Jul 262014
 

Menegakkan Negara Hukum Pancasila[1]

Drs. Moch Sanoesi [2]

 

Perkenalan saya secara pribadi dengan Presiden Soeharto berawal sejak pengangkatan saya sebagai Kapolri. Perkenalan itu berlanjut kedalam suasana formal pada berbagai acara kenegaraan yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun. Melalui berbagai acara resmi tersebut ditambah lagi dengan memperhatikan berbagai kebijaksanaan Bapak Presiden yang disampaikan melalui Pangab, saya memperoleh kesan bahwa dari pribadi beliau terpancar suatu sosok kepemimpinan yang benar-benar berorientasi ke bawah. Dalam arti bahwa beliau lebih mengutamakan peningkatan taraf hidup rakyat kebanyakan yang berpenghasilan rendah. Dan hal ini telah beliau tunjukkan semenjak awal Orde Baru di tahun 1966 yang lalu.

Saya kira kesan seperti ini dimiliki pula oleh kebanyakan rakyat Indonesia, karena kita semua mengetahui dan merasakan betapa di sepanjang masa kepemimpinan beliau, yang hampir seperempat abad ini, pembangunan nasional telah dapat mengangkat taraf hidup rakyat dari dasar jurang kemiskinan. Bahkan pada saat ini kita sudah bersiap-siap untuk memasuki tahap tinggal landas. Selama dalam kurun waktu tersebut kita menyaksikan betapa banyak kebijakan beliau yang berorientasi “ke bawah”, seperti Banpres, Kredit Candak Kulak, Kredit Modal Kerja Permanen, Keluarga Berencana, dan sejenisnya.

Dengan sendirinya kesan saya yang seperti ini, tentunya, berkaitan erat dengan profesi kepolisian yang saya pimpin pada periode sekarang ini. Dari segi profesi kepolisian, masalah-masalah gangguan kamtibmas, terutama yang senantiasa menunjukkan jumlah kriminalitas terbanyak adalah tindak pidana, berkaitan erat dengan tingkat kesejahteraan rakyat tersebut. Karena itu penataan-penataan di bidang kesejahteraan masyarakat, yang terasa semakin serasi dan mapan selama dalam pembangunan nasional seperti pada dewasa ini, terasa sekali pengaruhnya terhadap derajat rasa tenteram masyarakat secara luas. Hal ini dapat dirasakan terutama sekali selama masa jabatan saya dimana banyak perhatian beliau yang sebagian diantaranya menyangkut kejahatan yang berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat seperti antara lain penyelundupan.

Dalam kesempatan ini sengaja kasus penyelundupan saya angkat ke permukaan. Hal ini karena saya mempunyai kesan mendalam dimana pada saat itu saya dipanggil ke istana begitu operasi pemberantasan penyelundupan selesai dilakukan. Saya sadar, tentu beliau tidak hanya tertarik kepada hasil-hasil penangkapan dan barang buktinya semata-mata. Perhatian beliau justru bertolak dari kenyataan betapa luas dampak yang diakibatkan oleh penyeludupan ini, terutama bagi kesejahteraan masyarakat.

Perhatian kepada rakyat kebanyakan ini pun nampaknya tercemin pula dalam sikap perhatian beliau yang demikian besar kepada para prajurit ABRI di lapangan. Hal ini terutama kepada anggota-anggota Polri yang gugur dalam menjalankan tugasnya memerangi penjahat-penjahat keras. Seperti yang diperlihatkan dalam perhatian beliau kepada keluarga Letnan (Polisi) Soewito yang gugur dalam tembak-menembak dengan perampok bersenjata di sebuah bank di Jakarta. Dalam kedudukan beliau sebagai kepala negara, perhatian seperti ini sungguh sangat mengesankan bagi petugas-petugas polisi di lapangan. Bahkan sikap kearifan beliau seperti ini merupakan dorongan semangat yang kuat bagi para prajurit Polri untuk mengabdi bagi kepentingan masyarakat secara lebih optimal.

Semua ini tentunya tidak berarti bahwa kebijaksanaan beliau di tingkat makro seperti di bidang ideologi, politik dalam dan luar negeri, maupun perjuangan menata struktur ekonomi dunia baru dan sejenisnya tidak memberikan kesan mendalam kepada diri saya. Justru saya melihat bahwa kebijakan beliau di tingkat makro ini pun sebagian besar diarahkan untuk dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat luas.

Dengan sendirinya dalam kemapanan beliau sebagai seorang negarawan tentunya banyak pula dihadapkan kepada perbedaan-perbedaan pendapat, yang selalu beliau terima dengan penuh kearifan dan ketegaran. Hal ini sungguh merupakan suatu hal yang sangat mengesankan, mengingat betapa luasnya lautan kepentingan yang harus diintegrasikan ke dalam sistem kenegaraan. Ini tetap akan membawakan nuansa-nuansa yang tak kunjung berhenti. Dalam rangka inilah ketegaran beliau untuk memimpin perjuangan Orde Baru telah mampu menyelamatkan bangsa. Bahkan di saat-saat yang kritis dan dalam keadaan tidak menentu sekalipun, beliau tetap dalam keadaan tegar. Namun ketegaran yang beliau tampilkan sama sekali tidak menunjukkan kekerasan, sebagaimana lazimnya citra suatu sosok kepemimpinan yang kuat. Karena penampilan pribadi beliau yang selalu tersenyum, senantiasa meyakinkan kepada rakyat pahwa setiap tindakan yang diambil adalah demi keselamatan seluruh tumpah darah dan keutuhan bangsa.

Kita semua telah menyaksikan betapa beliau sejak awal Orde Baru bekerja keras untuk meluruskan semua bentuk penyimpangan terhadap konstitusi. Begitu pun selanjutnya di sepanjang kepemimpinan beliau, tampak pula betapa kepatuhan beliau terhadap konstitusi; konstitusi tetap dipegang teguh dan dilaksanakan secara konsekuen dan konsisten. Hal ini berarti cita-cita untuk menegakkan negara hukum Pancasila telah beliau lakukan dan telah mendapat wujud pengamalan secara nyata. Dengan demikian kehausan kita akan Sikap disiplin nasional yang menghangat di akhir dasawarsa 1980 an, kiranya dapat bercermin pada sikap disiplin beliau terhadap kon titusi di segenap segi kehidupan kenegaraan dan kemasyarakat.

Sikap tegas beliau dalam menghadapi setiap bentuk penyimpangan terhadap konstitusi telah memberikan hasil-hasil secara nyata serta te ah dirasakan oleh rakyat banyak. Selain taraf hidup rakyat telah terasa semakin meningkat, derajat rasa tenteram masyarakat juga semakin meningkat, yang semakin tercermin dalam tata kehidupan yang stabil dan dinamis. Dengan memperhatikan kenyataan bahwa taraf hidup serta derajat rasa tenteram masyarakat semakin meningkat itu, maka semakin meyakinkan kita semua akan wujud pengamalan Pancasila baik sebagai dasar dan falsafah negara maupun sebagai sumber dari segala sumber hukum.

Sikap beliau yang seperti ini tidak hanya kita rasakan berlaku dalam bidang politik dan keamanan saja, tetapi dalam bidang ekonomi pun demikian pula halnya. Seperti kita semua rasakan bahwa dalam keadaan perekonomian dunia yang tidak menentu pada masa dasawarsa 1980-an, beliau tetap mampu mengendalikan kondisi ekonomi dalam negeri, sehingga bagi masyarakat luas tidak dirasakan adanya gejolak-gejolak yang berarti. Hal ini tentunya sangat ditentukan oleh sikap hati-hati beliau di saat pendapatan negara melimpah akibat boom minyak di masa dasawarsa 1970-an. Dalam kaitan ini kelebihan pendapatan itu justru diinvestasikan bagi peningkatan produksi pangan. Sikap hati-hati beliau inilah yang mengantarkan bangsa Indonesia kedalam kondisi swasembada pangan. Bahkan surplus produksi pangan yang kita capai pada akhirnya diakui dunia sebagai prestasi unggulan dalam skala internasional.

Keseluruhan sikap kepribadian tersebut, apabila kita telusuri lebih lanjut, nampaknya sangat dipengaruhi oleh sikap pribadi beliau dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari beliau senantiasa mengedepankan kesahajaan dan keharmonisan keluarga. Secara esensial kedua- hal tersebut justru merupakan unsur-unsur ketauladanan yang sangat diperlukan bagi peletakan landasan yang paling mendasar dalam mewujudkan ketahanan nasional. Dengan sendirinya kedua sikap kepribadian itu diharapkan dapat berperan sebagai pedoman berperilaku bagi seluruh rakyat Indonesia. Apalagi kalau diingat bahwa sebagai akibat revolusi informasi, pengaruh pergeseran nilai-nilai kehidupan di seluruh dunia sedang bergelombang dan ternyata telah mampu menembus batas-batas wilayah negara, ideologi, dan nilai-nilai budaya setiap bangsa.

Demikianlah kesan-kesan pribadi sejauh yang dapat saya tangkap melalui berbagai pertemuan formal selama masa jabatan saya. Dalam pada itu saya pun menyadari bahwa apa yang saya ungkapkan ini hanyalah bernilai sebagai kesan umum yang tidak lebih banyak dari apa yang dimiliki oleh kebanyakan rakyat Indonesia. Namun saya berharap mudah-mudahan dengan kesan yang bersifat umum inipun tidak akan mengurangi makna spiritual yang mengiringi ulang tahun beliau ke-70 dimana bagi seluruh rakyat Indonesia tentunya tetap mendambakan kelanjutan dan kesinambungan pembangunan nasional sebagai wujud pengamalan Pancasila. Kiranya pada saat-saat yang berbahagia seperti ini izinkanlah saya sebagai bagian dari seluruh rakyat Indonesia untuk memanjatkan doa, semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan rahmat-Nya agar beliau dikaruniai panjang usia, sehat dan sentosa serta bahagia bersama keluarga dan seluruh bangsa Indonesia

***



[1] Drs. Moch Sanoesi, “Menegakkan Negara Hukum Pancasila”, dikutip dari buku “Di Antara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 851-855.

[2] Jenderal Polisi; Kepala Kepolisian Republik Indonesia (1986-1991)

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: