Feb 202017
 

Mengadu Kepada Presiden:

PAGI MAKAN, SORE TIDAK, TRANSMIGRAN DI RASAU JAYA MENGELUH

Presiden Soeharto dalam salah satu kesempatan kunjungannya di Kalimantan Barat, telah menampung langsung keluhan-keluhan yang disampaikan para transmigran melalui wakil wakilnya hari ini di Rasau Jaya.

Keluhan-keluhan itu umumnya mengenai kegagalan yang mereka rasakan selama berada didaerah transmigran tersebut dan penderitaan mereka.

Presiden Soeharto didalam menanggapi keluhan itu mengatakan janganlah kita lekas putus asa menghadapi suatu kegagalan.

Namun kepada Sekdalopbang Solichin yang mendampinginya, dia memerintahkan untuk segera memperbaiki kondisi tanah yang ada didaerah transmigran itu.

Menteri Nakertrans Harun Zain mengatakan peristiwa itu akibat dari persiapan-persiapan yang kurang matang dalam meneliti tanah.

Dia mengatakan orang-orang yang dipindahkan cara bertaninya lain dibanding dengan tempat mereka tinggal sekarang.

Harun Zain mengatakan, menyelidiki tanah adalah inti utama untuk mengerjakan pertanian. Dia menilai keluhan-keluhan yang disampaikan transmigran, ada baiknya, karena dengan demikian diketahui kekurangan-kekurangan yang dihadapi.

Menteri Pertanian Soedarsono mengatakan akibat pembukaan yang tergesa gesa menyebabkan kegagalan itu terjadi.

Dia mengatakan tanah yang mempunyai gambut tebal tidak baik digunakan untuk pertanian. Menteri mengatakan tanah gambut yang baik untuk pertanian jika tebalnya kurang dari dua meter.

Presiden Soeharto minta kepada petani-petani transmigran untuk secara gigih menghadapi tantangan.

"Jadilah pelopor-pelopor pembangunan," kata Presiden. Kepala Negara menekankan pemerintah tidak ingin memindahkan kemelaratan.

Presiden Soeharto mengatakan lakukan pertanian yang terpadu, dan carilah tanaman yang cocok untuk tanah-tanah yang ditempati sekarang.

"Bekerjalah dengan ulet," seperti yang dilakukan oleh nenek moyang kita di zaman Majapahit, sehingga melahirkan petani-petani seperti yang kita alami sekarang di Jawa.

Presiden minta para transmigran agar melakukan pertanian campuran sehingga dapat menghasilkan dengan baik.

Kata Presiden lagi, cobalah pengalaman-pengalaman yang diperoleh di Jawa dibanding dengan daerah yang banyak airnya disini, tumbuhan atau temak apa yang baik untuk dikembangkan.

Apakah itu peternakan itik dan sebagainya, kata Presiden, ini semuanya sangat bermanfaat.

Sifat-sifat petani adalah sabar, ulet dan rajin, kata Presiden, yang menambahkan

dengan peribahasa Jawa, "rajin adalah pangkal kemuliaan dan kebahagiaan." Dengan keuletan, kesabaran dan kerajinan kita dapat mencapai "gemah rimah lohjinawi" (subur dan makmur).

Wakil-wakil transmigran yang menyampaikan keluhan itu ialah Wakino dari Jogjakarta, Bone I wisara dari DKI Jaya, Sudjadi dari Magelang, Ekobudi Purnomo dari Klaten (Jateng) dan Sudradjad dari Jawa Barat.

Wakino dari Jogjakarta mengatakan dia yang sudah empat tahun menempati daerah transmigran itu belum memperoleh hasil yang sepadan dari tenaga yang dikeluarkannya untuk mengelola tanah gambut.

Pohon kelapa yang berada di sekitar itu selama bertahun tahun belum mempunyai buah yang baik, begitu juga padi dan palawija.

Bone I wisara yang berasal dari DKI Jaya terus terang mengatakan dia merasa asing ditempat yang baru itu, sebab ternyata jauh berbeda dengan apa yang dibayangkannya.

Dia mengatakan tanah gambut sukar dikerjakan dengan tenaga manusia Menurut pengalamannya tanaman yang cocok untuk tanah gambut adalah nanas, sedangkan padi dan palawija sukar tumbuh dengan baik.

Ekobudi Purnomo mengatakan konelisi tanah yang dijumpainya, benar-benar di luar dugaannya. Apa yang dihasilkannya sekarang belum cukup untuk dimakan dan kalau ada tanaman yang lebih sulit untuk dipasarkan. (DTS)

Rasau Jaya, Kalbar, Merdeka

Sumber: MERDEKA (25/10/1978)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 803-804.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: