Agu 222017
 

MENLU RI MOCHTAR SIKAP PORTUGAL THD TIMTIM

 

 

Ketika berbicara dengan wartawan sesudah melaporkan kepada Presiden Soeharto di Istana Merdeka, Menlu Mochtar memberikan pendapat tentang sikap pemerintahan Portugal yang baru pimpinan PM Anibal Cavaco Silva bahwa mereka ingin menyelesaikan secara terhormat masalah Timor Timur dan bukannya dengan penentuan nasib sendiri seperti yang selama ini dituntut pemerintahan-pemerintahan terdahulu.

“Itu memang ucapan yang sangat menarik dan sedang kita kaji. Ini mungkin ada hubungannnya dengan artikel-artikel yang ditulis oleh seorang wartawan Portugal yang diundang (pemerintah Indonesia, red) ke Timtim baru-baru ini,” demikian Menlu.

Wartawan dari Mingguan Tempo yang terbit di Lisabon bernama Nuno Rocha ini dikenal mempunyai hubungan yang erat dengan pemerintahan yang baru dan juga pimpinan Partai Sosial Demokrat.

Dalam tulisannya yang terbit pada bulan Agustus ini, Rocha menulis bahwa pemerintahan kolonial Portugal tidak berbuat apa-apa selama masa penjajahan 450 tahun.

Selain itu, para pejabat militer Portugal yang beraliran kiri pada saat itu jelas-jelas berpihak pada Fretilin dengan memberikan senjata, padahal langkah ini merugikan pihak lainnya. Ia juga menulis pemerintah Portugal dibawah kendali Gerakan Militer Baru berusaha menjadikan Timtim sebagai salah satu negara merdeka yang pro Uni Sovyet.

“Tetapi sebenarnya tidak ada kemungkinan Timtim menjadi sebuah negara merdeka yang bisa berdiri sendiri,” demikian Mochtar yang mengutip salah satu bagian tulisan Rocha. Indonesia, demikian wartawan Portugal, mengirimkan tentara untuk memulihkan keamanan dan ketertiban serta membantu rakyat setempat yang menderita kelaparan.

Rocha lebih lanjut menulis dalam artikelnya yang banyak dikutip di negara-negara lain bahwa sekarang kenyataanya rakyat Timtim hanya bisa bahagia kalau berintegrasi dengan Indonesia.

Apabila 500 tentara Fretilin tidak bersedia menyerah kepada Indonesia maka ia menganjurkan agar Portugal menawarkan mereka tinggal disana atau mencari negara ketiga yang bersedia menampungnya.

Ia juga menganjurkan agar Portugal memulihkan hubungan diplomatiknya dengan Indonesia yang tetap menghormati harta benda milik orang Portugal. “Ini adalah hal penting,” kata Mochtar. (RA).

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (31/08/1987)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 223-224.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: