Mei 172017
 

MEROSOTNYA AKHLAK PERTANDA KURANG

DIHAYATINYA AGAMA

Presiden Resmikan Masjid "Panglima Besar Sudirman"

Merosotnya akhlak suatu masyarakat adalah pertanda kurang dihayatinya agama secara baik. Hal seperti ini adalah tantangan bagi semua lembaga2 keagamaan, juga tantangan bagi masjid.

Berbicara pada peresmian Masjid Panglima Besar Soedirman di Cijantung, Kamis kemarin, Presiden Soeharto mengharapkan agar masjid memberikan perhatian sebesar2nya terhadap usaha pembinaan budi luhur masyarakat lewat pembinaan jamaahnya. Dikatakan, bagi kita kecerdasan dan budi luhur sama pentingnya.

Kecerdasan tanpa budi luhur sangatlah berbahaya. Sebaliknya budi luhur tanpa kecerdasan adalah tumpul, tak banyak gunanya.

Menurut Kepala Negara, dalam usaha membina kecerdasan bangsa usaha dibidang pendidikan harus terus menerus dikembangkan. Hal ini jelas tidak mungkin ditangani oleh Pemerintah semata-mata.

Sebagai bangsa yang kuat rasa keagamaannya, kehadiran sebuah rumah ibadah seperti masjid ini mempunyai arti yang penting Masjid adalah wahana untuk meningkatkan kesadaran dan mengembangkan kehidupan beragama. Dari dalam masjid dilahirkan suasana keagamaan yang makin meningkat hingga bangsa kita benar2 menghayati nilai rohaniah yang luhur.

"Dengan demikian bangsa kita merniliki ketahanan mental yang tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan dan kemajuan yang penuh dengan benturan nilai2 dan kepentingan ini," kata Presiden.

Presiden Soeharto menyatakan gembira diselenggarakan kegiatan pendidikan di sekitar dan di dalam lingkungan Masjid Panglima Besar Soedirman itu, sejak dari Taman Kanak2 sampai perguruan tinggi.

"Pendidikan adalah kegiatan yang sangat penting dalam usaha kita membina jemaah," ucap Kepala Negara.

Allahu Akbar

Diawal sambutannya Presiden Soeharto mengungkapkan peresmian masjid tersebut masih dalam suasana memperingati Hari Pahlawan. Dalam suasana seperti ini kita teringat peristiwa besar, yakni perlawanan habis2an dari rakyat Indonesia atas kekuasaan asing.

Sampai saat ini, semua pejuang masih tetap ingat bahwa semangat perjuangan yang menyala dan tidak pemah takut semangat yang membuat tanggal 10 November 1945 tercatat sebagai hari yang melambangkan kepahlawanan tidak dapat dipisahkan dari kalimat "Allahu Akbar", kalimat suci yang setiap kali dikumandangkan di masjid.

"Kesadaran bahwa hanya Tuhan Yang Maha Besar, membuat bangsa kita tidak mengenal gentar dan takut menghadapi musuh yang lebih kuat dan lebih lengkap persenjataannya," kata Presiden.

Nama Panglima Besar Soedirman itu, kata Presiden, nama seorang pahlawan nasional yang semangatnya senantiasa mengilhami kita untuk terns berjuang tanpa pamrih.

Dengan mengabadikan nama Panglima Besar Soedirman pada masjid ini, berarti kita membuktikan penghargaan dan penghormatan kita kepada tokoh besar itu.

Namun bagi kita, masjid bukan hanya sekedar tempat ibadah dalam arti hubungan dengan Tuhan semata saja. Masjid adalah pusat pembinaan jamaah. Karena itu kitapun harus mengisi masjid dengan berbagai kegiatan dan kemasyarakatan, demik:ian Presiden Soeharto.

"Hablun Minallah"

Menteri Agama Alamsjah Ratu Perwiranegara dalam sambutannya mengatakan, perkembangan tempat ibadah seperti Masjid Panglima Besar Soedirman akan lebih baik apabila didukung oleh konsepsi dan perencanaan yang menyeluruh selaras dengan fungsinya sebagai ternpat ibadah dan juga sebagai pusat pembinaan dan kegiatan ummat dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Masjid bagi ummat Islam selain tempat untuk melaksanakan kewajiban shalat dan amalan-amalan lain yang berupa perwujudan dari "hablum minallah", juga sebagai tempat kegiatan sosial ke masyarakatan atau "hablum minannas" yang dijiwai dan didorong oleh ajaran agama.

Sebagai pusat pendidikan non formal, masjid akan berperan efektif apabila diadakan pengarahan dan diarahkan se-baik2nya kepada kegiatan2 pengajian ataupun ceramah keagamaan, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus.

Badan pendiri masjid tersebut, A.A.Hadijaya dalam laporannya menyatakan, masjid tersebut dibangun sejak tanggal 30 November 1979 dan selesai 12 November 1981 dengan memakan biaya keseluruhan Rp 368 juta.

Tampak hadir dalam acara tersebut antara lain Menteri Kehakiman Ali Said SH, Mensesneg Sudharmono SH dan Gubernur DKI Tjokropranolo yang memberikan bantuan lewat APBD DKI Jaya sebesar Rp 258 juta, bantuan Presiden Soeharto Rp 100 juta serta swadaya masyarakat Rp 15 juta dengan luas tanah 2,5 hektar dan luas bangunan 1000 meter persegi berlantai dua. (DTS)

Jakarta, Pelita

Sumber: PELITA (03/11/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 509-511.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: