Sep 012017
 

MENKEU HARAP PRODUKSI MURAH BEA MASUK TURUN

 

 

Menteri Keuangan Radius Prawiro sangat mengharapkan agar para produsen yang memperoleh keringanan bea-masuk atau kelonggaran tata niaga atas impor bahan bakunya, dapat menjual hasil produksinya lebih murah di pasaran dalam negeri.

“Berdasarkan berita-berita di media massa, sudah banyak barang produksi Indonesia yang harganya dapat lebih bersaing dipasaran luar negeri, setelah pemerintah memberi keringanan bea-masuk atas impor bahan bakunya. Kalau untuk ekspor mereka sudah bersaing, harapan saya adalah supaya pengaruh tersebut juga ada bagi pasaran dalam negeri, artinya harganya juga mesti turun,” kata Menkeu hari Senin.

Setelah melapor kepada Presiden Soeharto di Bina Graha, Menkeu mengungkapkan harapan pemerintah agar kebijaksanaan keringanan bea masuk dan pelonggaran tata niaga atas sejumlah bahan baku impor tidak saja berpengaruh kepada harga untuk tujuan ekspor, tapi juga harga di pasaran dalam negeri.

“Supaya masyarakat kita juga memperoleh dampak positif dari kebijaksanaan pemerintah itu,” Ujarnya.

Ketika wartawan mengemukakan bahwa berdasarkan pengalaman selama ini hampir tidak pernah ada harga turun, Menkeu mengatakan, “Ini pertanyaan mendasar atau hanya kira-kira ?”.

Ia menjelaskan, ada faktor-faktor lain yang dipertimbangkan produsen untuk menetapkan harga misalnya tingkat inflasi.

“Kalau mau mengoreksi harga dengan keras, harus dengan deflasi. Tapi ini akan menimbulkan dampak negatif pada penciptaan lapangan kerja”, ujarnya.

Pemerintah katanya, pada pokoknya berupaya agar harga-harga tidak naik. Kenaikan harga bisa ditimbulkan oleh kelangkaan barang. Maka harus diusahakan supaya tidak terjadi kelangkaan, artinya yang tidak bisa dilaksanakan importer tertentu, karena misalnya keterbatasan dana, maka ada importer lain yang melaksanakan, tambahnya.

Kepada Presiden, Menkeu melaporkan pengaruh serangkaian kebjaksanaan pemerintah yang telah diambil di bidang ekonomi, antara lain paket 6 Mei 1986, paket 25 Oktober 1986 dan paket 15 Januari 1987.

Berdasarkan paket 6 Mei yang berlaku efektif mulai Juni 1986, pemerintah telah memberikan kesempatan impor dengan kemudahan bagi bahan baku atau bahan penolong senilai 271 juta dolar AS. Sedang barang impor dengan pembebasan bea­masuk senilai 335 juta dolar AS.

Barang-barang tersebut diberikan kemudahan impor atau pembebasan bea­masuk karena hasil produksinya nanti akan diekspor kembali.

Nilai bea-masuk yang terlibat dalam kegiatan impor untuk kemudian diekspor kembali hingga tidak perlu membayar bea-masuk itu, menurut Menkeu, berjumlah 101 juta dolar. Sedang pajak pertambahan nilai (PPpn) impor berjumlah 40,6 juta dollar.

Berdasarkan kebijaksanaan 25 Oktober 1986, sejumlah 306 jenis barang tarifnya diubah, sedang berdasarkan kebijaksanaan 15 Januari sejumlah 103 jenis barang dibebaskan tata niaganya.

Menurut Radius, volume impor barang-barang yang memperoleh perubahan tarif bea-masuk berdasarkan kebijaksanaan 25 Oktober dan 15 Januari itu mencapai nilai 1,8 miliar dolar AS Sedang volume impor yang mernperoleh pembebasan tata niaga, berdasarkan kebijaksanaan 15 Januari 1987, bernilai total 2,4 miliar dollar. Sementara yang diperlunak bernilai 300 juta dolar. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (26/01/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 376-377.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: