Jan 162018
 

PEMBANGUNAN (BAGIAN VIII) (Dikutip dari buku “Pak Harto, Pandangan dan Harapannya”)

 

 

Jakarta, Pelita

Usaha peningkatan produksi pangan, khususnya beras yang merupakan makanan pokok kami, dilakukan melalui intensiftkasi dan ekstensifikasi. Tujuannya adalah untuk secara bertahap mencapai swasembada pangan, meningkatkan mutu gizi, meningkatkan pendapatan dan tingkat hidup petani serta mendorong perkembangan ekonomi pada umumnya.

Karena keperluan lahan memerlukan dana yang besar, yang jika kami paksakan juga akan merupakan beban yang tidak terpikul oleh bangsa kami, maka titik berat diletakkan pada usaha intensiftkasi. Caranya adalah dengan menaikkan produktivitas dan produksi padi pada area yang telah ada. Dalam usaha intensifikasi ini kami terapkan teknologi Panca Usaha. Panca berarti lima dan usaha berarti upaya.

Kelima usaha itu meliputi: (1) penyediaan air untuk sawah-sawah dalam jumlah yang cukup dan pada waktu yang diperlukan: (2) penggunaan bibit unggul yang banyak hasilnya, mempunyai ketahanan hidup yang tinggi dan masa tumbuh yang relatif pendek: (3) tersedianya pupuk yang cukup di tengah-tengah petani dan ada di tempat pada waktu yang diperlukan: (4) tersedianya obat pemberantas hama: dan (5) cara bertanam yang baik sehingga produktivitas benar-benar tercapai. Saya menyadari bahwa teknologi Panca Usaha ini bukanlah milik kami bangsa Indonesia semata-mata. Banyak negara­ negara lain yang mengetrapkan cara-cara yang kurang lebih serupa dengan yang kami kerjakan.

Seperti telah saya singgung tadi tatkala gerakan pembangunan pertanian ini kami lancarkan satu setengah dasawarsa yang lalu, petani kami umumnya sangat miskin, dengan pengetahuan yang rendah dan dengan lahan yang sangat kecil. Mereka tidak mampu membeli bibit unggul, membeli pupuk dan membeli obat hama. Cara bertani mereka yang tradisional, ditambah dengan kemiskinan mereka, mengakibatkan cara mereka bertanam sama sekali tidak memberi peluang bagi peningkatan produktivitas.

Karena itu kami memutuskan suatu kebijaksanaan nasional yang menyeluruh dan terkendali, dengan tetap membuka inisiatif dan tanggung jawab petani sendiri. Kami membentuk lembaga-lembaga untuk menggerakkan pembangunan pertanian mulai tingkat pemerintah nasional, pemerintah daerah sampai kepada kelompok-kelompok petani sendiri. Keputusan politik untuk mencurahkan perhatian pada pembangunan pertanian tercermin dengan jelas dalam penyediaan anggaran pembangunan negara di sektor pertanian dan irigasi, yang selama bertahun-tahun selalu mendapatkan anggaran yang terbesar.

Kami bangun industri pupuk dan jaringan distribusinya, sehingga pupuk benar-benar sampai ke sawah petani. Pemerintah membantu petani dengan modal kerja berupa kredit yang sangat murah, ditambah lagi dengan subsidi harga sarana produksi.

Lembaga-lembaga penelitian kami, sebagian dengan bekerjasama dengan badan­badan internasional dan ahli-ahli asing lainnya, untuk mencari bibit unggul yang baru. Di lapangan bergerak penyuluh-penyuluh pertanian lapangan yang memberi petunjuk cara-cara bertanam yang baikkepada petani.

Menurutnya, bahwa petani perlu melihat bukti-bukti yang nyata, dari pada hanya mendengar uraian dan anjuran-anjuran, maka kami bangun di mana-mana petak-petak percontohan. Agar peningkatan produksi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani, maka kami tentukan harga dasar penjualan padi yang dari waktu ke waktu selalu diperlukan penyesuaian-penyesuaian, agar dapat dicapai tingkat harga, yang di satu pihak mengusung petani untuk meningkatkan produksi dan di lain pihak harga pada tingkat konsumen tetapi terjangkau oleh masyarakat luas, sekaligus dalam rangka pengendalian stabilitas ekonomi.

PERHATIAN yang khusus kami berikan pada pembangunan kelembagaan di tingkat desa. Untuk itu kami bentuk apa yang kami namakan Unit Desa, ialah pengelompokan beberapa desa menjadi satu wilayah yang secara ekonomis dapat menjadikan dirinya sebagai unit ekonomi dalam mendukung program nasional peningkatan produksi pangan.

Dalam unit desa itu kami bentuk Koperasi Unit Desa yang petani menjadi anggotanya. Pada tahap permulaan, koperasi ini mempunyai fungsi untuk menyalurkan sarana produksi dan secara bersama-sama menangani pemasaran hasil pertanian. Dalam jangka panjang, secara bertahap sesuai dengan kemajuan dan kemampuannya, koperasi-koperasi ini kami harapkan dapat menjadi koperasi yang menangani segala kebutuhan ekonomi dana.

Kebijaksanaan dan langkah peningkatan produksi pangan karni kembangkan dalam suatu gerakan yang kami namakan Bimas atau Bimbingan Massal. Dalam pelaksanaan operasionalnya Bimas ini selalu kami uji dalam praktek dan secara terus menerus kami sempumakan.

Seperti tadi saya kemukakan disamping usaha-usaha intensifikasi, kami juga melaksanakan dalam batas-batas tertentu ekstensifikasi tanaman padi, terutama dengan penanaman padi tanah-tanah kering dan persawahan pasang surut, yang sekaligus kami kaitkan dengan program transmigrasi. Untuk para transmigrasi ini yang dipindahkan dari daerah-daerah yang amat padat penduduknya seperti Jawa dan Bali ke daerah-daerah disediakan tanah seluas 2 hektar untuk setiap kepala keluarga untuk usaha-usaha pertanian.

Hambatan demi hambatan telah kami lalui dengan penuh ketabahan, koreksi demi koreksi kami lakukan, sebelum kami tiba pada sistem pertanian yang mulai terasa mantap dewasa ini. Dalam kesempatan ini,saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada FAO dan para ahlinya, yang terutama pada tahap awal program intensifikasi massal dan bimbingan massal ini menyertai kami dengan pandangan­pandangan dan nasehat-nasehat yang berharga.

Demikianlah, bermula dari aset usaha peningkatan produksi pangan yang belum begitu berani pada awal pelaksanaan Repelita I di tahun 1969 maka pada akhir pelaksanaan Repelita III di tahun 1984 aset itu telah tumbuh makin kukuh.

Sebelum Repelita dilaksanakan, rendahnya produktivitas dan produksi padi secara nasional antara lain disebabkan oleh irigasi yang terbatas dan banyak yang terbengkalai. Karena itulah untuk memungkinkan penanaman padi dua kali dalam setahun sawah-sawah beririgasi terus diperluas. Jika pada awal Repelita dahulu areal sawah beririgasi seluas 3,6 juta hektar, maka pada akhir Repelita III telah mencapai 4,9 juta hektar lebih, suatu peningkatan sebesar 1,3 juta hektat dalam 15 tahun.

Area sawah beririgasi ini sebagian besar dapat ditanami sampai dua kali dalam setahun. Dengan area padi tanah kering, dan dengan memperhitungkan intensitas tanaman dalam satu tahunnya, maka luas panen padi seluruhnya meningkat dari 8 juta hektar di tahun 1969 menjadi 9,6 juta hektar di tahun 1984.

Pemakaian pupuk juga meningkat secara luar biasa. Jika pada tahun 1969 petani kami baru menggunakan 357 ton pupuk, maka pada tahun 1984 pemakaian mereka meningkat menjadi 4,1 juta ton. Seperti tadi saya katakan, industri pertanian dengan sadar kami kembangkan untuk mendukung pembangunan pertanian. Karena itujika pada tahun 1969 produksi pupuk kami baru mencapai kurang dari 100 ribu ton, maka 15 tahun kemudian angka itu meningkat menjadi lebih dari 4 juta ton atau naik 40 kali lipat.Disamping memenuhi kebutuhan pembangunan pertanian, pembangunan industri pupuk itu,menghemat devisa yang tidak kecil. Sementara itu pemakaian pestisida juga meningkat dari 1,2 ribu ton, di tahun 1969 menjadi 14 ribu ton di tahun 1984.

Dan jika pada tahun 1969 luas panen intensifikasi padi baru meliputi 2,1 juta hektar, maka dalam tahun 1984 mencapai hampir 7,7 juta hektar. Hasil rata-rata seluruh tanaman padi juga naik dari 1,5 ton beras setiap hektar di tahun 1969 hampir 2,7 ton beras di tahun 1984.

Dari yang sama sekali tiada sebelumnya, maka pada tahun 1984 jumlah Penyuluh Pertanian Lapangan sebanyak harnpir 19 ribu orang, jumlah kelompok tani mencapai 211.000, jumlah Bank Unit Desa mencapai lebih dari 3.600 buah, jumlah Koperasi Unit Desa mencapai lebih dari 6.400 buah .

Demikianlah, jika dalam tahun 1969 produksi beras kami hanya mencapai 12,2 juta ton maka dalam tahun 1984 yang lalu telah mencapai lebih dari 25,8 juta ton.

Tampilnya Pemimpin Bangsa kita di forum yang sangat berprestise itu dan menjelaskan arti dan hasil pembangunan di Indonesia, di satu pihak memberikan kebanggaan tersendiri kepada seluruh bangsanya, di pihak lain mengundang penghargaan yang luar biasa. FAO sendiri memberikan penghargaan kepada Pak Harto dengan membuat medali-medali yang bertata-gambar sketsa Presiden Soeharto dari samping yang dibuat dari emas, perak, dan perunggu. Dalam bentuk plaket dengan motif gambar yang sarna diserahkan oleh Direktur Jenderal FAO langsung kepada Pak Harto di Jakarta pada 16 Oktober (Bersambung)

 

 

Sumber : PELITA (08/04/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 126-129.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: