Agu 142018
 

PAK HARTO DISAMBUT ISTIMEWA DI TUNIS  [1]

 

Tunis, Media Indonesia

PRESIDEN SOEHARTO dan rombongan kemarin. Ia tiba di Tunisia, tepat pukul 10.15 waktu setempat (16.15 WIB) dengan penghormatan kenegaraan penuh dan disambut istimewa. Disambut bentangan permadani  merah Presiden Ben Ali dan Nyonya menyambut Kepala Negara dan lbu Tien Soeharto tepat di bawah tangga pesawat ke Presidenan DC-I0 Ganida Indonesia. Kemudian Kepala Negara dan Presiden Ben Ali menuju mimbar kehormatan diiringi dentuman meriam 21 kali lalu dilanjutkan lagu kebangsaan kedua negara serta pemeriksaan barisan. Wartawan Media Retno Indarti Darmojo yang ikut dalam rombongan Kepala Negara melaporkan kunjungan Presiden Soeharto ke Tunis mendapat sambutan sangat istimewa. Sejak memasuki wilayah udara Tunisia, empat pesawat tempur F-5, dua di kanan dan dua di kiri mengawal pesawat ke Presidenan DC-10 hingga mendarat di Bandar Udara Tunis. Sedangkan di bandar udara sejumlah masyarakat Tunis baik tua maupun muda berjejalan dijalan dengan melambaikan bendera kedua negara serta membawa foto-foto Presiden Soeharto dan Presiden Ben Ali.

Sebelum memasuki kendaraan yang membawa ke istana Esada La Masada, Kepala Negara mendekati kerumunan massa dan dengan ramah bersalaman dengan para penyambut tersebut. Saat menuju Istana Esada La Masada dengan penuh semangat di sepanjang jalan orangtua maupun anak-anak melambaikan tangan, sedangkan setiap sudut jalan terpasang spanduk berbahasa Indonesia “Selamat Datang Presiden/Ketua Gerakan Non Blok Soeharto”. Foto-foto Presiden Soeharto berdampingan dengan Presiden Ben Ali terpasang di setiap sudut jalan.

Setibanya di Tunis, Presiden Soeharto langsung mengadakan pembicaraan empat mata dengan Presiden Ben Ali di Istana Carthage. Selanjutnya kepala negara berziarah ke taman makam pahlawan Sejoumi, kemudian bertemu ketua parlemen Tunisia. Sementara itu, pada Minggu malam Presiden Soeharto menerima Presiden Malta Censutabone di San Anton Palace, tempat kepala negara menginap selama semalam di Malta. Pada kesempatan itu Presiden selaku ketua GNB menegaskan sesungguhnya sudah pantas bagi GNB menentukan keputusan-keputusan di PBB. Sebab, kata Presiden, jumlah anggota GNB merupakan mayoritas di PBB. Untuk itu Kepala Negara sebagai ketua GNB akan berjuang mewujudkan keinginan itu. Sedangkan dalam pidato balasan pada jamuan malam kenegaraan di Istana Carthage, Tunis, Presiden Soeharto mengatakan gejala proteksionisme, jatuhnya harga komoditi yang berasal dari negara-negara yang sedang membangun dan beban utang negara dunia ketiga, masih tetap menjadi masalah dunia yang berat dan perlu diatasi bersama oleh semua negara.

Sumber: MEDIA INDONESIA ( 18/11/1993)

__________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 301-302.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: