Sep 222017
 

MENPEN HASIL SIDANG KABINET TERBATAS EKUIN

 

 

 

Jakarta, Antara

Usaha pembuatan arang tempurung kelapa yang dapat dilakukan rakyat dengan alat-alat sederhana ternyata memiliki prospek baik karena permintaan dunia cukup besar, kata Menteri Penerangan Harmoko hari Rabu.

Ketika menjelaskan hasil sidang kabinet terbatas bidang Ekuin di Bina Graha Jakarta, Menpen mengemukakan kebutuhan dunia akan arang tempurung kelapa minimal 2.400 ton per tahun.

Ia mengatakan, di Aceh, terdapat perkebunan kelapa rakyat seluas 89.000 hektar dengan potensi arang tempurung seribu ton per bulan. Di daerah tersebut telah dibina 230 pengrajin arang, dengan kemampuan produksi 200 ton/bulan dan akan ditingkatkan menjadi 500 ton/bulan.

PT Inakarbon, anak perusahaan PT Pupuk Iskandar Muda, pada September ini akan mengekspor 50 ton arang tempurung ke lnggeris dengan harga 56 dolar AS per ton. Sedang harga pembelian dari pengrajin rata-rata Rp 60,00 per kilogram.

Sulawesi Tengah memiliki kebun kelapa rakyat 134.400 hektar dengan potensi arang 1.300 ton/bulan. Pada 9 Agustus lalu daerah itu telah mengekspor arang tempurung 20 ton ke Jepang, dengan harga pembelian dari pengrajin rata-rata Rp 75,00/kg.

“Dengan kenyataan  ini kita dapat simpulkan usaha arang tempurung punya prospek baik dan dapat dikembangkan di daerah-daerah lain,”. Dalam sidang kabinet yang dipimpin Presiden Soeharto itu dilaporkan bahwa jumlah uang beredar sampai Juni 1987 mencapai Rp 12.001 milyar. Sedang laju inflasi bulan Agustus lalu tercatat 0,54 persen. Bila dilihat secara tahun anggaran, inflasi itu 3,17 persen dan tahun takwim 4,70 persen.

Neraca perdagangan Indonesia pada Juni 1987 sementara mencatat surplus 247 juta dolar AS, berasal dari selisih nilai ekspor 1.421,8 juta dolar dan nilai impor 1.174,8 juta dolar. Dilaporkan pula bahwa pengadaan barang-barang strategis seperti semen, pupuk, minyak goreng, kertas, garam dan besi-baja untuk periode Agustus sampai Nopember tetap mantap, kata Menpen.

Harmoko mengatakan bahwa dalam sidang itu juga dilaporkan usaha pemberantasan hama babi dengan bantuan dari para pemburu anggota Perbakin. Sementara itu Perindustrian Angkatan Darat (Pindad) telah membuat peluru khusus untuk babi sebanyak 500.000 butir, katanya.

“Ternyata pemburuan babi ini mendatangkan hasil, dengan mengekspor dendeng daging babi ke Singapura,” katanya. Presiden memerintahkan agar pemberantasan hama babi yang di beberapa daerah cukup merugikan rakyat, seperti di Bengkulu, Jambi dan Sumsel, terus ditingkatkan.

Dalam sidang itu Presiden juga memerintahkan Menteri KLH Emil Salim agar menelaah cara-cara penanggulangan serangan gajah ke lahan pertanian dan rumah penduduk di sejumlah daerah di Sumatera.

Menpen mengakui, tidak mudah mencegah serangan gajah liar itu. “Pak Emil diperintahkan untuk mencari cara terbaik, yaitu tidak boleh membuat punah gajah tapi juga tidak merusak lingkungan,” Sebelum sidang dimulai, Presiden menjelaskan kepada para menteri tentang “jam kependudukan” yang diterimanya hari Senin dari suatu lembaga PBB.

Pada waktu jam digital itu diperlihatkan oleh Harmoko kepada wartawan, terbaca jumlah penduduk Indonesia saat itu 173.006.523 orang, sedang penduduk dunia 5.011 juta jiwa. (LS)

 

 

Sumber: ANTARA (02/09/1987)

 

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 519-520.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: