Agu 102018
 

MUTU KEANGGOTAAN GOLKAR PERLU DITINGKATKAN[1]

Jakarta, Antara

Ketua Dewan Pembina Golkar Soeharto mengatakan, keanggotaan Golkar yang bersifat perorangan dengan stelsel aktif yang berbasis kesukarelaan perlu ditingkatkan.

Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Koordinator Presidium Harian Dewan Pembina Golkar BJ Habibie pada Munas Golkar, di Jakarta, Kamis, Soeharto mengatakan, seiring dengan aplikasi sifat kesukarelaan itu, pembentukan kader Golkar juga harus menjangkau seluas mungkin kalangan. Golkar hendaknya mengembangkan pola kelja yang sistematis dan konsepsionalagar orsospol ini tidak hanya besar dari segi pendukungnya, namun juga besar dari segi kualitas kelja dan karyanya, ujarnya.

“Demi tercapainya tujuan itu, perlu pula dikembangkan terus sifat kepemimpinan yang kolektif, parti sipatif, komunikatif, akomodatif dan demokratis,”ujar Presiden Soeharto dalam menyoroti konsolidasi organisasi.

Sementara itu, di bidang konsolidasi wawasan, ia mengatakan  ada dua kecenderungan yang sedang melanda dunia. Pertama, proses globalisasi yang ditandai dengan kecenderungan penyeragaman tata nilai, pola pikir, pola kerja, dan pola produksi.

“Apabila kita kurang arif memilah dan memilih apa yang sesuai dan apa yang tidak dengan tata nilai, pola pikir dan jati diri bangsa kita dalam rangka mengejar kemajuan bangsa-bangsa lain, maka kita tidak hanya kehilangan identitas, tetapi juga kehilangan kemandirian dan eksistensi sebagai bangsa,”katanya.

Tak Ingin Lagi

Kecenderungan kedua adalah, primordialisme dan paham kebangsaan yang sempit yang kini telah melanda kawasan dan negara tertentu.

“Kita saksikan bagaimana kecenderungan semacam ini telah mampu memecah­ belah suatu bangsa dan negara, sehingga bangsa dan negara yang bersangkutan lenyap dari peta politik dunia. Kita telah mempunyai pengalaman yang cukup dalam hal ini, dan kita tidak mgin mengalarninya lagi,”ujar Ketua Dewan Pembina Golkar itu.

Dalam memantapkan wawasan kebangsaan itu, katanya, Golkar dan kader­ kademya senantiasa memupuk: dan mengembankgan rasa kesetiakawanan sosial kepada rakyat yang hidup di bawah garis kerniskikan, yang sedang ditimpa musibah maupun yang lainnya yang masih kurang beruntung. (DN04/DN05/ 15:22)

Sumber:ANTARA(21/10/1993)

___________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 263-264.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: