Mar 312017
 

PELAKSANAAN PROYEK TRANSMIGRASI AKAN DIPERCEPAT

Koordinasi penanganannya agar disempurnakan lagi

Di daerah transmigrasi pedalaman yang akan jadi konsentrasi penduduk akan dibangun lapangan terbang

Presiden Soeharto menginstruksikan agar koordinasi penanganan proyek transmigrasi disempurnakan lagi sehingga dapat mempercepat usaha pemindahan dari tempat asalnya ke tempat mereka yang baru.

Presiden Sabtu siang lalu telah memberikan pengarahan kepada para anggota kabinet yang berkaitan dengan pelaksanaan proyek transmigrasi bertempat di Istana Merdeka.

Para anggota kabinet yang hadir di Merdeka Sabtu lalu ialah Menko Ekuin Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro, Men PAN Wakil Ketua Bappenas JB Sumarlin, Menteri Pertanian Sudarsono, Menteri PU Purnomosidi, Menteri Perindustrian AR. Suhud, Menteri Tenaga Kerja dan Trasmigrasi Harun Zain, Mensesneng Sudharmono, Menmud Transmigrasi Martono, Jaksa Agung Ali Said SH, Dirjen Transmigrasi Kadarusno dan Dirjen Agraria Daryono SH.

Selesai diterima Presiden, kepada pers Menteri Harun Zain menerangkan bahwa setelah meninjau proyek-proyek transmigrasi di daerah Sumatera baru-baru ini. Presiden memberikan pengarahan sekitar usaha mempercepat pelaksanaan proyek transmigrasi di lapangan, khususnya dalam hal komunikasi di lapangan.

Pendekatan koordinasi yang selama ini kita laksanakan, kita tinggalkan dan kita akan melaksanakan koordinasi di lapangan yang lebih cepat, kata Harun Zain. Ditambahkan, nantinya pembukaan tanah yang telah cukup bagi 100 KK calon transmigran, agar instansinya langsung mulai menanganinya, misalnya pengukuran kapling oleh Ditjen Agraria dan Ditjen Transmigrasi.

Instansi-instansi lain yang erat hubungannya dengan proyek transmigrasi juga diinstruksikan untuk segera teijun bila dilihat pembukaan tanah telah selesai. Dalam hal ini, faktor kecepatan waktu diminta untuk diperhatikan.

Multi Years Contract

Mengenai pembukaan tanah untuk calon transmigran yang berupa alang-alang yang umumnya lebih mudah daripada daerah hutan, agar dipercepat. Jangan tunggu tahun depan”, kata Harun.

Pemborong yang selesai tugasnya, dimungkinkan untuk melanjutkan pembukaan tanah baru. Dikatakan Harun Zain, pemborong yang ternyata telah bekerja dengan baik, dimungkinkan untuk mengadakan multiyears contract dengan diberikan SKP (Satuan Kawasan Pemukiman) tambahan perumahan bagi para calon transmigran.

Bagi daerah transmigran di pedalaman yang diperkirakan akan terjadi konsentrasi penduduk yang padat. Presiden menginstruksikan kepada Menteri P.U untuk segera membangun lapangan terbang untuk pendaratan Hercules.

Kawasan transmigrasi yang berbukit-bukti Presiden cenderung untuk menanam nya dengan tanaman-tanaman keras untuk ekspor. Dalam hubungan ini, Presiden menunjuk proyek pertanian NES (Nucleus Estate Small Bolders) yang baru baru ini ditinjau Presiden di Sumatra.

Ditanya sekitar keterlambatan pemindahan calon transmigran, Harun Zain tidak banyak memberi keterangan. Tetapi dijelaskan, dengan telah siapnya peralatan besar di daerah pedalaman sekarang ini, program-program transmigrasi pada masa mendatang akan lebih baik lagi.

Ditegaskan lagi olehnya, bahwa pendekatan koordinasi antar instansi sekarang ini tidak saling menunggu.

"Mana yang bisa dikerjakan, keijakan dulu", kata Harun Zain. "Itu berlaku untuk semua instansi" tambahnya.

Menyinggung proyek transmigrasi di Pulau Buru, dijelaskan bahwa di sana telah tersedia 1.400 hektar sawah dan 1.200 hektar ladang. Akhir Nopember mendatang, akan diberangkatkan lagi transmigran ke pulau itu.

Tentang jumlah transmigran yang telah dipindahkan, sejak Januari 1979 sampai sekarang telah mencapai 10.000 KK. Dia tidak memperinci berapa yang merupakan sisa tahun ke V Repelita II dan berapa yang masuk tahun I Repelita III.

Harun Zain Sabtu lalu menerangkan hal itu di Pendapa Wartawan di Istana Merdeka. (DTS)

Jakarta, Berita Buana

Sumber: BERITA BUANA (22/10/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 514-515.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: