Mar 142018
 

PANDANGAN TOKOH NEGARA SAHABAT TENTANG SOEHARTO

 

 

Jakarta, Pelita

“SOEHARTO itu, seorang yang berpandangan jauh, yang ingin memperbaiki nasib rakyat. Apabila Presiden Soeharto mendapat dukungan dari kawan-kawannya serta rakyat Indonesia, kiranya dia akan berjaya dalam tugasnya memperbaiki nasib rakyat,” kata Tengku Abdul Rahman, mantan Perdana Menteri Malaysia.

Penilaian itu dikemukakan oleh Tengku Abdul Rahman kepada wartawan Australia dan Selandia Baru, semasa ia masih menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia, 28 Maret 1968, yang dikutip kantor berita Antara dan Reuters di Kuala Lumpur. “Saya pikir adalah demi kepentingan kami untuk menyokong pemerintahan Soeharto, karena sikapnya yang bersahabat terhadap Barat dan demokrasi,” katanya.

Tengku Abdul Rahman, kala itu juga berpendapat, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, Indonesia akan dapat memainkan peranan yang paling berguna di Asia Tenggara. Dania menyokongnya, karena melihat potensi Indonesia.

Apa yang dikemukakan Tengku Abdul Rahman, seperti dikutip oleh Bachtiar Djamily dalam bukunya sekitar 22 tahun yang lalu itu, kini memang telah terwujud. Pelan tapi pasti, konsep pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, setapak demi setapak belum mampu memperbaiki nasib dan kehidupan rakyat Indonesia. Hasil pembangunan dan kemajuan dapat dilihat dan dirasakan di mana-mana, kata Datuk Mohammed Rahmat, mantan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia yang kini menjadi Menteri Penerangan di negerinya.

“Perbedaan yang saya lihat dengan membuat perbandingan kemajuan Indonesia dengan keadaan sewaktu saya menjadi pelajar di sini (Indonesia-Red) dahulu adalah amat nyata sekali. Di sinilah letak kewibawaan dan tanggungjawab yang tinggi dari Presiden Soeharto untuk membawa Indonesia dan rakyatnya ke zaman pembangunan dan kejayaan, kemajuan yang lebih gilang gemilang lagi,” kata Datuk Rahmat, seperti dikutip Tjahyadi Nugroho dalam buku “Soeharto Bapak Pembangunan” ini kala ia masih Duta Besar Malaysia di Jakarta tahun 1984.

Tidak berlebihan memang penilaian tersebut. Sebab kenyataan sulit untuk dipungkiri tentang keberhasilan pembangunan di Indonesia kini. Bukan hanya di kawasan Asia Tenggara, keberhasilan pembangunan Indonesia yang dipimpin Presiden Soeharto juga diakui oleh dunia.

Salah satu bukti konkret pengakuan itu adalah pemberian piagam penghargaan PBB bidang kependudukan kepada Presiden Soeharto, 8 Juni tahun lalu. Pemberian penghargaan itu, karena “Presiden Soeharto dengan kepemimpinannya berhasil secara dramatis menurunkan tingkat kelahiran, kesuburan, dan kematian bayi,” kata Mario Moya Palencia, Ketua Komite Hadiah PBB itu.

Dan “Kepemimpinan Soeharto dalam mendukung program kependudukan sangat luar biasa kokoh dan lantang. Ia mau pergi kemana saja dan berbicara kepada siapa saja untuk menyampaikan program kependudukan,” ucap Nafi Sidik, Direktur Eksekutif Dana Kependudukan PBB (UNFPA).

Bukti-bukti nyata keberhasilan pembangunan, yang ternyata juga telah diakui oleh dunia itu, tentu memperkuat keabsahan pilihan rakyat yang menetapkan Presiden Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Indonesia, melalui Sidang Umum MPR tahun 1983.

Meski begitu, Presiden Soeharto tetap merupakan seorang yang arif dan sederhana. Ia tetap merasa bagian dari rakyat Indonesia. Karena “saya ini anak petani,” katanya.

Tetapi tekadnya membangun untuk memperbaiki nasib dan kesejahteraan rakyat, sungguh tertanam dalam jiwa sebagai patriot bangsa. Dan semangat jiwanya itu secara tak langsung tercermin dalam pidatonya tahun 1984. Hanya dengan membangun dan terus membangun, kita akan dapat meraih cita-cita nasional kita. Dengan kecintaan yang meluap, dengan sekuat tenaga memelihara dan menjaga keutuhan tanah air dan kita akan bersama-sama memperkuat bangsa dan negara. Membangun dan terus membangun, hingga tercapainya masyarakat adil dan makmur, material dan spiritual berdasarkan

Pancasila. Dengan tekad membaja untuk terus membangun, dengan penuh harapan dan kepercayaan mengenai hari esok yang bahagia. Dengan tradisi sebagai bangsa pejuang yang telah keluar dengan selamat dari ujian-ujian berat di masa silam, pembangunan di masa datangjuga akan kita kerjakan dengan semangat perjuangan yang menyala-nyala.

 

 

Sumber : PELITA (08/06/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 483-486.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: