Jan 192018
 

MENLU RI-MALAYSIA BAHAS LANGKAH ASEAN MENGENAI KAMPUCHEA

 

 

Jakarta, Antara

Menteri Luar Negeri Malaysia Abu Hassan Omar tiba di Jakarta Jumat siang untuk mengadakan kunjungan dua hari guna membahas langkah-langkah ASEAN dengan rekannya dari Indonesia, mengenai penyelesaian masalah Kampuchea.

Berbicara kepada wartawan di bandara Soekarno Hatta, Abu Hassan yang dijemput Dirjen Politik Deplu John Louhanapessy itu, mengatakan, dia akan bertukar pikiran dengan Menlu Ali Alatas mengenai perkembangan terakhir masalah Kampuchea dan langkah-langkah yang harus diambil ASEAN dalam mengantisipasi perkembangan itu.

Selain itu, katanya, ia juga akan mendengarkan penjelasan Menlu Alatas tentang hasil kunjungannya ke Uni Soviet dan Perancis.

Pembicaraan itu akan dilangsungkan di Deplu Sabtu setelah ia mengadakan kunjungan kehormatan kepada Presiden Soeharto.

Kepada Presiden Soeharto, ia juga akan menyampaikan surat dari Perdana Menteri Malaysia Mahatir Mohammad.

Menurut Abu Hassan, yang berbicara dalam bahasa Melayu, ia juga akan bertukar pikiran dengan Alatas mengenai langkah-langkah mengatasi masalah pengungsi Vietnam.

Malaysia, katanya, telah mengusulkan agar konferensi internasional mengenai masalah pengungsi itu diselenggarakan di Jenewa pada tanggal 13-14 Juni.

ASEAN memang telah sepakat untuk tidak lagi menjadi tempat persinggahan bagi para pengungsi Vietnam tersebut. Tapi, kata Abu Hassan Omar, “kita ingin menyelesaikan masalah itu secara menyeluruh di konferensi intemasional itu.”

Selain itu, kedua pejabat tinggi negara bertetangga itu, juga akan bertukar pikiran mengenai rencana pertemuan para menlu ASEAN di Brunei bulan Juli mendatang. Pertemuan Menlu itu akan diikuti dengan pertemuan dengan negara-negara rekan dialog, yaitu Amerika Serikat, Jepang, Selandia Baru, Australia, Kanada, dan MEE.

 

 

Sumber : ANTARA (02/06/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 173-174.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: