Pancasila- Sosialistis Religius

Pancasila- Sosialistis Religius [1]

 

Kita paham bahwa sistem kapitalisme dititikberatkan pada hal-hal individu, persaingan bebas. Siapa yang kuat dialah yang hidup dalam persaingan, ia mematikan usaha orang lain. Sedangkan, sosialisme jelas bertitik tolak dari yang lain. Memang dalam ajaran yang kedua ini kepentingan individu diabaikan akan tetapi kepentingan bersama diutamakan.

Bagi kita, bangsa Indonesia, seperti pernah saya katakan, sistem­sistem tersebut tidak sesuai dengan sifat kodrat hidup manusia. Sifat kodrat manusia yang universal, sebetulnya di miliki juga oleh semua bangsa di mana pun, apakah di Eropa, Asia, Amerika, atau di Rusia.

Sebetulnya semua manusia mempunyai sifat-sifat yang sama, sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yakni dua sifat yang melekat, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Karena itulah, sebenarnya, kedua sifat itu tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Justru kalau kita mendalami hidup kita, sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial, saya sampai pada pikiran bahwa sebagian besar hidup kita itu sebetulnya bergantung pada orang lain.

Jadi, hidup kebersamaan itulah yang sebenarnya yang lebih menentukan walaupun sifat individunya jangan sampai ditiadakan. Ini semua hanya akan bisa disadari kalau kita selalu kembali kepada keyakinan bahwa kita ini ciptaan Tuhan. Harus kita yakini bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan, kedua sifat kodrati itu.

Kalau demikian halnya, maka sifat religius kita, sifat ketuhanan kita itu harus kita pegang teguh. Karena itulah kita harus berusaha untuk selalu berpegang pada religiusnya. Berarti harus berpegang pada iman, percaya kepada Tuhan, dan bahwa Tuhan itu menciptakan manusia dengan dua sifat.

Karena itu, Pancasila itu lebih bisa kita sebut sebagai ajaran yang memberat kepada sosialisme. Karena itulah, Pancasila adalah sosialistis religius. Jadi, Pancasila itu mementingkan kebersamaan dan individu, dengan percaya kepada adanya Tuhan. Pancasila punya sifat sosialistis religius.

Pada waktu Bung Karno menjelaskan mengenai Revolusi Indonesia, Pancasila dan sebagainya, saya mengajukan pertanyaan kepada Bung Karno,

“Masyarakat Pancasila itu masyarakat yang bagaimana? Masyarakat yang sosialistis, masyarakat yang religius, atau masyarakat yang kapitalistis, liberalistis? Bagaimana?”

Bung Karno menjawab:

“Bukan. Tetapi masyarakat yang sosialistis religius. Masyarakat Pancasila adalah masyarakat yang sosialistis religius.”

Sosialistis saja belum tentu percaya kepada Tuhan; komunis tidak percaya kepada Tuhan. Sebaliknya, yang religius, ada juga yang menganut kapitalisme saja, kurang mementingkan sosialismenya.

Ada yang mengatakan, masyarakat Pancasila itu adalah masyarakat religius sosialistis. Saya katakan, tidak! Saya katakan, masyarakat yang sosialistis religius. Karena apa? Karena religius itu sebetulnya sudah mengandung sosialisme. Ajaran agama juga soal kebersamaan. Tetapi sosialisme belum tentu percaya kepada Tuhan.

Pancasila menetapkan dua sifat, individu dan makhluk sosial yang tidak dapat dipisahkan. Mono dualistis sifatnya; tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya. Selalu ada segi keseimbangannya. Selalu ada keserasian antara kebersamaan dan individu, dan jiwa serta semangat sosialistis religius itu bisa dikendalikan. Pandangan ini harus terdapat di mana-mana, di semua kehidupan di Indonesia, kalau konsekuen kita mengakui bahwa Tuhan menciptakan manusia.

 

***

[1] Penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta tahun 1989, hlm 382-383.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.