Okt 312016
 

Kotamobagu, 4 Juni 1998

Kepada

Yth. Bapak H.M.Soeharto

di Jakarta Pusat

PANGGUNG SANDIWARA [1]

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat Ulang Tahun yang ke – 77.

Melalui surat ini, saya dan yang lainnya mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Bapak. Semoga Bapak tabah dalam menghadapi segala cobaan.

Saya kagum kepada bapak yang menerima cobaan ini dengan besar hati. Masih banyak orang yang mengagumi Bapak. Yach kita kembalikan saja semua itu kepada Allah. Semua yang kita punya adalah milik Allah. Baik itu berupa kedudukan maupun harta. Apalagi kita manusia biasa. Nabi saja banyak musuhnya dan itu adalah cobaan. Hanya semoga Bapak sekeluarga tabah menjalani.

Sekarang Bapak sudah hidup tenang. Biarlah anjing menggonggong kafilah berlalu. Biarlah mereka yang suka usil terhadap keluarga Bapak lelah dengan sendirinya. Marilah hidup bermasyarakat seperti kami, banyak beramal terhadap orang yang nggak mampu, mengusap anak yatim, mendekatkan diri kepada Allah, serta membimbing keluarga seperti yang Bapak katakan melalui layar TV.

Bapak, kami merindukan kata-katamu yang berwibawa serta wajahmu yang begitu tenang dalam menghadapi persoalan.

Memang dunia ini panggung sandiwara, dan suatu saat kita akan meninggalkan dunia yang fana ini.

Di zaman sekarang ini, banyak orang yang suka bermuka dua.

Bapak walaupun kau ditelan bumi, kami akan selalu ingat jasamu. Dan banyak yang masih bersimpati kepada Bapak. Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak yang telah memimpin bangsa ini selama 32 tahun.

Marilah kita mendekatkan diri kepada Allah SWT. Serahkan semua ini kepada Allah dengan berpatokan bahwa kita milik Allah dan suatu saat kita akan kembali kepada-Nya.

Amin….. (DTS)

Pengagummu,

Endang S. Soeparto

Kotamabagu – Sulawesi Utara

[1]       Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 84-85. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: