Feb 152018
 

MENTERI PERHUBUNGAN DITUGASKAN MENANGGULANGI KEMACETAN LALU LINTAS

 

 

Jakarta, Kompas

Di Jakarta Raya lalu lintas harian rata-rata kendaraan bermotor terhitung 30.000, padahal seharusnya 10.000 saja. Dengan kata lain, setiap hari secara pukul rata, jalan­ jalan di Ibu Kota kelebihan 20.000 kendaraan. Bayangkanlah betapa beratnya beban yang harus dipikul oleh jalan-jalan di Ibu Kota.

Di Jakarta Raya, 45 persen kendaraan pribadi mengangkut hanya 1 orang, 37 persen mengangkut 2 orang. 10 persen mengangkut 3 orang dan hanya 4 persen yang mengangkut lebih dari 4 penumpang.

Angka-angka itu dapat dibaca secara lain di Jakarta kendaraan pribadi merupakan 84 persen dari seluruh kendaraan di jalan raya, tetapi yang diangkut hanya 45 persen dari seluruh penumpang. Kendaraan umum hanya 4,2 persen , tetapi yang diangkut 55 persen dan seluruh penumpang. Sisanya 12 persen kendaraan truk.

Gambaran serupa dengan persentase yang hanya bervariasi sedikit, berlaku untuk kota-kota Surabaya, Bandung dan Medan. Di Medan jumlah kendaraan pribadi yang merupakan 82,4 persen dan seluruh kendaraan mengangkut 53 persen penumpang, sementara kendaraan umum yang berpersentase 9,7 mengangkut 47 persen penumpang.

APAKAH arti angka-angka kendaraan dan penumpang yang diberikan, semula oleh Dirjen Perhubungan Darat Ir. Giri S. Hadihardjono dalam ceramahnya di Universitas Trisakti dan kemudian diteguhkan pula oleh Menteri Perhubungan Ir. Azwar Anas setelah menghadap Presiden.

Setiap hari, di jurusan-jurusan yang semakin luas serta dalam, penumpang kendaraan di Ibukota mengeluh dan mengumpat karena jalan macet. Benar-benar macet, sampai tepi jalan, karena jika macet pengemudi semakin semrawut dalam memanfaatkan setiap ruangan dijalan. Akibatnya semakin macet.

Seorang rekan tanpa ditanya bilang dari rumahnya di daerah Pulomas ke kantornya di Palmerah makan waktu 1,5 jam ketika ia dalang terlambat menghadiri rapat.

Gubernur Wiyogo yang terkenal senantiasa tepat wak:tu pernah dalam suatu acara minta maaf datang terlambat, hari itu macet tidak seperti biasanya. Seorang kenalan setiap kali jalan macet, menunjukkan kebiasaan lain. Kemasgulan ditumpahkan pada sang sopir, jika sudah tidak tahan, kaki dihentak-hentakkan.

Sebentar lagi pasti akan keluar hasil penelitian, apa saja akibat psikosomatik kemacetan kecuali terlambat dan acara kacau , barangkali juga menambah tekanan darah tinggi naik,jantung berdebar kencang dan membahayakan fungsinya. Orang­ orang kota tambah senewen.

SlAPA yang bertanggungjawab atau apa penyebab kemacetan itu. Ternyata kita sendiri, artinya jika kita termasuk jumlah 84 persen yang menggunakan kendaraan pribadi, apalagi jika kita termasuk 45 persen yang menggunakan kendaraan pribadi dengan penumpang 1 orang saja.

Kalau marah, marahilah diri sendiri, kalau mengumpat, umpatilah diri sendiri. Tentu, kita akan protes dan mengatakan, kehadiran pribadi yang semakin banyak adalah akibat kebijakan transportasi kota yang tidak ada. Akibat transportasi umum bus, kereta bawah tanah yang tidak memadai.

Tidak seluruhnya benar. Kalau mau bersama-sama pergi ke kantor dengan rekan­rekan sekerja, sebagian persoalan dapat dipecahkan oleh kita sendiri. Kendaraan pribadi berpenumpang 1 orang 45 persen, yang berpenumpang 3 hanya 10persen, berpenumpang 2, terhitung 37 persen.

Mengapa Industri mobil terus memprodusir kendaraan pribadi bahkan bertambah merk. Setiap kali ada usaha menciutkan tetapi yang terlaksana setiap kali justru bertambah merk? Lihat saja, sebentar lagi pasti akan tambah merk lagi.

Apa yang harus dikatakan tentang masalah itu? Sudah begitulah dinamika berikut ekses dinamika industri mobil berdasarkan tarik menarik kepentingan atau sudah begitulah dinamika industri menurut pasar.

Tetapi dimana peranan perencanaan termasuk perencanaan industri, termasuk perencanaan dan kebijakan industri mobil? Terdapat kesan kecuali tidak memperoleh prioritas yang tinggi seperti ekspor nonmigas misalnya, rencana dan kebijakan industri mobil terombang-ambing oleh tarik-menarik kepentingan. Instansi dalam situasi itu tidak merumuskan kebijakan yang tegas dan konsisten tetapi menyesuaikan diri.

Tamu dari luar apalagi dari Korea Selatan setiap kali terheran-heran mengapa di Indonesia, amat banyak merk mobil, dari yang sederhana hingga yang luks.

Apakah dalam kebijakan merk mobil yang semrawut sejak semula tidak tercermin atau perencanaan yang tidak menyeluruh atau tercermin kategori almarhum Gunnar Myrdal, kita termasuk bangsa yang lunak bukan yang berkebudayaan keras.

SEBAGAI gejala kemasyarakatan, barangkali persoalan transportasi kota dapat kita pergunakan untuk memperolok diri kita sendiri.

Apakah kenyataan bahwa kendaraan pribadi lebih merajalela dari kendaraan umum menunjukkan kealpaan kita melaksanakan bahwa yang lebih penting adalah urusan umum, kepentingan orang banyak, bukan kepentingan perorangan. Apakah memang sudah terjadi atau sedang terjadi perubahan masyarakat kita tidak bergotong royong lagi melainkan berindividu, lu-lu, gue-gue.

Apakah semrawutnya para pemakai jalan raya, tukang becak, pengemudi ojek, mikrolet, bus, truk, mobil sedan adalah pertanda gejala yang oleh pemerintah dari masyarakat disebut sebagai tiadanya disiplin atau lemahnya disiplin. Cermin dari suatu masyarakat dalam peralihan.

Apakah kesemrawutan di jalan raya juga akibat tiadanya kebijakan tunggal dan konsisten antar instansi, sehingga yang ada ialah tumpang tindih. Yang satu merasa ini urusan instansi A dan instansi A merasa itu urusan instansi B, akibatnya semua instansi tidak sanggup menanganinya secara tuntas?

APA langkah kita selanjutnya? Kepada Menteri Perhubungan Ir Azwar Anas, Presiden Soeharto rnenugaskan agar menanggulangi kemacetan lalu lintas kota-kota besar.

Dapatkah untuk seterusnya, dipegang dan dijabarkan adanya suatu kebijakan tunggal dan konsisten, adanya koordinasi, adanya langkah-langkah yang diambil secara konsekuen setelah masalah yang kompleks itu dipelajari secara mendalam.

Harapan ada. Untuk sementara, dalam hari-hari ini dan beberapa waktu lagi, kita masih akan dirundung kemacetan lalu lintas. Tetapi harapan dan usaha mewujudkan harapan ada.

 

 

Sumber : KOMPAS (31/04/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 727-729.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: