku juga pada pemberian gelar Bapak pembangunan kepada Presiden Soeharto," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, Presiden sendiri memang tidak menyukai hal seperti ini. "Beliau menolak itikad pengkultusan, karena tidak sesuai dengan kepribadiannya, saya mengenal pribadi Pak Harto," ujar bekas Menteri Penerangan itu.

Gelar Bapak Pembangunan Nasional yang pada mulanya diungkapkan dalam rapat kerja Deppen (Departemen Penerangan) telah diucapkan oleh hampir setiap kelompok masyarakat dan menjadi kerjaan para menteri yang mengunjungi daerah­daerah untuk menjembatani pemberian gelar itu. Hal yang sama terjadi di lembaga MPR dimana sebagai wadah rakyat menampung pemberian gelar tersebut.

"Tapi ini bukan kerja pokok MPR, MPR berfungsi menentukan GBHN," ujarnya lagi.

Lebih jauh dijelaskan, kalau diamati pemberian gelar Pemimpin Besar Revolusi kepada Bung Karno di masa silam itu adalah usaha golongan komunis; yang pada waktu itu menjadi salah satu terbesar sesudah PNI dan NU.

"Dan pemberian gelar itu, memang sesuai dengan sikap politik PKI," ujarnya "Tapi pemberian gelar tersebut tidak memojokkan Bung Karno," ujarnya walau tidak disebutkan, bahwa usaha itu analog dengan pemberian gelar sekarang ini dan yang lebih banyak adalah usaha Golkar sebagai partai terbesar.

Menilai perkembangan politik menjelang Pernilu dia mengatakan, ada begitu banyak pengarnat dan juga karyawan dalam bidang itu. Dan banyak masalah yang dibicarakan namun yang terpenting adalah pembangunan politik karena tidak bisa terlepas dari bidang-bidang lain.

"Tapi saya ingin menanyakan mengapa banyak pengamat lebih banyak mempergunjingkan soal struktur, dengan tidak menyinggung soal proses." Apakah lebih aman berbicara tentang struktur?" tanyanya.

Di menyebutkan betapa pentingnya proses itu sebagai contoh disebutkan pengalaman di Arnmerika Utara dimana banyak sukses yang terlaksana tidak menimbulkan kegoncangan tapi berlaku dengan lancar.

"Berbeda dengan Amerika Selatan yang setiap pergantian disertakan dengan pertikaian," ujarnya.

Pengalaman seperti ini hanya mungkin pengetrapan dan pengamanan dalam proses begitu diperhatikan dan proses itu dalam pembangunan politik tidak lain adalah pendidikan demokrasi.

"Pendidikan demokrasi akhirnya menciptakan penghayatan demokrasi," ujarnya.

Dalam kaitan ini,menurut dia, terlepas dari setuju atau tidak setuju terhadap isi pemilu sebaiknya hasilnya itu secara bertahap dan tidak serentak akhirnya pemerintah itu sendiri menjadi berwibawa, walaupun pergantian kepemimpinan sampai yang kelimapuluhan sekarang ini.

Mashuri, ketika ditanya apakah dengan mengeluarkan pendapatnya selama ini telah dicap oleh kalangan tertentu sebagai sikap frustasi, ia menjelaskan, "Itu adalah hak mereka untuk mengatakan," ujarnya. (DTS)

Jakarta, Jurnal Ekuin

Sumber: JURNAL EKUIN (04/12/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 297-298.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: