Agu 302017
 

Presiden Soeharto:

PEMBANGUNAN DAN DEMOKRASI HARUS BERJALAN SEIRING

Presiden Soeharto menegaskan, pembangunan dan demokrasi harus berjalan seiring. Sebab pembangunan tanpa demokrasi dapat berarti penindasan dan demokrasi tanpa pembangunan dapat berarti masa depan tanpa harapan.

Hal itu ditegaskan Kepala Negara di Istana Negara hari Senin kemarin ketika membuka Munas ke 8 Korps Cacat Veteran Republik Indonesia (KCVRI).

Menurut Kepala Negara tujuan pembangunan Indonesia jelas. Yakni mewujudkan kehidupan bangsa seperti yang dicita-citakan bersama sejak Proklamasi Kemerdekaan dan telah diamanatkan dalam Pembukaan UUD 45. Yakni agar seluruh rakyat dapat menikmati keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan dalam kehidupan kebangsaan yang bersatu, yang didasarkan Pancasila.

“Kita tidak pernah ragu akan cita-cita ini, dan kita terus berjuang untuk mewujudkannya” tegas Presiden.

Untuk mewujudkan cita-cita itu menurut Kepala negara. kita harus membangun dan terus membangun. “Kita bersyukur karena setelah melaksanakan pembangunan hampir 20 tahun lamanya banyak sekali kemajuan yang telah dicapai.”

Berjalan Seiring

Di bidang ideologi kata Kepala Negara, Pancasila telah makin tertanam dalam hati sanubari bangsa Indonesia. Bahkan secara bersama-sama telah menyatakan bahwa pembangunan yang dilaksanakan di tanah air ini merupakan pengamalan Pancasila. Lebih dari itu telah ditegaskan pula bahwa Pancasila merupakan satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Di bidang politik, banyak pula dicapai kemajuan yang membesarkan hati. Kehidupan politik bangsa telah berhasil ditata sesuai dengan UUD 45. Pemilu sudah berhasil empat kali dilaksanakan, dari waktu ke waktu telah berjalan makin tertib, makin lancar, dan makin menggairahkan organisasi-organisasi kekuatan politik peserta pemilu maupun seluruh rakyat.

“Pembangunan dan demokrasi memang harus berjalan seiring. Sebab pembangunan tanpa demokrasi dapat berarti penindasan, dan demokrasi tanpa pembangunan dapat berarti masa depan tanpa harapan,” tegasnya.

Di bidang ekonomi, juga telah dicapai berbagai kemajuan penting. Demikian pula dalam kehidupan keagamaan, sosial budaya, pertahanan keamanan, dan bidang­bidang kehidupan lainnya.

Namun diingatkan pula bahwa di balik berbagai keberhasilan tersebut tantangan yang dihadapi pun masih sangat besar. Antara lain di bidang perumahan agar keluarga hidup makin sejahtera, di bidang pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Demikian pula berbagai pembangunan untuk menyiapkan masa depan, seperti di bidang industri serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Menghadapi tantangan-tantangan yang demikian itu, tidak ada jalan lain bagi kita kecuali harus membangun dan terus membangun dengan dukungan seluruh rakyat.”

Dalam hubungan itu Presiden mengajak seluruh lapisan rakyat, khususnya KCVRI agar mensukseskan Sidang Umum MPR bulan Maret mendatang, karena SU MPR merupakan sidang amat penting bagi kehidupan negara dan kelanjutan pembangunan nasional.

Lebilh Mulia

Munas ke-8 KCVRI ini akan berlangsung sampai 4 Desember, diikuti 197 peserta. Di antaranya pimpinan Korps Cacat Veteran Belanda (BNMO), Smith, serta Ketua Kelompok Kerja KCVRI dan BNMO, Yan Kingma. Anggota KCVRI saat ini berjumlah 3.900 orang, berdasarkankeanggotaan aktif.

Suasana pembukaan sidang kemarin menjadi penuh haru ketika seorang gadis cilik, Rosita (8), tampil ke depan dan dengan suara lantang membawakan sajak Padamu Tumbal Negara, menggambarkan bagaimana jasa seorang cacat veteran pejuang. Tidak sedikit para anggota cacat veteran yang hadir sampai mencucurkan air mata.

Menurut Presiden Soeharto cacat jasmani yang diderita para cacat veteran merupakan bukti sejarah mengenai hebat dan beratnya perjuangan bangsa Indonesia dalam melahirkan, mempertahankan, dan menegakkan kemerdekaan nasional.

“Kita semua merasa bangga akan keikhlasan para cacat veteran yang telah memberi pengorbanan dari pengabdian kepada kemerdekaan bangsa dan negara.” Dan yang paling membanggakan kata Kepala Negara, “Walaupun cacat tubuh, namun para cacat veteran tetap menyala-nyala semangat juangnya.”

Dalam memperjuangkan cita-cita, mereka yang cacat jasmani tetapi kuat rohaninya, jauh lebih mulia dan lebih penting dari mereka yang utuh jasmani tetapi cacat rohaninya,” demikian Kepala Negara.

Menurut Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga KCVRI, munas diselenggarakan setiap lima tahun sekali “Tanpa karena berbagai hal, maka baru diadakan sekarang,” kata Ketua Umum KCVRI Haji Suharso MS. Munas terakhir diadakan sepuluh tahun lalu, bulan November 1977. (RA)

 

 

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (02/12/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 316-318.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: