PEMBANGUNAN PERLU PERBAIKAN DAN PEMBAHARUAN TERUS-MENERUS

PEMBANGUNAN PERLU PERBAIKAN DAN PEMBAHARUAN TERUS-MENERUS

 

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto menilai, arah pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah telah benar, karena selama melaksanakan pembangunan, tidak sedikit rakyat yang telah terangkat dari garis kemiskinan. “Yang harus kita lakukan selanjutnya adalah memperbaiki, menyempurnakan dan mengadakan pembaharuan terus-menerus dari yang telah berhasil kita capai sampai sekarang ini.” Penilaian Kepala Negara tersebut diungkapkan Rabu pagi, ketika menerima para peserta Seminar TNI-AD di Istana Negara.

Presiden menyatakan, sasaran terwujudnya keadilan sosial dalam kemakmuran jelas tidak dapat dicapai sekaligus. Apa yang dicapai sekarang, barulah sasaran antara. Sebelum tiba pada sasaran akhir masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, masih banyak upaya yang dilakukan dan masih harus mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.

Menurut Presiden, pembangunan sumber daya manusia yang menjadi perhatian Seminar TNI-AD 1990 adalah sangat tepat. Terselenggaranya seminar ini menunjukkan besarnya rasa tanggung jawab TNI-AD khususaya dan jajaran ABRI pada umumnya, terhadap perjalanan bangsa Indonesia di masa mendatang. Peranan ABRI sebagai stabilisator dan dinamisator, serta kedudukan ABRI sebagai modal dasar pembangunan nasional, memang menempatkan ABRI pada tanggungjawab yang besar terhadap kehidupan bangsanya.

Sejak awal pembangunan, kata Kepala Negara, perhatian memang tertuju pada pembangunan manusia Indonesia yang utuh dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. “Jika sejak semula titik berat pembangunan kita letakkan pada sektor pertanian, maka tujuannya justru untuk meningkatkan taraf hidup lapisan masyarakat terbesar Indonesia yang terdiri dari kaum tani dan hidup di pedesaan,” kata Presiden.

Kepala Negara menyatakan, berkat kemajuan pembangunan, masyarakat kini sedang mengalami perubahan. Dunia pun sedang mengalami perubahan-perubahan yang mendasar dan bergerak sangat dinamis. “Karena itu kita harus mengadakan penyesuaian-penyesuaian agar dapat terus hidup, membangun dan maju dalam keadaan yang berubah tadi.”

Selanjutnya Kepala Negara mengingatkan, dari waktu ke waktu harus diadakan penyesuaian mengenai kebijaksanaan, strategi dan tatanan yang harus dikembangkan untuk melaksanakan tugas Pemerintah yang abadi, karena rakyat yang akan dilayani serta dunia di sekitamya akan berubah terus-menerus.

“Kebijakan, strategi dan tatanan yang sesuai untuk dasawarsa yang lampau, tidak akan sepenuhnya? ya sesuai untuk kita terapkan begitu saja saat sekarang, apalagi di masa mendatang. Perlu diadakan evaluasi terus-menerus, diikuti oleh penyiapan berbagai altematif kebijakan dan strategi sebaik-baiknya, serta tatanan yang mendukungnya,” kata Kepala Negara.

Menurut Presiden, ABRI adalah bagian masyarakat yang terlatih dalam berpikir strategis seperti itu. Secara profesional, di mana pun juga militer harus mengadakan perkiraan terus-menerus ke masa datang, bukan saja mencegah terjadinya pendadakan, tetapi juga agar bisa secara cepat, efektif dan efisien menangkal menanggulangi berbagai bentuk ancaman yang dapat timbul.

Kemampuan berpikir strategi seperti itu, kata Presiden, sangat penting dalam merencanakan pembangunan. Oleh karena itu, kemampuan tersebut harus diabdikan secara terus-menerus untuk mendukung lajunya pembangunan nasional, sebagai salah satu wujud kegiatan Dwifungsi ABRI.

 

Taat Asas

Menyinggung kembali tentang pembangunan sumberdaya manusia, Presiden menyatakan bahwa intinya adalah memberikan peluang dan kesempatan yang lebih besar serta dukungan lebih kuat bagi pengembangan potensi seluruh manusia Indonesia dalam menghadapi tantangan masa depan. Karena itu pembangunan sumberdaya manusia tersebut berkaitan dengan penataan lebih lanjut tentang hak-hak serta kewajibannya sebagai manusia pribadi maupun sebagai warga masyarakat.

“Kita sudah cukup banyak menyiapkan tatanan yang menjamin persatuan, kesatuan, kebersamaan dan semangat kekeluargaan. Sekarang sudah saatnya memberikan perhatian lebih banyak kepada pengembangan tatanan yang akan memberikan peluang dan kesempatan kepada kemandirian manusia Indonesia,” kata Presiden.

Lebih diingatkan oleh Kepala Negara, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah memantapkan dan menerapkan, mengembangkan dan menerapkannya dalam pelaksanaan secara taat asas, baik oleh jajaran penyelenggara negara maupun oleh masyarakat sendiri. Dalam pemantapan, pelembagaan, pengembangan serta penerapan ini, harus dikembangkan sendiri tatanan yang sesuai dengan kebutuhan dan kepribadian bangsa sendiri. Namun sebagai masukan dan bahan perbandingan, dapat dan bahkan perlu mempelajari tatanan yang ada pada bangsa lainnya.

 

Buah Pikiran

Kasad Jenderal TNI Edi Sudrajat dalam laporannya kepada Presiden mengemukakan, Seminar TNI-AD 1990 dilaksanakan selama 3 hari di Seskoad Bandung. Atas prakarsa Dephankam, tahun 1990 ini TNI-AD mendapat kehormatan untuk menyelenggarakan Seminar Strategi Pembangunan Sumberdaya Manusia.

Dalam seminar tersebut dibahas makalah utama yang disusun berdasarkan materi masukan yang didapat selama 4 kali pra-seminar.

Pembahasan makalah tentang sumberdaya manusia dalam seminar tersebut meliputi bidang-bidang sosial budaya, sosial ekonomi, sosial politik dan teknologi.

“Dari seminar tersebut telah berhasil disusun satu makalah tentang Strategi Pembangunan Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II, sebagai sumbangsih bagi penyusun kebijaksanaan di masa mendatang,” kata Jenderal Edi Sudrajat.

Selesai memberikan sambutannya, Presiden didampingi Pangab Jenderal TNI Try Sutrisno beramah-tamah dengan sejumlah peserta seminar, antara lain Djatikusumo, mantan Kasad Widodo dan peserta lainnya.

 

 

Sumber :SUARA KARYA (20/12/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 230-234.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.