MENRISTEK MENERIMA DPR & PENGUSAHA AS DI JKT

MENRISTEK MENERIMA DPR & PENGUSAHA AS DI JKT

 

 

Para pengusaha Amerika Serikat sebenarnya tidak usah mengkhawatirkan Indonesia akan melalaikan ketentuan di bidang hak cipta dan paten, karena sebenarnya Indonesia sudah menerapkan kebiasaan tak melalaikan soal hak cipta dan paten itu.

Jaminan tersebut dikemukakan Menteri Negara Ristek/Ketua BPP Teknologi Prof B.J Habibie ketika menerima para anggota DPR dan pengusaha AS di Jakarta Selasa.

Ia mengatakan beberapa perusahaan strategis seperti IPTN, PT. PAL, Pindad sudah memberikan royalty ataupun fee kepada yang berhak.

“Anda bisa mencek kepada beberapa perusahaan AS sendiri seperti Boeing, yang selama ini sudah menjalin kerja sama dengan IPTN,” kata Habibie ketika seorang pengusaha mempertanyakan masalah hak paten dan hak cipta yng lazim disebut “intellectual property rights.”

Untuk membuktikan kesungguhan Indonesia, Habibie juga mengungkapkan adanya instruksi Presiden Soeharto kepada Menteri Muda/Sekretaris Kabinet Drs. Moerdiono agar mengkoordinasikan penyusunan ketentuan di bidang ini.

Akan tetapi, ia membenarkan adanya berbagai barang yang masih sulit untuk diperiksa apakah kepada yang berhak sudah diberikan fee ataupun royalty.

“Kaset lagu The Beatles atau Frank Sinatra yang di Indonesia dijual dengan harga paling-paling satu dolar dan 1,5 dolar AS/buah sulit untuk dilacak apakah kepada produsennya sudah dliberikan imbalan”, kata Habibie ketika memberi contoh Para tamunya menjadi mengangguk-angguk.

Ada Peluang Besar

Ketika berbicara tentang peluang bagi para pengusaha AS yang sebagian besar bergerak dalam bidang telekomunikasi itu yang bertemu dengan Habibie, untuk mengadakan investasi di Indonesia, Ketua BPPT menjelaskan peluangnya cukup besar baik dalam sektor telkom ataupun lainnya.

Indonesia, katanya, membutuhkan tambahan sambungan telepon dalam jumlah yang anoat besar untuk memenuhi permintaan masyarakat yang terus melonjak secara drastis.

Dicontohkannya, jika satu satuan sambungan (SS) telepon membutuhkan biaya pemasangan 200 dolar maka untuk 200.000 SS saja sudah terbuka peluang bisnis tidak kurang dari 200 juta dolar.

Indonesia selama ini sering bekerja sama dengan beberapa perusahaan Eropa seperti Philips dan Siemens, namun peluang bagi pengusaha-pengusaha dari negara lain termasuk AS tetap terbuka.

Ia juga menyebutkan sebuah perusahaan AS yakni Union Oil dari California membangun pembangkit tenaga listrik di Gunung Salak Bogor yang kemudian dijual kepada PLN untuk didistribusikan kepada para pelanggannya.

Ketika berpamitan, beberapa pengusaha nampak memberikan kartu nama mereka.Salah seorang anggora rombongan ternyata teman sekolah Habibie di Bandung tahun 1950-an dania masih bisa berbahasa Indonesia. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (13/01/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 366-367.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.